Skip navigation

Category Archives: psikologi

Depresi
a.    Definisi Depresi
Webster Dictionary (dalam Maurus, 2009, h. 23) mengartikan depresi sebagai suatu kondisi emosional yang bersifat normal atau patologis, yang ciri khasnya ialah rasa kecil hati, rasa tidak mampu, dan sebagainya.
Tidak jauh beda dengan pengertian tersebut adalah pengertian dalam bidang klinis (dalam Maurus, 2009, h. 24) yang menyatakan bahwa depresi adalah rasa sedih yang dalam dan menyakitkan, biasanya disertai dengan rasa bersalah dan mengasihani diri sendiri.
Sedangkan menurut APA (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 230), diagnosis dari gangguan depressive mayor (major depressive disorder) (juga disebut depresi mayor) didasarkan pada munculnya satu atau lebih episode mayor tanpa adanya riwayat episode manik (manic) atau hipomanik (hypomanic). Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa atau terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah kondisi atau keadaan emosional berupa episode mood depresif yang ditandai dengan perasaan sedih, terpuruk, putus asa, rasa bersalah, mengasihani diri sendiri, dan kehilangan minat dalam berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit dua minggu.

b.    Jenis-Jenis Depresi
Para psikolog dan psikiater (dalam Maurus, 2009, h. 24) membedakan dua jenis depresi. Jenis pertama, depresi reaktif, adalah depresi yang ditimbulkan oleh faktor eksternal yang bisa saja hanya terjadi sekali dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Depresi semacam ini dapat diatasi secara mudah melalui saran yang membangkitkan semangat, teman yang menyenangkan, simpati dari orang yang tercinta, penghiburan, kepedulian dari keluarga, dll.
Jenis kedua, depresi endogenous, adalah depresi yang muncul dari dalam pikiran. Depresi ini berhubungan dengan beberapa faktor bikimia tubuh. Depresi endogenous dapat dipandang sebagai gejala neurosis atau psikosis.
Dari dua jenis depresi di atas, yaitu yang berasal dari dalam dan dari luar, terdapat beberapa ahli yang membagi depresi endogenous menjadi dua sehingga menjadi tiga jenis. Kartono (2002, h. 161) menyatakan bahwa pada umumnya orang membedakan tiga jenis depresi, yaitu:
Depresi reaktif
Adalah depresi sebagai reaksi dari suatu bencana dalam hidup yang merupakan trauma psikis, dan langsung muncul sesudah trauma tadi berlangsung; biasanya disebabkan oleh karena pasien ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya.
Supratiknya (1995, h. 68) memasukkan depresi reaktif ke dalam gangguan afektif ringan. Salah satu jenis gangguan penting yang termasuk dalam kategori ini adalah depresi normal, yakni dukacita (grief) atau kepedihan. Gangguan ini merupakan proses psikologis mengikuti pengalaman ”kehilangan” (loss) sesuatu yang berharga, seperti kematian seorang kekasih, putus cinta, perceraian, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya.
Seseorang yang dilanda depresi normal semacam ini biasanya menunjukkan beberapa ciri atau tanda sebagai berikut: tidak bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa lain yang secara normal akan membangkitkan respons yang kuat, tenggelam dalam fantasi tentang situasi yang menimbulkan kepuasan, tetapi sudah berlalu, dan akhirnya kembali mampu memberikan respons terhadap dunia luar, kesedihan berkurang, gairah bangkit kembali, dan kembali melibatkan diri dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan kata lain, depresi reaktif melibatkan tiga variabel psikologis pokok, yaitu (a) ketergantungan, dimana penderita merasa butuh bantuan atau dukungan dari orang lain, (b) kritik diri, dimana penderita membesar-besarkan kesalahan atau kekurangan yang ada pada dirinya, dan (c) inefficacy, yaitu perasaan tidak berdaya.
Depresi neurotis
Adalah depresi yang timbul disebabkan oleh mekanisme pertahanan diri dan mekanisme pelarian diri yang keliru, dan muncul kemudian banyak konflik-konflik intrapsikis.
Depresi neurotis bisa timbul oleh sebab-sebab yang sepele/remeh danm peristiwa biasa, yang pada orang normal dan sehat tidak mungkin  bisa memunculkan depresi. Pada orang-orang neurotis dengan struktur kepribadian yang rapuh dan labil, depresi mudah muncul.
Supratiknya (1995, h. 68) menggolongkan depresi neurotik ke dalam gangguan afektif neurotik. Dalam kasus ini penderita bereaksi terhadap situasi yang menekan kesedihan dan kepatahan hati yang luar biasa dan (sering) tidak dapat dipulihkan sesudah sekian lama. Secara lebih rinci, penderita gangguan ini akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: putus asa, sedih, tak bersemangat, tingkat kecemasan tinggi, aktivitas diri berkurang, selera dan gairah menghilang, prakarsa menghilang, mengeluh sulit berkonsentrasi, susah tidur serta suka terjaga di tengah malam dan tidka dapat tertidur kembali, merasakan keluhan-keluhan somatik tertentu, merasa tegang, gelisah, dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap lingkungan sosial, tidak mampu mengerjakan tugas-tugas dan senang memandang dengan tatapan kosong.
Depresi psikogen
Adalah depresi yang disebabkan salah masak/olah yang patologis sifatnya dari peirstiwa dan pengalaman-pengalaman sendiri, oleh pribadi yang bersangkutan.
Menurut Supratiknya (1995. h. 68), depresi psikogen masuk ke dalam golongan gangguan psikosis afektif. Gangguan ini berbeda dengan depresi neurotik hanya dalam dua hal. Pertama, gangguan ini mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderita. Kedua, penderita kehilangan kontak dengan realitas.
Ada beberapa jenis yang termasuk ke dalam kategori psikosis afektif (Supratiknya, 1995, h. 86), yaitu:
(a)    Gangguan depresi mayor subakut
Ciri-ciri: semangat hidup menghilang, aktivitas mental maupun fisik menjadi lamban, dibutuhkan uasaha keras untuk melaksanakan pekerjaan, diliputi perasaan tidak berharga, gagal, berdosa, dan bersalah, kehilangan selera makan, sehingga berat badan menurun dan terserang gangguan pencernaan, berbicara dengan suara monoton dan sangat hemat kata-kata, senang duduk sendiri mengenang masa lalu, kurang memiliki harapan di masa depan, tidak menunjukkan kesan mengalami disorientasi, mengungkapkan keluhan-keluhan somatik berupa pusing, lelah, sembelit, dan susah tidur.
(b)    Gangguan depresi mayor akut
Ciri-ciri: berangsur-angsur menjadi tidak aktif, cenderung mengisolasi diri, tidak mau berbicara, dan sangat lamban memberikan respons, merasa bersalah dan tidak berharga, serta serba menuduh atau mempersalahkan diri, gelisah, senang mondar-mandir dan meremas-remas tangan, merasa bertanggung jawab atas aneka bencana atau musibah yang terjadi dalam masyarakat, merasa telah berbuat dosa yang membuat celaka orang lain, merasa otak atau bagian-bagian lain tubuhnya lenyap, putus asa, kadang-kadang disertai halusinasi.
(c)    Stupor depresif atau mutisme
Yakni keadaan diam mematung, dengan ciri-ciri: sama sekali tidak responsif dan tidak aktif, tidak bisa turun dari tempat tidur dan sama sekali acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang berlangsung di sekitarnya, menolak makan dan berbicara, serta harus ditolong jika ingin buang air, mengalami disorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang, mengalami halusinasi adn delusi.

c.    Aspek-Aspek Depresi
Depresi terdiri dari beberapa aspek (Nevid, dkk., 2005, h. 230), yaitu:
Emosional
Perubahan pada mood (periode terus-menerus dari perasaan terpuruk, depresi, sedih, atau muram)
Penuh airmata atau menangis
Meningkatnya iritabilitas (mudah tersinggung), kegelisahan, atau kehilangan kesabaran.
Motivasi
·    perasaan tidak termotivasi, atau memiliki kesulitan untuk memulai (kegiatan) di pagi hari atau bahkan sulit bangun dari tempat tidur
·    Menurunnya tingkat partisipasi sosial atau minat pada aktivitas sosial Kehilangan kenikmatan atau minat dalam aktivitas menyenangkan
·    Menurunnya minat pada seks
·    Gagal untuk berespons pada pujian atau reward
Perilaku motorik
·    Bergerak atau berbicara dengan lebih perlahan dari biasanya
·    Perubahan dalam kebiasaan tidur (tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya dan merasa kesulitan untuk kembali tidur di pagi buta –disebut mudah terbangun di pagi buta)
·    Perubahan dalam selera makan (makan terlalu banyak atau terlalu sedikit)
·    Perubahan dalam berat badan (bertambah atau kehilangan berat badan)
·    Berfungsi secara kurang efektif daripada biasanya di tempat kerja atau di sekolah
Kognitif
·    Kesulitan berkonsentrasi atau berpikir jernih
·    Berfikir negatif mengenai diri sendiri dan masa depan
·    Perasaan bersalah atau menyesal mengenai kesalahan di masa lalu
·    Kurangnya self-esteem atau merasa tidak adekuat
·    Berfikir akan kematian atau bunuh diri

d.    Faktor Penyebab Depresi
Azhim (2008, h. 3-5) menyebutkan faktor penyebab depresi bisa bersifat internal maupun eksternal. Adapaun faktor-faktor penyebab depresi tersebut adalah:
Sebab-sebab eksternal (yang datang dari luar diri manusia)
(a)    Sebab lingkungan
Penyebabnya adalah kejadian-kejadian yang terjadi di dunia. Misalnya, kehilangan sesuatu yang terjadi di dunia. Misalnya, kehilangan sesuatu yang amat berharga, baik orang tercinta, harta benda, maupun kedudukan sosial.
Orang yang kehilangan sesuatu yang amat dicintainya akan melewati tahap-tahap tertentu dalam merespons rasa kehilangan tersebut.
Tahap pertama, pengingkaran atau rasa tidak percaya atas kehilangan tersebut. Tahap kedua, ketidakpercayaan itu semakin bertambah, sehingga tidak lagi merasakannya. Tahap ketiga, tahap menangis dan kegundahan hati serta hilangnya selera untuk makan, berhubungan seks, atau lainnya. Di samping juga bentuk-bentuk gejala depresi atau kesedihan yang ringan dan sejenisnya.
(b)    Obat-obatan
Beberapa penelitian membuktikan bahwa sebagian obat-obatan dapat mengakibatkan perubahan kimiawi di dalam otak, yang bisa mengakibatkan efek samping berupa depresi. Di antara contoh obat-obatan tersebut adalah obat-obatan untuk  tekanan darah tinggi, liver, dan rematik.
(c)    Narkoba
Berhenti dari mengonsumsi obat-obatan psikotropika, sebagaimana minuman beralkohol, dapat menyebabkan timbulnya depresi. Bahkan, itu terkadang sampai berkaitan juga dengan upaya bunuh diri. Begitu juga halnya dengan obat-obatan yang mempunyai fungsi agar tubuh bisa selalu terjaga dari rasa kantuk yang biasa digunakan oleh para remaja atau sopir-sopir mobil angkutan untuk membuat mereka selalu terjaga di sepanjang jalan.
Obat-obatan ini memiliki bahan amfetamin. Jika orang berhenti mengonsumsi amfetamin, bisa timbul depresi, sehingga ia akan dan mengonsumsinya lagi untuk menghilangkan rasa depresi tersebut. Begitu seterusnya, hingga orang yang kecanduan ini akan selamanya tidak dapat keluar dari ketergantungannya terhadap obat-obatan.
Sebab-sebab Internal (yang berkaitan dengan faktor keturunan atau susunan sel otak, atau juga penyakit-penyakit organik):
(d)    Faktor Keturunan
Studi medis menetapkan bahwa sebagian manusia berpotensi menderita depresi. Sebagian orang yang sakit memiliki keluarga atau kerabat yang terjangkit depresi. Hal ini bukan berarti bahwa setiap orang yang terkena penyakit depresi akan menularkannya kepada kerabat dekat atau anak-anaknya.
(e)    Penyakit-penyakit Organik
Misalnya, kekurangan hormon kelenjar gondok. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya penyakit depresi. Begitu juga kekurangan beberapa vitamin, seperti vitamin B 12.
(f)    Sebab-sebab yang Tidak Diketahui
Terkadang manusia menderita kesedihan tanpa diketahui penyebabnya yang jelas. Kebanyakan penyakit ini tidak hanya timbul lantaran pengarug dari satu sebab saja, tetapi juga lantran reaksi dari beberapa sebab keseluruhan, yaitu yang bersifat eksternal dan internal yang satu sama lainnya dapat menyebabkan timbulnya depresi.

