Skip navigation

Otak kanan

Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Orang Mesir kuno dipercaya telah menemukan bahwa sisi kiri otak ternyata mengatur bagian kanan tubuh kita, sedangkan sisi kanan otak bertugas untuk mengatur bagian yang sebaliknya, yaitu bagian kiri tubuh kita.

Pada tahun 1962 seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Belahan otak kiri lebih bersifat harfiah yakni berhubungan dengan logika, analisa, bahasa, rangkaian (sequence) dan matematika. Jadi belahan otak kiri berespons terhadap masukan-masukan di mana dibutuhkan kemampuan mengupas/meninjau (critiquing), menyatakan (declaring), menganalisa, menjelaskan, berdiskusi dan memutuskan (judging). Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika.

Belahan otak kanan bersifat metaforis yaitu berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Jadi belahan otak kanan berfungsi kalau manusia menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan aktivitas motorik lainnya. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam hampir semua proses pemikiran.

Dalam belajar, anak otak kanan perlu merekam dahulu sebelum melakukan eksekusi persoalan, dan proses perekaman itu pada tahap awal memerlukan waktu sekitar 10 detik dan jika sudah terbiasa waktunya hanya 1 atau 2 detik saja, sementara otak kiri langsung mengeksekusi baru kemudian merekam.

Otak kanan mempunyai fungsi dan cara belajar yang khusus yaitu:

  1. Lebih suka dengan hal-hal yang bersifat acak

  2. Belajar maksimal dari hal–hal yang bersifat global dulu, baru kemudian ke hal-hal yang bersifat detail

  3. Lebih menyukai sistem membaca yang bersifat menyeluruh (whole language)

  4. Menyukai gambar dan grafik

  5. Lebih suka melihat dulu atau mengalami sesuatu

  6. Ingin mengumpulkan informasi mengenai hubungan antara berbagai hal

  7. Lebih menyukai lingkungan belajar yang bersifat spontan dan alamiah

  8. Mengalami lebih banyak fokus eksternal

  9. Ingin pendekatan yang bersifat terbuka, baru, dan memberikan kejutan-kejutan yang menantang

Cara berpikir otak kanan sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui hal-hal yang bersifat non-verbal seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkaitan dengan perasaan, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, kreativitas, musik, seni, serta kepekaan warna. Selama ini pengajaran di sekolah-sekolah lebih menekankan pada pengembangan otak kiri. Namun, peran otak kanan kini mulai diperhitungkan karena kalau kita dapat memberdayakan otak kanan yang sarat akan hal-hal yang bersifat eksperimental, divergen, bukan penilaian, metaforikal, intuitif, difusi, holistik, reseptif, subjektif dan non-verbal ini, maka ada kecenderungan bahwa kita akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.

Hasil penelitian baru yang dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace Collage di Berea, Ohio, mengatakan bahwa anak-anak yang orangtuanya benar-benar membiarkan anaknya akan menjadi lebih kreatif jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka.

Kreativitas

Menurut kamus Webster, kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang ditandai dengan orisinalitas dalam berekspresi yang bersifat imajinatif. Yang paling menonjol dalam kreativitas adalah orisinalitas. Artinya adalah bahwa suatu produk, proses, atau orangnya mampu menciptakan sesuatu yang belum diciptakan oleh orang lain.

Ciri-Ciri Anak Kreatif

Anak kreatif memiliki ciri-ciri tersendiri. Biasanya, anak yang kreatif memilki sifat-sifat seperti : selalu ingin tahu, memiliki minat ynag sangat luas, dan suka melakukan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja yang kreatif biasanya cukup mandiri dan percaya diri.

Berbicara masalah kreativitas, biasanya orang mengaitkan dengan inovasi. Ada kreatif, dan ada pula inovatif. Kalau kreativitas biasanya yang menonjol adalah orisinalitasnya. Sedangkan dalam inovasi, yang terjadi adalah semacam proses penyempurnaan suatu produk atau proses yang sudah ada. Jadi perbedaan utama kreativitas dan inovasi adalah bahwa inovasi harus sudah ada produk atau prosesnya, kemudian dibuat lebih praktis, murah, menarik, cantik, atau secara menyeluruh lebih menarik.

Menurut para ahli, anak yang kreatif memiliki spontanitas dan energi yang luar biasa. Mereka memiliki sifat sebagai petualang. Pribadi yang kreatif biasanya memiliki rasa humor yang tinggi, deapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut, serta memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu ide yang baru, konsep-konsep atau keinginan yang diimajinasikan yang dituangkan menjadi berbagai penemuan, karya sastra atau seni.