e.    Perspektif Teoretis Tentang Depresi
Depresi melibatkan sebuah interaksi yang kompleks antara pengaruh biologis dengan psikososial (Cui & Vaillant, 1997). Pemahaman penuh mengenai penyebab gangguan depresi masih di luar jangkauan. Nevid, Rathus, dan Greene (2005, h. 240-254) mengidentifikasi berbagai kontributor penting dari gangguan mood, terutama depresi, yaitu:
Stres dan Depresi
Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan romantis, lamanya hidup menganggur, sakit fisik, masalah dalam pernikahan dan hubungan, kesulitan ekonomi, tekanan di pekerjaan atau rasisme dan diskriminasi meningkatkan risiko berkembangnya gangguan mood atau kambuhnya sebuah gangguan mood, terutama depresi mayor (Greenberger dkk., 2000; Kendler, Thornton, & Gardner, 2000; Monroe dkk., 2001). Pada suatu sampel penelitian, peneliti menemukan bahwa dalam sekitar empat dari lima kasus depresi mayor diawali oleh peristiwa kehidupan yang penuh tekanan (Mazure, 1998). Orang juga cenderung menjadi depresi ketika mereka menanggung sendiri tanggung jawab dari peristiwa yang tidak diinginkan (Hammen & De Mayo, 1982).
Namun, hubungan antara stres dan depresi tidaklah jelas. Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dapat berkontribusi pada depresi, dan simptom depresi dalam diri mereka sendiri dapat bersifat menekan atau menyebabkan munculnya sumber-sumber tambahan pada stres, seperti perceraian atau kehilangan pekerjaan (Cui & Vaillant, 1997; Daley dkk., 1997).
Meski stres berimplikasi pada depresi, tidak semua orang yang mengalami stres menjadi depresi. Faktor-faktor seperti ketrampilan coping, bawaan genetis, dan ketersediaan dukungan sosial memberikan kontribusi pada kecenderungan depresi saat mengahdapi kejadian yang penuh tekanan (USDHHS, 1999a).
Teori Psikodinamik
Teori psikodinamika klasik mengenai depresi dari Freud (1917/1957) dan pengikutnya meyakini bahwa depresi mewakili kemarahan yang diarahkan ke dalam diri sendiri dan bukan terhadap orang-orang yang dikasihi. Rasa marah dapat diarahkan kepda self setelah mengalami kehilangan yang sebenarnya atau ancaman kehilangan dari orang-orang yang dianggap penting ini.
Freud mempercayai bahwa berduka (mourning), atau rasa berkabung yang normal adalah proses yang sehat karena dengan berduka seseorang akhirnya dapat melepaskan dirinya sendiri secara psikologis dari seseorang yang hilang karena kematian, perpisahan, perceraian, atau alasan lain. Namun, rasa duka yang patologis tidak mendukung perpisahan yang sehat. Malahan hal ini akan memupuk depresi yang tak berkesudahan. Rasa duka yang patologis cenderung terjadi pada orang yang memiliki perasaan ambivalen (ambivalent) yang kuat –suatu kombinasi dari perasaan positif (cinta) dan negatif (marah, permusuhan)- terhadap orang yang telah pergi atau ditakutkan kepergiannya.
Teori Humanistik
Menurut kerangka kerja humanistik, orang menjadi depresi saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna dan tidak dapat membuat pilihan-pilihan autentik yang menghasilkan self-fulfillment. Kemudian dunia dianggap sebagai tempat yang menjemukan. Pencarian orang akan makna memberikan warna dan arti bagi kehidupan mereka. Perasaan bersalah dapat timbul saat orang percaya bahwa mereka tidak membangkitkan potensi-potensi mereka.
Seperti teoretikus psikodinamika, teoretikus humanistik juga berfokus pada hilangnya self-esteem yang dapat muncul saat orang kehilangan teman atau anggota keluarga, ataupun mengalami kemunduran atau kehilangan dalam pekerjaan. Orang cenderung menghubungkan identitas personal dan rasa self-worth dengan peran-peran sosial sebagai orangtua, pasangan, pelajar, atau pekerja. Bila identitas peran ini hilang, melalui kematian seorang pasangan, perginya anak-anak untuk kuliah, atau hilangnya suatu pekerjaan, sense of purpose dan self-worth dapat terguncang. Depresi adalah konsekuensi yang sering terjadi dari kehilangan yang seperti itu. Terutama jika orang mendasarkan self-esteem pada peran pekerjaan atau kesuksesan.
Teori Belajar
Teoretikus belajar lebih memfokuskan faktor-faktor situasional, seperti kehilangan reinforcement positif. Seseorang memiliki kinerja terbaik saat tingkat reinforcement sepadan dengan usaha yang dilakukan. Perubahan pada frekuensi atau efektivitas reinforcement dapat mengubah keseimbangan sehingga kehidupan menjadi tidak berharga.
Reinforcement dan depresi. Teoretikus belajar Peter Lewinsohn (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 243) menyatakan bahwa depresi dihasilkan dari ketidakseimbangan antara output perilaku dan input reinforcement yang berasal dari lingkungan. Kurangnya reinforcement untuk usaha seseorang dapat menurunkan motivasi dan menyebabkan perasaan depresi. Ketidakaktifan dan penarikan diri dari lingkungan sosial menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan reinforcement, dan reinforcement yang berkurang akan memperburuk penarikan diri. Hal ini menjadi semacam lingkaran setan.
Teori transaksi. Interaksi antara orang yang depresi dengan orang lain dapat membantu menjelaskan pengurangan yang dialami kelompok pertama dalam hal reinforcement positif. Teori interaksional dikembangkan oleh psikolog James Coyne (dalam Nevid dkk., 2005, h. 244) yang menyatakan bahwa penyesuaian pada kehidupan bersama dengan orang yang depresi dapat sangat menekan hingga semakin lama reinforcement yang diberikan pasangan atau anggota keluarga kepada orang yang depresi tersebut menjadi semakin berkurang.
Teori Kognitif
Teoretikus kognitif menghubungkan antara asal mula dan bertahannya depresi dengan cara-cara bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Teori kognitif Aaron Beck. Seorang teoretikus kognitif paling berpengaruh, psikiater Aaron Beck (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 245), menghubungkan pengembangan depresi dengan adopsi dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif di awal kehidupan. Beck mengembangkan teori tentang segita kognitif dari depresi (cognitive triad of depression). Segitiga kognitif mencakup keyakinan-keyakinan negatif mengenai diri sendiri (contoh: saya tidak berguna), keyakinan negatif mengenai lingkungan atau dunia secara umum (contoh: sekolah ini menyebalkan), dan keyakinan negatif mengenai masa depan (contoh: tidak akan pernah ada yang berakhir sukses untuk saya). Teori kognitif meyakini bahwa orang yang mengadopsi cara berpikir yang negatif ini memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi depresi bila dihadapkan pada pengalaman hidup yang menekan atau mengecewakan.

Segi Tiga Kognitif dari Depresi (Aaron Beck)
Pandangan negatif tentang diri sendiri    Memandang diri sendiri sebagai tidak berharga, penuh kekurangan, tidak adekuat, tidak dapat dicintai, dan sebagai kurang memiliki ketrampilan yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan
Pandangan negatif tentang lingkungan    Memandang lingkungan sebagai memaksakan tuntutan yang berlebihan dan atau memberikan hambatan yang tidak mungkin diatasi, yang terus menerus menyebabkan kegagalan dan kehilangan
Pandangan negatif tentang masa depan    Memandang masa depan sebagai tidak ada harapan dan meyakini bahwa dirinya tidak punya kekuatan untuk mengubah hal-hal menjadi lebih baik. Harapan orang ini terhadap masa depan hanyalah kegagalan dan kesedihan yang berlanjutr serta kesulitan yang tidak pernah usai

Beck memandang konsep-konsep negatif mengenai self dan dunia ini sebagai cetakan mental atau skema-skema kognitif yang diadopsi saat masa kanak-kanak atas dasar pengalaman-pengalaman belajar di masa awal.
Kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil adalah sebuah contoh dari suatu kesalahan dalam berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif. Ia percaya bahwa distorsi kognitif membentuk tahapan-tahapan untuk depresi di saat menghadapi kehilangan personal atau peristiwa hidup yang negatif.
Psikiater David Burns (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 245-247) menyusun sejumlah distorsi kognitif yang diasosiasikan dengan depresi, yaitu:
Cara berpikir semua atau tidak sama sekali (all or nothing thinking)
Memandang kejadian-kejadian sebagai hitam dan putih, sebagai “semua tentangnya baik” atau “semua tentangnya buruk”. perfeksionisme adalah sebuah contoh dari cara berpikir semua atau tidak sama sekali. Orang yang perfeksionis menilai semua hasil yang berada di luar kesuksesan yang sempurna sebagai kegagalan sepenuhnya.
Generalisasi yang berlebihan
Mempercayai bahwa bila suatu peristiwa negatif terjadi, maka hal itu cenderung akan terjadi lagi pada situasi yang serupa di masa depan. Seseorang dapat menginterpretasikan suatu kejadian negatif tunggal sebagai sesuatu yang membayangi rangkaian peristiwa-peristiwa negatif yang tidak berakhir.
Filter mental
Berfokus hanya pada detail-detail negatif dari suatu peristiwa, dan dengan sendirinya menolak unsurunsur positif dari semua yang pernah dialami. Beck menyebut distorsi kognitif ini sebagai abstraksi selektif (selective abstraction), yang berarti individu secara selektif mengambil detail-detail negatif dari berbagai peristiwa dan mengabaikan unsur-unsur positifnya. Kemudian individu tersebut akan mendasarkan self-esteemnya pada kelemahan dan kegagalan yang dipersepsikan dan bukan pada unsur-unsur positifnya.
Mendiskualifikasikan hal-hal positif
Ini mengacu pada kecenderungan untuk memilih kalah dari kemenangan yang hampir terjadi dengan menetralisasi atau tidak mengakui pencapaian-pencapaian diri sendiri.
Tergesa-gesa membuat kesimpulan
Membentuk interpretasi negatif mengenai suatu peristiwa, meskipun kekurangan bukti. Dua contoh dari gaya berpikir ini adalah “membaca pikiran” dan “kesalahan tukang ramal”. Dalam membaca pikiran, seseorang secara ceroboh tergesa-gesa membuat kesimpulan bahwa orang lain tidak menyukai atau tidak menghargainya. Kesalahan tukang ramal melibatkan prediksi bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi pada diri sendiri. Orang tersebut meyakini bahwa prediksi dari kesialan ini berdasarkan fakta meskipun tidak ada bukti yang mendukung.
Membesar-besarkan dan mengecilkan
Membesar-besarkan atau mengkatastrofekan, mengacu pada kecenderungan untuk membuat gunung dari kerikil-kerikil –untuk membesar-besarkan pentingnya peristiwa-peristiwa negatif, kekurangan pribadi, ketakutan, atau kesalahan. Mengecilkan adalah seperti bayangan pada cermin, suatu tipe dari distorsi kognitif dimana seseorang mengecilkan atau memandang rendah kebaikan-kebaikannya.
Penalaran emosional
Mendasarkan penalaran pada emosi. Seseorang menginterpretasikan perasaan dan peristiwa berdasarkan emosi dan bukan pada pertimbangan-pertimbangan yang adil terhadap bukti.
Pernyataan-pernyataan keharusan
Menciptakan perintah personal atau self-commandments “keharusan-keharusan” atau “semestinya-semestinya”. Dengan menciptakan harapan yang tidak realistis dapat menyebabkan seseorang menjadi depresi saat gagal mencapainya.
Memberi label dan salah melabel
Menjelaskan perilaku dengan melekatkan label negatif pada diri sendiri dan orang lain.
Melakukan personalisasi
Hal ini mengacu pada kecenderungan untuk mengasumsikan bahwa diri sendiri bertanggung jawab atas maslah dan perilaku orang lain dan bukan menyadari bahwa penyebab lain bisa saja terlibat.
Teori ketidakberdayaan (atribusional) yang dipelajari. Model ketidakberdayaan yang dipelajri (learned helplessness) mengajukan pandangan bahwa orang dapat menjadi depresi karena ia belajar untuk memandang dirinya sendiri sebagai tidak berdaya dalam mengontrol reinforcement-reinforcement di lingkungannya –atau untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Orang yang pertama kali menyusun konsep ketidak berdayaan yang dipelajari, Martin Seligman (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 250-251) menyatakan bahwa orang belajar untuk memandang dirinya sebagai tidak berdaya karena pengalaman-pengalamannya.
Seligman dan kolega-koleganya mengubah teori ketidakberdayaan dalam kerangka konsep psikologi sosial atau gaya atribusional (atributional style). Saat kekecewaan atau kegagalan muncul, seseorang mungkin menjelaskannya dalam berbagai cara yang memiliki berbagai karakteristik. Seseorang dapat menyalahkan diri sendiri (suatu atribusi internal) atau dapat menyalahkan situasi yang dihadapi (suatu atribusi eksternal). Seseorang dapat melihat pengalaman buruk sebagai kejadian-kejadian yang melekat dengan karakteristik kepribadian (atribusi stabil) atau sebagai peristiwa yang terpisah (atribusi tidak stabil). Seseorang dapat melihatnya sebagai bukti masalah yang lebih luas (suatu atribusi global) atau sebagai suatu bukti dari kelemahan tertentu yang terbatas (suatu atribusi spesifik).
Berdasarkan ketiga tipe atribusi di atas, maka orang yang paling rentan terhadap depresi adalah orang-orang yang memliki keyakinan:
Faktor-faktor internal, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan ketidakmampuan pribadi, dan bukan faktor-faktor eksternal.
Faktor-faktor global, atau keyakinan bahwa kegaga;an merefleksikan seluruh kesalahan dalam kepribadian dan bukan faktor-faktor spesifik.
Faktor-faktor stabil, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan faktor kepribadian yang menetap dan bukan faktor-faktor yang tidak stabil.
Faktor-Faktor Biologis
Faktor-faktor biokimia dan abnormalitas otak dalam depresi. Penelitian awal mengenai dasar penyebab biologis dari depresi berfokus pada berkurangnya tingkat neurotransmitter dalam otak. Suatu padnangan yang dipegang secara luas saat ini adalah bahwa depresi melibatkan ketidakteraturan dalam (1) jumlah reseptor pada neuron penerima, tempat dimana neurotransmitter berkumpul (memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit); atau (2) dalam sensitivitas reseptor bagi neurotransmitter tertentu (Yatman, dkk., dalam Nevid, dkk., 2005, h. 253).
Metode lain dari penelitian berfokus pada kemungkinan abnormalitas dalam korteks prafrontal (prefrontal cortex), area dari lobus frontal yang terletak di depan area motorik. Peneliti menemukan bukti dari aktivitas metabolisme yang lebih rendah dan ukuran korteks prafrontal yang lebih kecil dari pada kelompok kontrol yang sehat (Damasio dalam Nevid, dkk., 2005, h. 253). Korteks prafrontal terlibat dalam pengaturan neurotransmitter yang dipercaya terlibat dalam gangguan mood, termasuk seretonin dan norepinephrine.

DAFTAR PUSTAKA

Anda Tidak Punya Pasangan? Hati-hati, Depresi Mengintai. (2002, 13 November). Men’s Health. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+Man&y=Cybermed|0|0|13|285

Atwater, E. 1983. Psychology of Adjustment. Singapore: Prentice-Hall, Inc.

Azhim, Said Abdul. 2008. Cara Islami Mencegah dan Mengobati Gangguan Otak, Stres dan Depresi. Jakarta: Qultum Media

Beck, Aaron T. 1985. Depression Causes and Treatment. Philadelphia: University of Pennsylvania Press

Bruno, Frank J. 1997. Mengatasi Depresi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Chaplin, James P. 2002. Kamus Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers

Cedricwarrior. 2008. Psikologi Islami dan Psikoterapi Islami. [Online]. Diambil tanggal 21 April 2009. Diambil dari http://psychologyupdate.blogspot.com/2008/04/psikologi-islami-dan-psikoterapi-islami.html

Erhamwilda. 2009. Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu

Godam. 2008. Akibat/Dampak Langsung dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba pada Kehidupan dan Kesehatan Manusia. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://organisasi.org/akibat-dampak-langsung-dan-tidak-langsung-penyalahgunaan-narkoba-pada-kehidupan-kesehatan-manusia).

Handoyo, ida Listyarini. 2004. Narkoba Perlukah Mengenalnya?. Bandung: Pakar Raya

Hawari, Dadang. 2002. Dimensi Religi dalam Praktik Psikiatri dan Psikologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Hurlock, Elizabeth B. 1998. Perkembangan Anak jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga

________. 1997. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Husin, Al Bachri. 2003. Pengembangan Metode Deteksi Dini dan Intervensi Awal (Konseling) Gangguan Perilaku pada Kasus Ketergantungan Narkotika Melalui Mantan Pecandu di Jakarta (TahapII-lanjutan). [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari  http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpkbppk-gdl-res-2001-al-875-narcotics

Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3; Gangguan-Gangguan Kejiwaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Kasus Narkoba di Indonesia Naik Tajam. (2006, 25 Juni). Tempo. [Online]. Diambil tanggal 14 Mei 2009. Diambil dari http://www.tempo.co.id/index,id.php

Latipun. 2006. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press

Martono, Lydia Halina & Satyo Joewono. 2006. Modul Latihan Pemulihan Pecandu Narkoba Berbasis Masyarakat untuk Pembimbing dan Pecandu Narkoba. Jakarta: Balai Pustaka

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _. 2006. Membantu Pemulihan Pecandu Narkoba dan Keluarganya. Jakarta: Balai Pustaka

Maurus, J. 2009. Mengenali dan Mengatasi Depresi. Jakarta: Rumpun

Najati, Muhammad Utsman. 2004. Psikologi dalam Perspektif Hadist (Alhadits wa ‘ulum an-nafs). Jakarta: Pustaka Al Husna Baru

Nevid, JS. Rathus, SA, Greene, B. 2005. Psikologi Abnormal jilid 1 Terjemahan. Jakarta: Erlangga

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _. 2005. Psikologi Abnormal, Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Onder, Graziano, dkk. 2003. Depression and Adverse Drug Reactions Among Hospitalized Older Adult. Arch Intern Med, 163, 301-305.

Pratiwi, Ratih Putri. 2009. Depresi. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://siar.endonesa.net/utty/category/psychology/

Rathus, SA; Nevid, JS. 2002. Psychology and The Challenges of Life Adjustment In The New Millennium. Canada: John Willey & Sons, Inc.

Sanchez, Zila Van der Meer. 2008. Religious Intervention and Recovery from Drug Addiction. Rev Saude Publica, 42, 2, 1-7.

Saefullah. (2009, 9 Januari). Narkoba Lebih dari Sekadar Khamar. Republika. [Online]. Diambil tanggal 9 Mei 2009. Diambil dari http://www.republika.co.id/email/25179

Schneiders, AA. 1964. Personal Adjustment and Mental Health. New York: Holt, Rinehart & Winston, Inc.

Simon, Dein. 2006. Religion, Spiritulity and Depression: Implications for Research and Treatment. Journal Primary Care and Community Psychiatry, 11, 2, 67-72.

Siswono. 2007. Orang Kota Rentan Depresi. [Online]. Diambil tanggal 14 maret 2009. Diambil dari http://www.gizi.net/eng/index.shtml

Suprapto, Heru. 2009. Kesetiakawanan dalam Kelompok Sosial. [Online]. Diambil tanggal 30 Mei 2009. Diambil dari Remajahttp://duniaguru.com/index.php?option=com_content&task=view&id=306&Itemid=29)

Supratiknya. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius

Sutarti, Endang. 2008. Sekelumit Tentang Narkoba. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://prov.bkkbn.go.id/banten/article_detail.php?aid=8

Taujiri, M. Yusuf. 2008. Konsep Dasar Islam Therapy. E-book.

Walujani, Atika. (2001, 11 Maret). Ancaman Dibalik Nikmatnya Narkoba. Kompas. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://64.203.71.11/kompas-cetak/0103/11/nasional/anca28.htm

Winarko, Inna Soesanti. (2009, 7 Januari). Depresi Bisa Menimpa Siapa Saja. Psikologi Plus, III, 58-59.

________. 2008. 94% Penduduk Indonesia Depresi. [Online]. Diambil tanggal 14 Mei 2009. Diambil dari http://id.ibtimes.com/technology/

________. 2007. Mengenal Dampak Narkoba, Selamatkan Bangsa. [Online]. Diambil tanggal 9 Mei 2009. Diambil dari http://www.makassarkota.go.id/content/view/943/9/

_________. 2008. Hikmah amal-Islami untuk Terapi Klien Narkoba (bagian kedua). [Online]. Diambil tanggal 9 Mei 2009. Diambil dari http://www.sadarnarkoba.com/

BAB I

PENDAHULUAN

Individu dalam kehidupannya berinteraksi dengan lingkungan dan tergantung pada lingkungan. Individu banyak mengambil manfaat dari lingkungan. Namun, lingkungan juga bisa menimbulkan stress tersendiri bagi individu. Stress yang dialami individu yang disebabkan oleh lingkungan disebut stress lingkungan. Salah satu pendekatan untuk mempelajari psikologi lingkungan adalah stress lingkungan.

Paul A. Bell menjelaskan bahwa setelah individu mempersepsikan rangsangan dari lingkungannya, akan terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, rangsangan itu dipersepsikan berada dalam batas ambang toleransi individu yang bersangkutan yang menyebabkan individu berada dalam keadaan homeostasis. Kemungkinan kedua, rangsangan itu dipersepsikan di luar ambang toleransi yang menimbulkan stress pada individu.

Stress adalah beban mental yang oleh individu yang bersangkutan akan dikurangi atau dihilangkan. Untuk mengurangi atau menghilangkan stress, individu melakukan tingkah laku penyesuaian (coping behavior). Jika berhasil, individu akan kembali pada keadaan homeostasis, tetapi jika tidak berhasil, maka individu akan kembali pada keadaan stress lagi, bahkan kemungkinan stress itu akan bertambah besar. Jika individu merasa tidak berdaya atau tidak tahu lagi harus berbuat apa dalam menghadapi stress, akan timbul reaksi panik berkepanjangan yang bisa menjurus pada timbulnya gejala psikoneurosis (gangguan jiwa). Ada empat contoh penting dari stress lingkungan yaitu bencana alam, bencana teknologi, bising, dan commuting to work (pulang pergi untuk kerja).

Stress merupakan konsep umum pada saat sekarang. Stress digunakan untuk menjelaskan suasana hati yang buruk atau tingkah laku yang luar biasa, dan perkembangan dari teknik manajemen stress seperti meditasi, relaksasi dan sistem biofeedback. Teori-teori mengenai stress memperkenankan kita untuk menggambarkan hubungan diantara sejumlah situasi-situasi yang berbeda. Menurut sejarah, studi dalam psikologi lingkungan berorientasi pada masalah. Selama tahun 1970an, studi dimulai untuk mendemonstrasikan beberapa efek yang sama dari bencana alam dan teknologi, kebisingan, dan commuting. Akan tetapi, fenomena tersebut tidak berarti memiliki kesamaan dalam segala hal.

Stress lingkungan penting untuk dipelajari agar individu tahu dan bisa mengatasinya jika stress lingkungan timbul dalam kehidupannya sehingga individu tersebut bisa memberikan respon atau tingkah laku penyesuaian agar bisa kembali ke keadaan homeostasis. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai stress lingkungan, sumber stress, aspek dari stress dan bagaimana dampaknya, serta penanggulangannya.