Mengembangkan Kreativitas Anak Sejak Dini

  1. Bangunlah minat untuk beraktivitas di alam terbuka, seperti senam di alam terbuka, memancing, sepeda santai, dan jogging.

  2. Rangsanglah otak kanan anak melalui kegiatan music and movement (gerak dan lagu) atau dengan memainkan alat musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama. Dengarkan muisk atau radio dengan memejamkan mata.

  3. Latihlah diri anak dengan berpikir divergen (menyebar), meloncat-loncat, dan mendengarkan hal-hal yang jenaka.

  4. Lakukan dengan pendekatan keagamaan, yakni dengan mengingat Yang Maha Pencipta di dalam hati. Bagi seorang yang beragama Islam, dzikir, sholat tahajjud, puasa serta melakukan amalan-amalan sunnah lainnya terbukti dapat mencerdaskan otak belahan kanan. Bagi yang menganut agama Islam, ajarilah anak untuk taat menjalankan ibadah sholat dan ibadah lainnya sejak anak usia dini.

Peran Orangtua dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Peran orangtua yang tepat dalam memupuk kreativitas anak akan menentukan tingkat kreativitas anak. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas anak ini menurut Prof. Dr. S.C. Utami Munandar Dipl. Psych. Adalah melalui pendekatan empat P yang meliputi aspek pribadi, pendorong, proses dan produk.

  • Pribadi. Sebagai orangtua atau pendidik, hendaknya menyadari bahwa setiap anak merupakan pribadi yang unik, yang tidak sama antara anak yang satu dengan anak yang lain. Menyamakan anak yang satu dengan anak yang lain berarti mengingkari anak sebagai individu yang tentunya mempunyai keunikan tersendiri. Kreativitas merupakan ungkapan dari keunikan individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

  • Pendorong. Orangtua hendaknya selalu memberikan dorongan dan dukungan kepada anak agar bakat kreatif yang dimiliki oleh setiap anaknya dapat berkembang. Ada dua macam dorongan, yaitu dorongan dan dukungan yang bersifat eksternal maupun yang bersifat internal. Dorongan yang bersifat eksternal adalah pendorong dari luar diri individu seperti pujian, lingkungan yang menghargai sedangkan motivasi yang bersifat internal merupakan hasrat dan motivasi yang kuat yang berasal dari anak itu sendiri.

  • Proses. Kreativitas itu memerlukan proses. Di dalam proses menjadi kreatif, di sini lebih ditekankan pada kegiatan menyibukkan diri secara aktif. Artinya kreativitas lebih ditinjau dari aspek kegiatan bermain dengan gagasan-gagasan dalam pikiran tanpa terlalu menekankan pada apa yang dihasilkan oleh proses tersebut. Dalam hal ini, yang penting adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif.

  • Produk. Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan dan menghasilkan produk-produk baru. Pengertian baru di sini tidak harus selalu baru sama sekali. Akan tetapi, dapat pula berupa kombinasi dari beberapa hal yang sebelumnya belum pernah ada.

Masa Peka Anak, Masa Mengoptimalkan Imajinasi dan Kreativitas Anak

Semenjak anak lahir ke dunia, di dalam otaknya sudah terdapat semua kecerdasan yang tinggi. Perawatan yang baik selama lebih dari tujuh tahun pertama kehidupan manusia dapat mengungkap kecerdasan tersebut. Beberapa hal yang harus dipenuhi agar kecerdasan tersebut dapat terawat dengan baik meliputi :

  1. Struktur syaraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energi dapat meningkat ke tingkat yang lebih tinggi.

  2. Anak harus merasa aman, tidak tertekan baik secara fisik maupun emosional.

  3. Harus ada model yang memberikan rangsangan yang wajar.

Anak yang berusia nol sampai enam atau tujuh tahun merupakan masa-masa yang sangat menentukan bagi masa depannya. Hal ini bukan berarti menganggap sepele masa-masa sesudahnya. Anak setelah melewati usia masa peka tersebut tetap perlu mendapatkan perhatian dari orangtua untuk mengembangkan kreativitas anak. pengasuhan dan pendidikan anak pada masa peka ini sangat ditekankan karena pada masa tersebut otak kanan berkembang dengan pesatnya dan mampu menyerap banyak informasi, bagai sebuah spon. Oleh karena itu, orangtua dituntut bijak dalam mengasuh dan mendidik anaknya agar kecerdasan dan kreativitasnya berkembang dengan baik.