BAB II

STRESS LINGKUNGAN DAN PENANGGULANGANNYA

Stress Lingkungan

    1. Definisi

Stress didefinisikan sebagai proses dengan kejadian lingkungan yang mengancam atau hilangnya kesejahteraan organisme yang menimbulkan beberapa respon dari organisme tersebut. Respons ini bisa dalam bentuk coping behavior (tingkah laku penyesuaian) terhadap ancaman. Kejadian-kejadian lingkungan yang menyebabkan proses ini disebut sebagai sumber stress (stressor) yang antara lain berupa bencana alam dan teknologi, bising, dan commuting, sedangkan reaksi yang timbul karena adanya stressor disebut respons dari stress (stress response).

Respons terhadap stress dicirikan dengan perubahan emosional, tingkah laku langsung terhadap pengurangan stress, dan perubahan psikologis seperti meningkatnya arousal. Proses ini meliputi seluruh bagian dari situasi, yaitu ancaman itu sendiri, persepsi terhadap ancaman, coping (penyesuaian) dengan ancaman, dan pada akhirnya beradaptasi dengan hal tersebut.

    1. Bagian dari Stress

Ada tiga bagian dari stress, yaitu:

      • karakteristik dari sumber-sumber stress (characteristics of stressors)

      • penilaian terhadap sumber-sumber stress (appraisal of stressors) à stress yang terjadi pada seseorang dapat meningkat tergantung pada bagaimana mereka menginterpretasikannya.

      • respons terhadap stress yang terjadi (stress response) à termasuk kecemasan, depresi, sakit, penarikan diri, dan agresi.

  1. Karakteristik dari Stressor (characteristics of stressors)

Beberapa kejadian lingkungan dapat mengancam sebagian besar orang, dan yang lainnya mengancam golongan yang lebih kecil atau bahkan hanya dialami oleh seseorang. Kemungkinan suatu kejadian menjadi penuh sterss (stressful) ditentukan oleh sejumlah faktor, termasuk karakteristik dari kejadian yang spesifik dan cara individu menilai kejadian tersebut.

Lazarus dan Cohen (1977) membuat tiga kategori sumber stress lingkungan, yaitu:

        1. Cataclysmic Events

Cataclysmic events merupakan stressor yang besar sekali dan mempunyai beberapa karakteristik. Biasanya terjadi secara tiba-tiba dan memeberikan sedikit atau bahkan tidak ada peringatan ketika kejadian itu akan datang. Stressor ini mempunyai pengaruh yang kuat bagi sejumlah besar orang dan biasanya memerlukan banyak sekali usaha untuk penyesuaian yang efektif. Stressor ini dapat berupa bencana alam, perang atau bencana nuklir, yang ke semuanya tidak dapat diprediksi dan ancaman-ancaman yang sangat kuat yang secara umum mempengaruhi segala sesuatu yang ada di sekitar bencana tersebut.

Cataclysmic events biasanya terjadi secara tiba-tiba sehingga onset yang sangat kuat dari kejadian-kejadian seperti itu pada awalnya dapat menimbulkan respons ketakutan dan kebingungan dari korban (Miller, 1982; Moore, 1958). Dalam keadaan ini, sulit untuk melakukan coping dan boleh jadi tidak ada pertolongan dengan segera. Bagaimanapun, periode berat yang mengancam seperti itu (tetapi tisak selalu) berakhir secara cepat dan membutuhkan pemulihan.

Beberapa keistimewaan cataclysmic events adalah dalam manfaatnya untuk proses coping yang berpengaruh pada sejumlah besar individu. Afiliasi dengan yang lain dan berbagi rasa serta pendapat dengan orang lain diidentifikasi sebagai gaya coping yang penting terhadap ancaman-ancaman tersebut (McGrath, 1970; Schachter, 1959). Dukungan sosial seperti ini cukup berpengaruh dalam kondisi stressful (Cobb, 1976). Dengan kata lain, keberadaan orang lain di sekitar kita untuk memberikan dukungan, berbagi rasa serta pendapat dan bentuk bantuan lain dapat mengurangi pengaruh negatif dari stressor. Karena individu dapat berbagi distress mereka dengan yang lain yang mengalami kesulitan yang sama. Beberapa studi menunjukkan bahwa ada kohesi diantara individu-individu tersebut (Quarantelli, 1978). Tentu saja, ini tidak selalu terjadi dan penduduk tidak dapat bersama-sama melawan stressor dalam waktu yang terbatas. Ketika stressor berlangsung dan tidak menemukan cara pemecahannya, maka jenis masalah yang berbeda akan timbul.

        1. Personal Stressors

Personal stressors sejenis dengan cataclysmic events, tetapi dampaknya hanya mengenai satu orang tertentu atau beberapa orang dalam jumlah terbatas dan boleh jadi tidak diharapkan. Misalnya sakit, kematian orang yang dicintai, atau kehilangan pekerjaan. Kejadian ini cukup kuat untuk menantang kemampuan adaptasi yang sama pada cataclysmic events. Seringkali besarnya, durasi dan letak dari pengaruh yang kuat pada cataclysmic events dan personal stressors adalah sama seperti kematian dan kehilangan pekerjaan.

        1. Daily Hassles

Daily hassles merupakan stressor dalam bentuk problem yang terjadi setiap hari dan berulang-ulang, serta tidak terlalu memerlukan daya penyesuaian diri yang terlalu besar. Stressor ini sifatnya stabil dan intensitas masalah yang dihadapi rendah karena sebagai bagian dari suatu rutinitas. Daily hassles mencakup antara lain ketidakpuasan dalam pekerjaan, kesulitan keuangan, pertengkaran dengan tetangga, dan masalah transportasi dalam kota. Daily hassles memang relatif ringan dibandingkan dengan jenis stressor yang lain. Efeknya bertahap, tetapi karena sifatnya kronis dapat juga membawa akibat jangka panjang yang fatal.

Satu atau lebih latar belakang stressor mungkin tidak cukup menyebabkan kesulitan penyesuaian yang besar. Namun, ketika sejumlah hal terjadi secara bersama-sama dapat menentukan dengan tepat kerugian yang lebih besar dan mungkin seserius pada cataclysmic events atau stressor personal. Pemaparan yang biasa, tetapi dalam jangka waktu yang panjang membutuhkan respons penyesuaian yang lebih.

  1. Penilaian Terhadap Stressor (appraisal of stressors)

Tingkat pandangan orang mengenai kejadian yang penuh dengan stress ditentukan melalui penaksiran/penilaian. Selama proses penaksiran, semua informasi dianggap penting, dan keputusan diambil jika kira-kira berbahaya, mengancam, dan sejenisnya. Beberapa tipe penaksiran yang berbeda mungkin terjadi. Penaksiran dilakukan terpusat pada kerusakan yang terjadi.

Ada beberapa faktor yang diidentifikasikan sebagai pengaruh penaksiran kita terhadap stressor lingkungan, diantaranya kondisi situasional, individual differences, dan variabel lingkungan, sosial, dan psikologis. Penaksiran terhadap stressor didasarkan pada sifat-sifat situasi, sikap terhadap stressor atau sumbernya, individual differences dan lain-lain.

Gaya penanggulangan (coping) atau pola kepribadian juga mempengaruhi seseorang dalam melihat permasalahan dan menentukan tipe penanggulangan yang akan dipakai. Jenis gaya penanggulangan (coping) yang dapat digunakan antara lain, represi-sensitivitas (tingkatan dimana orang berpikir tentang stressor), screening (kemampuan seseorang untuk menolak stimuli atau memprioritaskan kebutuhan), dan penolakan (tingkat seseorang untuk menolak atau menyadari suatu masalah).

Studi oleh Baum (1982) mengatakan bahwa individu yang menanggulangi secara berlebihan dengan mengamati dan memprioritaskan kebutuhan akan lebih bisa mengurangi efek kepenatan daripada orang yang tidak melakukan cara ini. Glass (1977) telah mendeskripsikan relevansi coping stress. Individu yang menerapkan pola kepribadian tipe A adalah mereka yang merespons stress dengan cara pengontrolan stress dan mempunyai treatment tersendiri.

Stress dapat mempengaruhi kesehatan antara lain tekanan darah. Apabila individu sering stress, maka individu tersebut berpeluang besar untuk mengalami penyakit jantung. Kontrol perasaan adalah mediator stress yang penting, yang dapat menyebabkan seseorang dapat mengontrol stress dan memprediksikan apa yang akan terjadi.

Mengumpulkan informasi tentang penyebab stress, dapat membantu memprediksikan langkah yang harus ditempuh. Misalnya, stress yang berhubungan dengan operasi. Pasien akan khawatir dirinya akan sembuh atau justru makin parah. Stress pasien dapat dikurangi dengan memberi harapan bagus. Studi yang lain mengungkapkan bahwa pemberian harapan yang kuat terhadap penderita stress dipercaya dapat mengurangi stress.

  1. Karakteristik Respons Stress

Ketika penaksiran sebuah penyebab stress sudah dibuat oleh individu maka respons dapat ditentukan dengan baik. Misalnya, apabila ada sebuah peristiwa yang dianggap berbahaya/mengancam, akan menimbulkan respons stress berupa ketegangan. Dengan kata lain, menafsirkan sesuatu yang negatif/bahaya, dapat menghasilkan respons yang kita siapkan lebih hati-hati. Dalam hal ini, respons stress juga melibatkan proses fisiologis.

Kadar epinefrin yang banyak pada tubuh kita dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap adaptasi dan dapat memberikan keuntungan secara biologis. Efek psikologis yang berperan antara lain, merefleksikan konsekuensi adaptasi. Calhoun (1967,1970) mengungkapkan bahwa ada sebuah periode keras kepala (refractory periode) dimana suatu individu berada pada keadaan yang sembuh dari stress. Namun apabila refactory periode dicampur dengan periode lain, justru akan menambah stress. Misalnya apabila kita sakit kepala dan kita minum obat, maka stress kita juga bertambah.

    1. Teori Stress Lingkungan (Environment Stress Theory)

Teori stress lingkungan pada dasarnya merupakan aplikasi teori stress dalam lingkungan. Berdasarkan model input proses output, maka ada 3 pendekatan dalam stress, yaitu : stress bagi stressor, stress sebagai respon atau reaksi, dan stress sebagai proses. Oleh karenanya, stress terdiri atas 3 komponen, yaitu stressor, proses, dan respon. Stressor merupakan sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya suara bising, panas atau kepadatan tinggi. Respon stress adalah reaksi yang melibatkan komponen emosional, pikiran, fisiologis dan perilaku. Proses merupakan proses transaksi antara stressor dengan kapasitas dengan kapasitas diri. Oleh karenanya, istilah stress tidak hanya merujuk pada sumber stress, respon terhadap sumber stress saja, tetapi keterikatan antara ketiganya. Artinya, ada transaksi antara sumber stress dengan kapasitas diri untuk menentukan reaksi stress. Jika sumber stress lebih besar daripada kapasitas diri maka stress negatif akan muncul, sebaiknya sumber tekanan sama dengan atau kurang sedikit dari kapasitas diri maka stress positif akan muncul. Dalam kaitannnya dengan stress lingkungan, ada transaksi antara karakteristik lingkungan dengan karakteristik individu yang menentukan apakah situasi yang menekan tersebut menimbulkan stress atau tidak. Udara panas bagi sebagian orang menurunkan kinerja, tetapi bagi orang lain yang terbiasa tinggal di daerah gurun, udara panas tidak menghambat kinerja.

Fisher (1984) melakukan sintesa pendekatan stress fisiologis dari Hans Selye dan pendekatan psikologi dari Lazarus, yang terlihat dalam bagan berikut ini :

Ada tiga tahap stress dari Hans Selye, yaitu tahap reaksi tanda bahaya, resistensi, dan tahap kelelahan. Tahap reaksi tanda bahaya adalah tahap dimana tubuh secara otomatis menerima tanda bahaya yang disampaikan oleh indera. Tubuh siap menerima ancaman atau menghindar terlihat dari otot menegang, keringat keluar, sekresi adrenalin meningkat, jantung berdebar karena darah dipompa lebih kuat sehingga tekanan darah meningkat. Tahap resistensi atau proses stress. Proses stress tidak hanya bersifat otomatis hubungan antara stimulus respon, tetapi dalam proses disini telah muncul peran-peran kognisi. Model psikologis menekankan peran interpretasi dari stressor yaitu penilaian kognitif apakah stimulus tersebut mengancam atau membahayakan. Proses penilaian terdiri atas 2 yaitu : penilaian primer dan penilaian sekunder. Penilaian primer merupakan evaluasi situasi apakah sebagai situasi yang mengancam, membahayakan, ataukah menantang. Penilaian sekunder merupakan evaluasi terhadap sumber daya yang dimiliki, baik dalam arti fisik, psikis, sosial, maupun materi. Proses penilaian primer dan sekunder akan menentukan strategi coping (Fisher 1984) dapat diklasifikasikan dalam direct action (pencarian informasi, menarik diri, atau mencoba menghentikan stressor) atau bersifat palliatif yaitu menggunakan pendekatan psikologis (meditasi, menilai ulang situasi dsb). Jika respon coping ini tidak adekuat mengatasi stressor, padahal semua energi telah dikerahkan maka orang akan masuk pada fase ketiga yaitu tahap kelelahan. Tetapi, jika orang sukses, maka orang dikatakan mampu melakukan adaptasi. Dalam psroses adaptasi tersebut memang mengeluarkan biaya dan sekaligus memetik manfaat.

    1. Macam-Macam Sumber Stress Lingkungan

            1. Bencana Alam

Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba, merusak, berhenti, secara tiba-tiba dan membutuhkan usaha yang besar untuk menanggulanginya. Bencana alam meliputi hamper semua kejadian yang terjadi di alam semesta. Tidak semuanya diakibatkan oleh perilaku manusia, namun akibatnya dapat bertambah ataupun dikurangi dengan beberapa perilaku.

Definisi tentang bencana alam termasuk seluruh keadaan cuaca yang ekstrim (panas, dingin, badai, tornado, dll). Gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, longsoran salju, juga termasuk bencana alam, tetapi dapat juga diakibatkan oleh pengolahan bumi oleh manusia.

Apabila komunitas rusak, kita menjadi tidak leluasa untuk betingkah laku dan dapat menimbulkan reaksi yang negative. Semakin banyaknya masalah yang dihadapi oleh individu, dapat mengakibatkan pikiran kita menjadi pendek. Apabila individu makin tertekan, maka semakin kehilangan kebebasan dan selalu menyendiri. Apabila bencana ini berlarut-larut, maka individu tersebut akan minder yang mengakibatkan stress. Bencana masal dapat membuat korban kehilangan semuanya, sehingga koban cenderung berperilaku apatis, susah diatur dan emosional.

            1. Bencana Teknologi

Untuk memperluas pengetahuan kita terhadap lingkungan dan adaptasi kita terhadap bahayanya telah dicapai melalui kemajuan teknologi. Peningkatan kualitas hidup, perpanjangan hidup, penguasaan terhadap penyakit, dan sejenisnya itu berdasarkan pada jaringan teknologi yang telah kita ciptakan. Mesin-mesin, struktur dan hasil karya manusia yang lain yang kita terapkan ke lingkungan tidak secara parallel dijamin bisa membantu. Umumnya mesin menyelesaikan pekerjaan atas control manusia. Bagaimanapun juga, jaringan ini bisa saja gagal, dan bisa saja aa yang salah sebab itu, kita mengalami gangguan sebuah kota. Misalnya kebocoran bahan kimia beracun dan pembuangan sampah, kebocoran bendungan dan jembatan roboh.

          • Karakteristik Bencana Tekonolgi

Pada hal-hal tertentu, bencana teknologi menunjukkan ciri yang sama dengan kerusakan alam. Bisa akut dan sangat tiba-tiba, seperti pada sebuah kebocoran bendungan dan penggelapan. Kecelakaan teknologi ini biasanya singkat dan efek buruknya pun terlalu cepat berlalu. Akan tetapi, bencana teknologi yang lain itu kronis.

Bagi seseorang yang terkena efeknya, dampak terburuk tidak langsung tampak dan tidak teridentifikasi dengan mudah, sebuah keputusan tentang hal yang tidak jelas bisa menimbulkan banyak persoalan.

Menariknya, bencana teknologi ini mungkin lebih mengancam perasaan kita tentang control daripada hanya sebuah bencana alam. Hal ini merupakan sebuah paradoks dimana bencana alam itu tidak bisa dikontrol dan kita tidak pernah berpikir untuk mengendalikannya. Bencana-bencana teknologi yang terjadi biasanya karena kurangnya control pada sesuatu yang biasanya berjalan baik.

Hal ini mungkin saja terjadi jika kita teledor, hal ini juga untuk menguji kemampuan kita mengontrol suatu kejadian di masa yang akan dating. Kejadian ini sebenarnya tidak harus terjadi , karena mesin-mesin yang diciptakan tidak didesain untuk melakukan kesalahan dan ada tanda-tanda ketika terjadi sebuah kerusakan. Jadi, kecelakaan pada pembangkit tenaga nuklir juga tidak harus terjadi, limbah beracun juga tidak seharusnya bocor. Tapi hal ini ternyata terjadi , dan hal ini dapat menimpa siapa saja. Mungkin kita juga sring berpikir dimana ledakan selanjutnya akan terjadi?, pesawat mana yang akan bertabrakan?, Limbah mana yang akan menyebar?, dan lainnya. Ketika pemikiran itu bersifat spekulatif, ini menimbulkan tafsiran yang macam-macam mengenai bencana teknologi. Kejadian ini dapat mengurangi keyakinan umum dan menimbulkan stress (Davidson, Baum dan Collins, 1982).

  1. Kebisingan

a. Definisi, Pengukuran dan Merasakan Suara

Definisi yang paling sederhana dari kebisingan adalah suara-suara yang tidak diinginkan “unwanted sound”. Komponen penting dari konsep kebisingan terdiri dari komponen psikologis dan fisik.

Pengukuran kebisingan melibatkan komponen fisik yang utama meskipun pemaknaannya penting terhadap struktur dari skala pengukurannya. Secara fisik, kebisingan muncul karena adanya perubahan tekanan udara yang sangat cepat di gendang telinga. Karena molekul tersebut ditekan secara bersamaan, tekanan positif muncul secara relative sampai pada tekanan negative ketika molekul udara berpisah. Tekanan alternative ini dapat digambarkan dalam grafik gelombang. Puncak gelombang menunjukkan tekanan negative. Tekanan alternative inilah yang mampu menggetarkan gendang telinga. Getaran tersebut dikirim ke telinga bagian tengah dan telinga bagian dalam. Kemudian dilanjutkan sampai ke otak, disana terjadilah proses persepsi dan interpretasi pada stimulus suara karena pitch dan volumenya yang tinggi dan rendah. Manusia normal dapat mendengar antara frekuensi 20 dan 20.000 Hz. Namun kebanyakan suara yang kita dengar tidak hanya satu frekuensi saja, melainkan frekuensinya bermacam-macam. Untuk ukuran tekanan biasanya digunakan decibels (dB).

Kebisingan merupakan fenomena gangguan pada lingkungan karena pengertiannya yang “tidak diinginkan”. Keyter (1970) dan Glass dan Singer (1972) berpendapat bahwa beberapa jenis kebisinagn dapat mengganggu yang lain. Ada tiga dimensi karakteristik kebisingan, yaitu volume, prediksi, dan control perceived.

Suara yang tidak terkontrol juga lebih mengganggu daripada suara yang terkontrol dengan mudah. Dari diskusi perspektif teoritis yang terdahulu, suara yang tidak terkontrol lebih stressful, mengalihkan perhatian, dan lebih sulit diadaptasi dibandingkan suara yang dapat dikontrol. Berdasarkan pendekatan behavior, suara yang kekurangan control dapat menyebabkan reaktansi psikologis dan adanya usaha untuk memperoleh kembali kebebasan bertindak dengan mencoba menegaskan pengontrolan.

Suara yang bising, tidak dapat diprediksi, dan tidak dapat dikontrol mengakibatkan rusaknya perilaku. Meskipun ketiga factor tesebut mungkin menjadi penyebab utama pengaruh kebisingan terhadap perilaku, namun sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada factor lain yang mempengaruhi sejauhmana kebisingan tersebut mengganggu. Gangguan meningkat bila:

  • Seseorang merasa suara tersebut tidak penting

  • Seseorang yang menghasilkan suara tersebut tidak peduli terhadap keselamatan orang lain yang mendengarkan.

  • Orang yang mendengar merasa bahwa suara tersebut berbahaya terhadap kesehatan.

  • Orang yang mendengarkan menganggap bahwa suara tersebut menakutkan.

  • Orang yang mendengarkan suara tersebut merasa tidak puas terhadap aspek lain di lingkungannya.

b. Sumber Kebisingan

1). Kebisingan transportasi

Kebisingan bersumber dari truk, kereta api, pesawat, dan jenis alat transportasi lainnya. Kebisingan transportasi merupakan permasalahan yang paling utama. Karakteristik kebisingan transportasi antara lain : menyebar luas da sangat keras. Ini sangat jelas terlihat dari level intensitas suaranya, seperti perkiraan intensitas suara di kawasan bandara yaitu sekitar 75-85 dB.

2). Kebisingan di tempat kerja

Kebisingan yang terjadi ditempat kerja merupakan permasalahan kedua setelah kebisingan transportasi.

c. Efek Psikologis dari Kebisingan

1). Kerusakan pendengaran

Meskipun suara yang sangat keras (150 dB) dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga ataupun merusak telinga bagian lain, bahaya untuk pendengaran dari suara yang berlebihan biasanya juga terjadi pada level intensitas suara yang lebih rendah (90-120dB) karena kerusakan sementara dan kerusakan sementara dan kerusakan sementara dan kerusakan permanen pada sel rambut halus di koklea (rumah siput) telinga bagian dalam. Kerusakan pendengaran secara umum dibagi kedalam dua jenis (Kyter, 1970) yaitu:

  1. Temporary threshold shifts (TTS)

Dimana ambang normal akan kembali dalam 16 jam setelah mendengar suara yang berbahaya bagi telinga.

  1. Noise-induced permanent threshold shifts (NIPTS)

Dimana ambang normal akan kembali dalam satu bulan atau lebih setelah penghentian suara yang berbahaya bagi telinga.

2). Kesehatan fisik

Kita meyakini bahwa suara dengan level intensitas yang tinggi mengakibatkan peningatan stress dan ketegangan. Kita memperkirakan bahwa penyakit yang berkaitan dengan stress (hipertensi dan sebagainya) dapat meningkat karena adanya kebisingan.

Banyak ahli yang melakukan penelitian tentang hubungan antara kebisingan dengan stress, namun hasilnya berbeda-beda. Karena pada dasarnya sulit untuk menghubungkan kebisingan secara langsung memberikan efek negative terhadap kesehatan fisik. Efek negative kebisingan terhadap kesehatan terjadi bersama dengan stressor lain (misalnya polusi industry, ketegangan karena pekerjaan, tekanan ekonomi, dan sebagainya) atau hanya terbatas pada mereka yang rentan terhadap gangguan psikologis (Cohen, 1977).

3). Kebisingan dan kesehatan mental

Kita meyakini bahwa suara dengan level intensitas yang tinggi mengakibatkan peningkatan akitivitas psikologis. Saat stress menjadi penyebab penyakit mental, kita dapat memperkirakan bahwa kebisingan dapat dikaitkan dengan gangguan mental (Cohen, 1977; Kryter, 1970). Banyak penelitian yang mengkaitkan antara kebisingan dengan kesehatan mental. Sama seperti kesehatan fisik, kita harus sementara menyimpulkan bahwa suara dengan intensitas tinggi berkontribusi pada penyakit mental, itu dikaitkan dengan factor lain yang mempercepat gangguan mental.

Cohen (1977) mengatakan bahwa penduduk diskitar area kebisingan menyerah dan tidak protes karena merasa tidak akan didengar oleh pemerintah.

d. Pengaruh Kebisingan Terhadap Performa

Penelitian laboratorium tentang pengaruh kebisingan terhadap performa menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Secara singkat apakah kebisingan mempengaruhi performa, menguntungkan ataupun tidak , tergantung pada jenis (dapat diprediksi atau tidak), dan intensitas suara, batas toleransi stress, dan karakteristik kepribadian individu. Secara umum data penelitian laboratorium menunjukkan bahwa dalam keadaan itu, suara 90-110 dB tidak memberikan pengaruh buruk terhadap performa mental. Untuk menjelaskan apakah kebisingan mempengaruhi performa, maka kita menggunakan pendekatan diskusi teoritis. Misalnya:

  • Teori level adaptasi

Memprediksi variasi pada performa untuk tingkat kemampuan, pengalaman dan stimilasi berbeda setiap individu.

  • The Yerkes-Dodson Law dan Arousal Approach

Mengatakan bahwa suara atau kebisingan yang meningkat akan memfasilitasi performa pada tugas yang sederhana.

  • The Environmental Load Approach

Suara yang tidak dapat diprediksi dapat mengalihkan perhatian dan mengganggu performa.

e. Kebisingan dan Perilaku Sosial

Dalam beberapa tahun terakhir ini, para peneliti mulai menyelidiki dampak kebisingan terhadap perilaku sosial (Cohen & Weinstein, 1981). Kebisingan akan mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu atraksi, altruism dan agresi.

1). Kebisingan dan Atraksi

Jarak interpersonal merupakan salah satu indikasi dari kebisingan dapat menurunkan atraksi. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa kabisingan memperbesar jarak interpersonal.

  1. Kebisingan dan Agresi Manusia

Pada penelitian suatu perilaku sosial, diperlihatkan bahwa orang lebih tidak suka menolong dalam situasi kebisingan dibandingkan dalam situasi tenang. Juga terdapat beberapa bukti bahwa kebisingan dapat meningkatkan agresivitas (Geen & O’ Neal, 1969).

Penelitian ini dan penelitian-penelitian lainnya menunjukkan bahwa kebisingan kadang-kadang dapat meningkatkan perilakunagresif, tetapi hal ini hanya terjadi bila orang merasa tidak mampu mengendalikan kebisingan tersebut dan bila mereka mempunyai alasan tersendiri untuk marah. Dengan kata lain, kebisingan bukan sebab langsung dari timbulnya agresi, tetapi dapat memperkuat kecenderungan untuk agresif yang telah ada.

  1. Kebisingan dan Perilaku Altruisme

Salah satu kesimpulannya adalah bahwa kebisingan dapat mengurangi perhatian terhadap isyarat-isyarat sosial. Demikian juga dalam suatu penilitian lapangan (Korte & Grant, 1980), pejalan kaki di jalan yang ramai mempunyai kemungkinan yang lebih kecil untuk memperhatikan objek yang tidak biasa di trotoar dibandingkan pejalan kaki di jalan yang sepi. Dengan kata lain, kebisingan dapat menyebabkan orang mempersempit fokus perhatiannya sehingga tidak menangkap isyarat sosial di lingkungan.

Penelitian yang dilakukan oleh Page menghasilkan bahwa orang yang mengalami suara yang simpel mungkin tidak memberitahukan bahwa seseorang membutuhkan bantuan. Bagaimanapun, suara menurunkan kemungkinan bahwa orang akan merespon permintaan.

Alasan untuk menekan pengaruh dari suara gaduh dalam tingkah laku membantu dalam diketahui dengan pasti, tapi kebanyakan penjelasan masih Nampak pada perhatian yang sempit, dugaan dan penjelasan berdasarkan mood.

Penelitian yang dilakukan oleh Sherrod dan Downs (1974) menyatakan bahwa pengaruh kegaduhan dalam tingkah laku altruism tergantung pada beberapa faktor, diantaranya merasakan control dari suara, volume suara, dan karakteristik stimulus adari kebutuhan seseorang akan bantuan.

  1. Pulang Pergi Kerja (Commuting to Work)

Stokols dan Novaco (1981) mencatat besarnya biaya pulang pergi kerja, dengan penekanan pada pulang pergi kerja dengan mobil. Diantara masalah yang menyebabkan ketergantungan kita pada transportasi pribadi untuk pulang pergi kerja adalah pemakaian energi yang berlebihan dan kenyamanan yang diberikan. Masalah yang lain muncul menjadi pemicu dari pulang pergi kerja dan pengaruhnya pada kesehatan fisik dan mental.

Stress pulang pergi kerja mempunyai beberapa sumber. Penelitian telah menemukan bahwa kemacetan diasosiasikan sebagai pembangkit. Kepadatan jalan yang tinggi dihubungkan dengan peningkatan laporan dari penyakit dada dan pengukuran kecepatan jantung, tekanan darah, ketidakteraturan denyut jantung, dan kulit. (Aronow et al, 1972; Michaels, 1962;Stokols et al, 1978; Taggart, Gibbons & Somerville, 1969).

Penelitian menyatakan bahwa rute pulang pergi kerja yang ruwet dapat menyebabkan tekanan darah yang tinggi dan detak jantung yang cepat (Littler, Honour, & Sleight, 1973). Stress pulang pergi kerja juga dipengaruhi suhu, suara, kelembaban, dan polusi udara (Stokols & Novaco, 1981).

Tingginya gangguan pulang pergi kerja lebih sulit dan maka dari itu mungkin lebih menyebabkan stress. Bukti-bukti menyebutkan bahwa pulang pergi kerja dapat menyebabkan stress, tapi luasnya pengalaman stress tergantung pada sejumlah faktor. Stressor yang lain dan karakteristik sumber juga penting. Design jalan, jumlah kepadatan, kompleksnya jalan, dan kondisi semua aspek dari lingkungan pulang pergi kerja yang mempengaruhi stress. Dalam hal ini, faktor individu seperti gaya coping sangat penting, dan respon yang berbeda-beda terhadap kondisi pulang pergi kerja.

Penanggulangan

Menurut psikolog Dharmayati Utoyo Lubis PhD, ada 3 upaya pencegahan yaitu primary prevention, secondary prevention, dan tertiary prevention.

  • Primary prevention adalah tindakan yang dilakukan untuk menghindari dampak buruk dari lingkungan, sebelum dampak tersebut menimpa manusia. Tindakan primer ini bahkan sudah dapat dimulai sebelum manusia itu lahir. Contohnya, mencegah kriminalitas terhadap individu yang pulang kerja malam, perusahaan mengusahakan bus khusus yang mengantar pulang.

  • Secondary prevention, tindakan yang diambil adalah untuk mengidentifikasi dan menanggulangi dampak lingkungan di awal perkembangan. Tujuannya, menghentikan atau merubah dampak buruk menjadi lebih baik. Sebagai contoh, ketika suatu daerah sudah terjangkit demam berdarah maka upaya yang dilakukan agar jumlah korban tidak bertambah banyak yiatu dengan cara pengasapan (fogging).

  • Tertiary prevention merupakan tindakan pencegahan sehingga kerusakan akibat dampak lingkungan tidak meluas. Termasuk di dalamnya adalah tindakan untuk mencegah kecacatan, dan merehabilitasi mereka yang sudah terkena dampak lingkungan. Contoh kasusnya, pemakai narkoba yang baru mengalami detoksifikasi dianjurkan menjalani program after-care, sehingga mereka memperoleh ketahanan psikis untuk tidak memakai lagi.

Sebenarnya, tindakan penanggulangan dampak lingkungan tak lepas dari dukungan sosial, sense of personal control atau perasaan bahwa individu dapat mengambil keputusan dengan melakukan action yang efektif, keyakinan diri, kepribadian yang ulet, serta pola kepribadian A atau B (laki-laki lebih reaktif terhadap stress lingkungan daripada perempuan).

Berbagai strategi coping untuk menanggulangi stress termasuk stress akibat dampak lingkungan adalah pemecahan masalah secara terencana, coping konfrontatif, mencari dukungan sosial, mengambil jarak, lari atau menghindar, kontrol diri, menerima tanggungjawab, penilaian kembali yang positif.

Najlah Naqiyah, juga memberikan beberapa solusi mengenai cara penanggulangan stress untuk korban pasca banjir di Jakarta, antara lain :

  • Mencari tahu sebab yang menimbulkan stress bagi pengungsi. Jika menilik penyebab stress pengungsi karena rasa lapar, maka perlu memberikan makan dan minum. Jika stress pengungsi karena sakit, maka perlu menyediakan obat-obatan. Jika stress mereka karena kurangnya air bersih untuk kebutuhan mandi, masak, buang air, serta mencuci maka perlu menyediakan sarana air bersih yang cukup. Pemerintah berkewajuban menyediakan sarana yang dibutuhkan oleh pengungsi. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas bagi pengungsi untuk memperoleh penghidupan yang layak. Tugas pemerintah menyiapkan sarana air bersih, makan dan minum serta obat-obatan bagi pengungsi. Masyarakat miskin yang mengungsi perlu menggunakan fasilitas tersebut untuk keselamatan hidup mereka. Jika pemerintah abai menyediakan sarana kesehatan dan sanitasi air bersih, maka pengungsi akan menderita dan terancam penyakit akibat banjir. Pemerintah selayaknya berusaha keras menyediakan kebutuhan para pengungsi dengan cepat, untuk meringankan beban hidup mereka yang kesusahan.

  • Jika pengungsi ketakutan dan khawatir kehilangan harta yang ditinggalkan di rumah mereka, maka perlu menyediakan jaminan keamanan bagi rumah mereka. Pemerintah perlu menjamin adanya rasa aman atas tempat tinggal para pengungsi yang terendam banjir. Bagaimanapun, para pengungsi khawatir dan takut meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Ketakutan yang berlebihan menimbulkan rasa stress takut kehilangan barang-barang milik mereka. Untuk itu, pemerintah perlu bersikap tegas mengerahkan aparat keamanan menjaga rumah-rumah yang ditinggal mengungsi. Koordinasi pemerintah dengan pihak kepolisian dan TNI perlu intensif. Jaminan rasa aman, akan mengurangi rasa was-was para pengungsi. Pengungsi lebih tenang apabila harta benda mereka mendapatkan kepastian rasa aman dari penjarahan.

  • Solidaritas para tokoh agama, tokoh masyarakat, para artis membantu korban banjir perlu ditingkatkan. Tokoh agama sebagai pusat pengaduan masyarakat miskin. Secara sosial, tokoh agama lebih dekat dengan keseharian ummat. Peran masjid, gereja, sekolah keagamaan, pesantresn menjadi alternative masyarakat sebagai tempat mengungsi yang aman. Dengan bahu membahu dan tolong menolong secara lintas agama, akan lebih mudah dan cepat menyalurkan bantuan bagi para pengungsi.

Memberikan yang terbaik bagi para pengungsi dengan segenap kemampuan yang kita miliki akan mengobati stress pengungsi. Mendampingi pengungsi saat kritis dan membutuhkan bantuan akan membantu mengurangi beban mereka. Cara yang ditempuh melalui kerjasama aparatur pemerintah, para tokoh agama, artis dan pengusaha, membantu kebutuhan pengungsi. Semoga pengungsi tertangani dengan baik.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa stress merupakan suatu proses dengan kejadian lingkungan yang mengancam atau hilangnya kesejahteraan organisme yang menimbulkan beberapa respons dari organisme tersebut. Kejadian-kejadian lingkungan yang menyebabkan proses ini disebut sebagai sumber stresss (stressor), sedangkan reaksi yang timbul karena adanya stressor disebut respons dari stress (stress response).

Ada tiga bagian dari stress, pertama, karakteristik dari sumber-sumber stress (characteristics of stressors). Kedua, penilaian terhadap sumber-sumber stress (appraisal of stressors). Ketiga, respons terhadap stress yang terjadi (stress response). Macam-macam sumber stress antara lain bencana alam, bencana teknologi, kebisingan dan commuting to work.

Menurut psikolog Dharmayati Utoyo Lubis PhD, ada 3 upaya pencegahan yaitu primary prevention, secondary prevention, dan tertiary prevention. Primary prevention adalah tindakan yang dilakukan untuk menghindari dampak buruk dari lingkungan, sebelum dampak tersebut menimpa manusia. Secondary prevention, tindakan yang diambil adalah untuk mengidentifikasi dan menanggulangi dampak lingkungan di awal perkembangan. Tertiary prevention merupakan tindakan pencegahan sehingga kerusakan akibat dampak lingkungan tidak meluas. Termasuk di dalamnya adalah tindakan untuk mencegah kecacatan, dan merehabilitasi mereka yang sudah terkena dampak lingkungan.

  1. SARAN

Lingkungan sangat mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir manusia. Dalam kehidupannya, manusia selalu berinteraksi dan tergantung dengan lingkungan. Keadaan lingkungan yang kondusif akan membuat manusia nyaman dan selalu dalam keadaan homeostasis. Namun, lingkungan terkadang memberikan efek negatif pada manusia yang dapat menyebabkan stress. Stress tidak dapat dihindarkan. Namun demikian, dengan memahami stressor dan stress itu sendiri, kita dapat meminimalkan stress yang tidak diperlukan, dan membuat diri kita lebih sehat , baik secara fisik , maupun mental. Untuk itulah kita perlu belajar untuk hidup bersama dengan stress. Beberapa upaya yang dapat dilakukan manusia untuk meminimalisasikan munculnya stress antara lain dengan beristirahat cukup, berolahraga teratur, rekreasi, menjaga menu dan pola makan. Namun, apabila telah terjadi stress, maka dapat ditanggulangi dengan cara coping yaitu dengan coping masalah dan coping emosi.

KASUS

Berebut Air di Sendang Senjoyo

Sadi Martono (54), petani Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, masih belum pulih benar dari kekagetannya. Meski beberapa kali kesulitan air saat kemarau, baru tahun ini dia sampai menyaksikan serombongan petani dari desa lain nekat membawa godam dan palu, berniat membobol pintu air. Aliran air dari Sendang Senjoyo sudah dianggap tidak lagi terbagi adil.

Percekcokan berlangsung sengit antarpetani dari Tingkir Lor dan Kalibening (Salatiga) dengan Tingkir Tengah (Salatiga), serta sejumlah desa di Kecamatan Suruh (Kabupaten Semarang). Pasalnya, awal Agustus lalu, petani dari Kalibening berniat menjebol pintu air Aji Awur di Desa Tegalwaton.

Pintu air itu berfungsi mengatur aliran air dari Bendung Senjoyo ke arah timur, yaitu ke Tingkir Tengah dan sejumlah kelurahan di Kecamatan Suruh, serta arah utara menuju Tingkir Lor dan Kalibening.

Kondisi ketika itu sempat memanas. Kedua kubu saling menuding pihak lain mencurangi pembagian air karena merasa aliran air yang menuju lahan mereka terlalu sedikit. Beruntung, konflik berhasil diredam. Mereka berembuk bersama kepala desa setempat dan sepakat pembagian air dilakukan setiap tiga hari.

Sekarang sudah lebih baik. Setiap petani sudah bergantian mendatangi pintu air setiap pukul 15.00. Tahun-tahun terakhir air memang semakin sulit,” kata Sadi Martono, Senin (8/9).

Aliran air Sendang Senjoyo yang berada di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, mengalir melalui tiga bendungan: Isep-isep, Watukodok, dan Senjoyo. Mata air ini juga dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Salatiga, PDAM Kabupaten Semarang, PT Damatex, dan Yonif 411 Salatiga.

Jauh sebelumnya, air Sendang Senjoyo begitu melimpah. Kebutuhan air bagi petani untuk mengairi sawah dan keperluan sehari-hari penduduk sekitar sangat mencukupi.

Namun, persoalan timbul ketika debit airnya terus turun hingga semakin parah 2-3 tahun terakhir. Hal ini memicu konflik horizontal antarpetani karena kebutuhan air mereka tetap, tetapi alirannya semakin sedikit. Terlebih lagi mereka harus berbagi dengan perusahaan-perusahaan yang memasang pipa ke mata air.

Petani sering mengadu kesulitan air kepada saya. Perebutan air masih terjadi antarpetani karena itu yang paling tampak. Mereka mau marah kepada orang-orang ’atas’ ya enggak berani,” kata Kepala Desa Tegalwaton Agus Suranta.

Data di Ranting Pengairan Kecamatan Tengaran, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang, menunjukkan, pada tahun 1995 debit air Sendang Senjoyo saat kemarau masih mencapai 1.115 liter per detik. Akan tetapi, kini hanya berkisar 838 liter per detik, padahal kebutuhan air petani relatif tetap karena alih fungsi lahan di daerah ini tak terlalu pesat.

Dari debit air yang tersisa rata-rata 838 liter per detik, sebanyak 358 liter per detik harus direlakan petani untuk diambil pengguna besar. PDAM Kota Salatiga menyedot 278,5 liter per detik, PDAM Kabupaten Semarang 11,8 liter per detik, PT Damatex dan Timatex 53 liter per detik, dan Yonif 411 Salatiga 11,8 liter per detik.

Menurut Kepala Ranting Pengairan Kecamatan Tengaran Dalwandi, penurunan debit ini disebabkan oleh pengambilan air dalam skala besar secara terus-menerus oleh sejumlah pemakai besar. Kondisi ini diperparah dengan pengambilan air bawah tanah menggunakan sumur bor oleh sejumlah industri yang berada tak jauh dari Senjoyo.

Ironisnya, pengurasan sumber air itu tidak diimbangi dengan konservasi air, baik di hutan sekitar Sendang Senjoyo maupun Lereng Merbabu yang menjadi daerah tangkapan air. ”Kami pernah mengajak PDAM Salatiga yang menjadi pengguna terbesar ikut berpartisipasi, tetapi kurang mendapat tanggapan. Begitu juga saat kami meminta pengurangan pengambilan air,” kata Dalwandi.

Sekretaris Daerah Kota Salatiga yang juga Badan Pengawas PDAM Kota Salatiga Sri Sejati mengakui bahwa Senjoyo masih menjadi salah satu sumber utama pengambilan air. Namun, PDAM Salatiga juga masih mencoba mencari sumber air selain Senjoyo. ”Kalau untuk konservasi, akan kami coba bahas lebih jauh,” kata Sri Sejati.

Kasus Umbul Wadon

Persoalan serupa dihadapi masyarakat pada empat kecamatan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menggantungkan hidup dari keberadaan sumber mata air Umbul Wadon di hulu Sungai Kuning. Jika 20 tahun lampau mereka bisa dengan mudah memperoleh air yang melimpah, kini justru sebaliknya.

Sekarang ketersediaan air sangat terbatas. Air memang masih mengalir dari Umbul Wadon. Namun, sejak beberapa tahun terakhir para petani di Kecamatan Cangkringan, Ngemplak, Ngaglik, dan Pakem kian kesulitan mendapatkan air untuk ”membasahi” sawah-sawah mereka.

Kebetulan atau tidak, salah satu sumber berkurangnya pasokan air melalui Sungai Kuning tersebut akibat Umbul Wadon juga dimanfaatkan oleh tiga perusahaan air minum untuk masyarakat di Sleman dan sebagian Kota Yogyakarta. Ketiga perusahaan dimaksud adalah Tirta Dharma Sleman, Tirta Marta Kota Yogyakarta, dan Arga Jasa.

Dampaknya memang tidak dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar Umbul Wadon atau yang mengonsumsi air setiap hari, tetapi oleh petani di daerah hilir. Mereka merasakan volume air yang masuk ke sawah tidak sebanyak dulu lagi.

Tahun ini, misalnya, puluhan petak sawah kecil-kecil di Dusun Grogolan, Kecamatan Umbulmartani, yang lokasinya lebih rendah (mirip terasering) dan dekat dengan Kali Kuning pun meranggas. Bahkan, ada beberapa petak tanaman padi yang dibiarkan kering begitu saja tanpa dipanen.

Sawah-sawah itu dulunya selalu basah, termasuk saat kemarau. Bahkan, bisa dikatakan jenis tanahnya gembur, seperti lumpur,” ujar Sudiharjo (60), petani dari Dusun Grogolan.

Notowiharjo (72), petani yang lain, menuturkan bahwa mereka masih harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan air. Masyarakat menyebut uang itu bukan sebagai ”bayaran”, melainkan lebih pada istilah ”biaya mengisi administrasi”.

Uang itu diberikan kepada penjaga pintu air atau dam di daerah hulu. Penjaga air itulah yang nantinya mengalirkan air ke saluran atau parit menuju lahan milik petani. Cara seperti ini berlangsung sekali dalam sepekan dan bergantian dengan petani di daerah lain.

Di Kali Kuning terdapat banyak dam. Dari Umbul Wadon hingga Dusun Grogolan, yang berjarak lebih dari 6 kilometer, misalnya, terdapat 18 dam berukuran kecil atau biasa dikenal masyarakat sekitar dengan embung. Menurut petani, embung-embung ini sengaja dibangun untuk mengendalikan aliran air.

Uang yang harus dibayar mencapai Rp 50.000. Air akan mengalir selama 12 jam, mulai dari petang hingga pagi. Air itu akan dipakai bersama-sama oleh petani yang menempati bulak tertentu,” kata Notowiharjo.

Menyusutnya air saat kemarau jelas berpengaruh terhadap produksi. Lahan milik Sudiharjo, misalnya, saat airnya melimpah bisa menghasilkan 7 kuintal padi kering, sedangkan saat ini hanya 3 kuintal karena sebagian di antaranya terserang hama.

Data dari Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3BA) Kabupaten Sleman menunjukkan, debit air yang masuk ke PDAM Tirta Dharma saat ini mencapai 81 liter per detik, Tirta Martha 75,8 liter, dan Arga Jasa 15 liter per detik.

Kepala P3BA Sleman Widi Sutikno membenarkan debit air Umbul Wadon memang berkurang, terutama saat kemarau. Dalam pengukuran terakhir, debit air hanya 349,7 liter per detik. Adapun pengukuran satu bulan sebelumnya masih 376 liter per detik.

PDAM Tirta Dharma Sleman membantah tudingan bahwa mereka berusaha memperbesar debit air yang masuk ke wilayahnya. Kepala Pengawas Internal PDAM Tirta Dharma Sleman Dwi Nurwata mengatakan, sejak awal debit air tidak berubah, tetap 80 liter per detik.

Saat ini PDAM Tirta Dharma memperoleh air dari dua mata air, yakni Umbul Wadon dan Tuk Dandang di Pendowoharjo. Selain itu, mereka juga mengandalkan 17 sumur dangkal dan 15 sumur dalam.

Selama ini pemakaian Umbul Wadon secara bersama-sama bukan tidak menimbulkan konflik. Tahun 2004 lalu, misalnya, ratusan warga lereng Merapi berusaha meminta kembali pasokan air minum dan irigasi yang dihentikan pihak tertentu. Mereka juga meminta penghitungan ulang pemanfaatan air yang ada.

Kini, untuk melindungi sumber-sumber air itu, pemerintah daerah tengah mencoba melakukan konservasi di sekitar Merapi. Selain penghijauan, mereka juga berupaya memperbanyak dam. Namun, masyarakat tak bisa lagi menunggu terlalu lama. (Sumber: Kompas, 9 September 2008).

PEMBAHASAN KASUS

Stres lingkungan yang ditimbulkan kasus di atas merupakan stres lingkungan karena bencana alam berupa kekeringan yang melanda beberapa daerah seperti disebutkan pada kasus di atas. Menurut teori stres lingkungan, ada dua elemen dasar yang menyebabkan manusia bertingkah laku terhadap lingkungannya. Elemen pertama adalah stressor dan elemen kedua adalah stress itu sendiri. Stressor adalah elemen lingkungan (stimuli) yang merangsang individu. Stres (ketegangan, tekanan jiwa) adalah hubungan antara stressor dengan reaksi yang ditimbulkan dalam diri individu.

Dalam kasus di atas yang menjadi stressor adalah kekeringan. Akibat dari kekeringan yang panjang, debit air di Sendang Senjoyo menurun. Hal ini menimbulkan stres bagi para petani yang mengairi sawahnya dengan air dari Sendang Senjoyo karena sawah mereka terancam kering. Kondisi stres yang berat menimbulkan reaksi dari para petani yang berupa tindakan anarkis. Mereka nekat membawa godam dan palu, berniat membobol pintu air. Bahkan sempat terjadi percekcokan antar petani. Aliran air dari Sendang Senjoyo sudah dianggap tidak lagi terbagi adil menurut mereka. Mereka menyalahkan pengelola debit yang dianggap tidak adil dalam pembagian air. Padahal kenyataannya, debit air Sendang Senjoyo memang menurun karena kemarau. Karena dipengaruhi oleh keadaan stres yang berat, para petani tidak lagi dapat membendung amarahnya dan berpikir rasional.

Menurut teori kelebihan beban (Environmental Load Theory) yang dikemukakan oleh Cohen (1977) dan Milgram (1970) bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam mengolah stimulus dari lingkungannya. Jika stimulus lebih besar dari kapasitas pengolahan informasi maka terjadilah kelebihan beban (overload) yang mengakibatkan sejumlah stimuli harus diabaikan agar individu dapat memusatkan perhatiannya pada stimuli tertentu saja. Kalau kelebihan kapasitas ini terlalu besar sehingga individu sama sekali tidak mampu lagi menangani dalam kognisinya maka individu itu bisa mengalami berbagai gangguan kejiwaan seperti merasa tertekan, bosan, dan tidak berdaya.

Musim kemarau yang panjang menyebabkan kekeringan di berbagai daerah di Semarang. Sebagai akibatnya debit Sendang Senjoyo yang selama ini menjadi sumber irigasi bagi petani-petani di beberapa daerah seperti Semarang dan Salatiga menurun. Para petani jadi kesulitan mengairi sawahnya. Petani jadi terancam gagal panen karena hal tersebut. Pikiran-pikiran semacam itu membayangi petani dan menjadi stimulus bagi petani yang menimbulkan stres. Para petani mendapatkan stimulus semacam ini secara terus menerus beberapa tahun terakhir sejak debit mulai turun. Stimulus ini melebihi kapasitas pengolahan informasi sehingga terjadilah overload. Karena sudah diluar batas maka para petani menjadi tertekan, bingung dan amarah sudah tidak dapat lagi dibendung. Akibatnya, para petani nekat ingin membobol pintu air.

Menurut Teori Kendala Tingkah Laku (The Behavior Constraint Theory) yang dikemukakan oleh Bhrem, bahwa jika manusia mendapat hambatan terhadap kebebasannya untuk melakukan sesuatu ia akan berusaha memperoleh kebebasannya kembali. Reaksi ini disebut psychological reactance.

Seperti pada kasus di atas para petani merasa kebebasannya bertani terhambat karena kurangnya air untuk mengairi sawah. Mereka berpikir ada ketidakadilan dalam pembagian jatah air dan sebagai reaksinya (psychological reactance )mereka berusaha untuk mendapatkan keadilan, tetapi dengan cara yang salah, yaitu ingin membobol pintu air. Hal ini juga dikarenakan cara berpikir para petani yang berebut air yang linier. Mereka menganggap sawah kekurangan air karena ada ketidakadilan dalam pembagian jatah air sehingga reaksi mereka mendatangi Sendang Senjoyo untuk membobol air. Menurut teori cara berpikir yang dikemukakan oleh H.L. Leff bahwa ada dua macam cara orang berpikir dalam menanggapi rangsang dari lingkungan. Pertama adalah cara berpikir linier dan cara berpikir sistem. Perbedaan cara berpikir ini menyebabkan perbedaan dalam reaksi terhadap lingkungan. Jika para petani berpikir sistem pasti reaksinya pun akan berbeda. Jika mereka berpikir dengan cara berpikir sistem, mereka akan melihat kesulitan air karena musim kemarau, karena penggunaan oleh banyak pihak, dan bukan semata-mata karena ketidakadilan pengelola Sendang. Maka reaksi yang timbul pun bukan reaksi anrkis seperti pada kasus di atas.

Dapat disimpulkan bahwa reaksi dari para petani yang cukup anarkis dengan ingin membobol pintu air disebabkan beban stres yang berat dan melebihi batas karena kekurangan air dan kemungkinan gagal panen yang berdampak pada kerugian.

Solusi untuk kasus di atas adalah dari semua pihak yang menggunakan Sendang Senjoyo untuk keperluan masing-masing harus bertemu dan berkumpul untuk membicarakan masalah ini. Pertama dari pihak pengelola menerangkan bahwa debit ais Sendang Senjoyo memang mengalami penurunan beberapa tahun terakhir dengan menjelaskan sebab-sebabnya agar kesalahpahaman dapat terhindarkan. Kemudian dari pihak yang menggunakan air Sendang Senjoyo dalam jumlah besar harus mengusahakan memiliki alternatif sumber lain agar tidak sepenuhnya mengambil dari Sendang Senjoyo. Dari semua pihak diharapkan mau bekerjasama untuk membangun konservasi air di hutan dekat Sendang Senjoyo agar pengurasan air dalam skala besar ini tidak lagi menurunkan debit air karena diimbangi dengan adanya konservasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ciremai, anak. 2008. Makalah Pendidikan Tentang Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau dari Pendekatan Stress Lingkungan. Diakses pada : Jum’at, 10 oktober 2008. http://anakciremai.blogspot.com/2008/08/makalah-ilmu-pendidikan-tentang-c.html

Dial, 2008. Fenomena Hunian pada Masyarakat Kota. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://de-arch.blogspot.com/2008/09/fenomena-hunian-padamasyarakat-kota.html

Fadilla, Avin. 1999. Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/hidupdikota_ avin.pdf

Komunitas Semarang. 2007. Masalah kemacetan Kota Semarang. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://tarnus6.wordpress.com/2008/07/01/konsep-kotadalam-kota-di-kota-semarang/

Sarwono, Sarlito W. 1995. Psikologi Lingkungan. Yogyakarta: PT Grasindo.

Soendjojo, RahmithA.—-. Tergilas Stress in the city. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://www.tabloidnakita.com/artikel2.php3/edisi=07319&rubrik=topas

Tahrir, Hizbut. 2008. Depresi Sosial : Gejala dan Akar Penyebabnya. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://hizbut-tahrir.or.id/2008/07/03/depresi-sosial-gejala-dan-akar-penyebabnya/

PENDAHULUAN

Menjadi tua merupakan suatu fase kehidupan yang dialami oleh manusia. Makin panjang usia seseorang, sejalan dengan pertambahan usia tubuh akan mengalami kemunduran secara fisik maupun psikologis. Secara fisik orang lanjut usia yang selanjutnya disebut lansia, mengalami kemunduran fungsi alat tubuh, atau disebut juga dengan proses degeneratif. Orang lansia akan terlihat dari kulit yang mulai keriput, berkurangnya fungsi telinga dan mata, tidak dapat bergerak cepat lagi, cepat merasa lelah, rambut menipis dan memutih, mudah terserang penyakit karena daya tahan tubuh berkurang. Secara psikologis orang lansia menjadi mudah lupa, serta berkurangnya kegiatan dan interaksi (baik dengan anak-anak, saudara atau teman), mengalami rasa kesepian, kebosanan dan sebagainya. Apalagi jika ia kehilangan pekerjaan, menderita post power syndrome, berkurangnya peranan dalam keluarga atau masyarakat, atau kondisi ekonominya buruk.

Adanya peningkatan jumlah orang lansia, menyebabkan perlunya perhatian pada orang lansia tersebut, agar orang lansia tidak hanya berumur panjang, tetapi dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia, serta meningkatkan kualitas hidup diri mereka. Meskipun banyak orang lansia dalam kesehatan yang baik. Namun, golongan ini tetap merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit karena terjadinya perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat proses degeneratif. Perubahan sosial di masyarakat, misalnya adanya kecenderungan perubahan struktur keluarga dari keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) ikut membawa perubahan terhadap orang lansia dimana sebelumnya orang lansia tinggal bersama dalam satu rumah dengan anggota keluarga lainnya. Namun, perubahan itu menyebabkan orang lansia tinggal terpisah dengan anak-anak mereka. Kondisi ekonomi orang lansia juga mengalami perubahan apabila dibandingkan ketika masih muda. Maka orang lansia hendaknya mampu beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. Penduduk lansia secara individual merupakan penduduk yang potensial menjadi “beban” keluarga dan masyarakat terutama bagi mereka yang memasuki usia tuanya tidak dipersiapkan sejak dini.

PENGERTIAN

Orang yang berusia lanjut ada yang menyebut dengan istilah lansia (lanjut usia, manula (manusia usia lanjut), dan usila (usia lanjut). Tidak ada keseragaman dalam menetapkan standar usia lansia. Umumnya seseorang dianggap memasuki kelompok lanjut usia di Indonesia terjadi pada usia 55 tahun, saat seseorang memasuki masa pensiun Sedangkan penduduk lansia dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia bahwa lanjut usia adalah laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih.

Ada beberapa negara menetapkan usia kronologis yang berbeda bagi orang lansia. Di Indonesia, seseorang dianggap lanjut usia, ketika ia pensiun dari pekerjaannya pada usia 55 tahun. Namun, di Amerika Serikat, seseorang dikategorikan sebagai lansia pada usia 77 tahun, yang didahului masa pra lansia yaitu usia 69-76 tahun. Bagi orang Jepang kesuksesan justru dimulai pada usia 60 tahun. Dan banyak wanita Jepang yang masih bekerja pada usia 60 tahun ke atas. Sedangkan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menetapkan usia 60 tahun sebagai titik awal seseorang memasuki masa lansia. Karena itu tidak ada tolok ukur yang jelas kapan seseorang memasuki masa lansia.

Bernice Neugarden mengelompokkan orang lanjut usia berdasarkan perbedaan usia yaitu; (1) lanjut usia muda yaitu orang yang berumur antara 55-75 tahun; (2) lanjut usia tua yaitu orang yang berumur lebih dari 75 tahun. Levinson membagi lagi orang usia lanjut muda menjadi tiga kelompok yaitu; (1) orang lanjut usia peralihan awal (antara 50-55 tahun); (2) orang lanjut usia peralihan menengah (antara 55-60 tahun); dan (3) orang lanjut usia peralihan akhir (antara 60-65) (Oswari 1997;9).

Definisi orang lansia tidak dapat dititikberatkan kepada umur seseorang saja. Namun, diperhatikan pula faktor kesehatan, psikologis, dan sosial. Faktor kesehatan tubuh lansia, dapat tetap sehat dan bugar walaupun umurnya sudah 60 tahun. Begitu pula secara psikologis, kesehatan mental terjaga, tidak pikun pada usia tua dan tidak tergantung kepada orang lain terutama secara ekonomis. Beberapa diantaranya, dapat tetap berkreatifitas menciptakan sesuatu, seperti seniman Affandi yang masih mencipta pada usia 80 tahun.

PANDANGAN YANG MENGHORMATI LANSIA

Peran dan kedudukan lansia dalam keluarga dan masyarakat sangat dipengaruhi oleh pandangan kebudayaan mengenai orang lanjut usia. Perbedaan pandangan terhadap usia lanjut akan membuat sikap dan penghargaan terhadap orang lansia akan berbeda dalam keluarga dan masyarakat.

Menurut Swasono (1989) berbagai kehidupan kebudayaan menetapkan usia tua dan peranan serta fungsi sosialnya menuntut nilai-nilai, anggapan dan ukuran yang berbeda-beda. Namun, demikian secara universal terdapat pandangan bahwa seorang lansia dianggap sebagai sumber terkumpulnya kebijaksanaan dan kearifan. Dengan demikian penduduk lansia dianggap memiliki kelebihan, keahlian tertentu dan dengan pengalaman yang demikian luas sehingga mereka harus dihormati.

Masyarakat Mongolia

Pada masyarakat Mongolia menurut Onon “kehormatan dan kekayaan diberikan kepada orang-orang biasa. Namun, usia tua yang matang adalah anugerah surga” (Foster & Anderson 1986). Berdasarkan hal ini, tidak ada seorangpun yang berusaha untuk menyembunyikan usianya yang tua. Semua orang mengharapkan masa-masa dimana orang lansia menerima penghormatan dan penghargaan tersebut.

Studi Antropologis dalam banyak komunitas, seperti dalam masyarakat yang ‘tertutup’ (closed corporate) seperti orang Indian, aktivitas-aktivitas ritual tahunan yang besar memberikan “tangga” atau jalan dimana laki-laki melalui pengabdian mereka yang terus-menerus kepada masyarakat, lambat-laun mencapai status ”pimpinan” atau orang tua yang dihormati, seorang individu yang kaya akan jasa dan prestise ( Foster & Anderson 1986).

Masyarakat Jepang

Saat ini jepang berada pada pintu menuju masyarakat dengan jumlah Lansia yang besar (Super Aged Society). Berdasarkan sensus nasional Jepang tahun 2003, jumlah total Lansia saat