Bermain

1. Karakteristik Bermain Anak.

Pada hakikatnya anak selalu termotivasi untuk bermain. Artinya bermain secara alamiah memberi kepuasan pada anak. Melalui bermain bersama dalam kelompok atau sendiri tanpa orang lain, anak mengalami kesenangan yang lalu memberikan kepuasan baginya.

Beberapa karakteristik bermain anak yaitu :

  1. bermain relatif bebas dari aturan-aturan, kecuali anak-anak membuat aturan mereka sendiri;

  2. bermain dilakukan seakan-akan kegiatan itu dalam kehidupan nyata (bermain drama)

  3. bermain lebih memfokuskan pada kegiatan atau perbuatan dari pada hasil akhir atau produknya

  4. bermain memerlukan interaksi dan keterlibatan anak-anak.

2. Arti bermain bagi anak

  1. Anak memperoleh kesempatan mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya.

  2. Anak menemukan dirinya, kekuatan dan kelemahannya, kemampuan serta juga minat dan kebutuhannya.

  3. Memberikan peluang bagi anak untuk berkembang seutuhnya, baik secara fisik, intelektual, bahasa, psikososial serta emosional.

  4. Anak terbiasa menggunakan seluruh aspek pancaindranya sehingga terlatih dengan baik.

  5. Secara alamiah memotivasi anak untuk mengetahui sesuatau lebih mendalam lagi.

3. Manfaat Bermain bagi Anak

  1. Bermain memicu kreativitas

Dalam lingkungan yang aman dan menyenangkan, bermain memacu anak menemukan ide-ide serta menggunakan daya khayalnya. Hasilpenelitian mendukung dugaan bahwa bermain dan kreativitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas mengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol (Spodek & Sarcho dalam Montolalu). Saat anak menggunakan daya khayalnya dalam bermain, dengan atau tanpa alat, mereka lebih kreatif.

2. Bermain bermanfaat mencerdaskan otak

Bermain merupakan sebuah media yang sangat penting bagi proses berpikir anak. Bermain membantu perkembangan kognitif anak. Bermain memberi kontribusi pada perkembangan intelektual atau kecerdasan berpikir dengan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya cara berpikir mereka.

3. Bermain bermanfaat menanggulangi konflik

Perilaku yang sering muncul saat usia TK adalah perilaku menolak, bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerjasama, egois, simpatik, marah, ngambek dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka. Dapat dimengerti bahwa periode ini dapat memunculkan konflik, namun perilaku tersebut diatas diperlukan pemunculannya untuk mengarahkan anak-anak yang asosial dan egois menjadi mahkluk-makhluk sosial.

4. Bermain bermanfaat untuk melatih empati

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadan perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati merupakan faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati anak dapat merasakan penderitaan orang lain. Dengan mengembangkan empati, anak akan pandai menempatkan dirinya dan perasaan dirinya dan perasaan oarang lain dan akan mengembangkan tenggang rasa.


5. Bermain bermanfaat mengasah pancaindra

Pancaindra merupakan alat vital yang perlu diasah sejak anak masih bayi. Tujuannya agar anak menjadi lebih tanggap dan lebih peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya.

6. Bermain sebagai media terapi (pengobatan)

Freud mengemukakan bahwa anak menggunakan bermain sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasannya. Berawal dari teori ini para ahli mengunakan bermain sebagai alat diagnosis mengobati anak bermasalah, yang dikenal dengan terapi bermain.

7. Bermain itu melakukan penemuan

Ini artinya bermain dapat menghasilkan ciptaan baru. Saat sedang bermain anak-anak sedang menciptakan sesuatu baru, sesuatu yang belum pernah ia ciptakan.

DAFTAR PUSTAKA

Purnomo,S.Y. 2007. Mengenal Rahasia Kecerdasan Otak Shuang Guan Qi Xia. Surabaya: SGQX Literature

Gunawan, Adi W. 2004. Born to Be a Genius. Jakarta: Gramedia

Pamilu, Anik. 2007. Mengembangkan Kreativitas dan Kecerdasan Anak. Yogyakarta: Citra Media

Silberg, Jackie. 2006. 300 Smart Games for Smart Brain. Jakarta: Erlangga

Montolalu dkk, 2007. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: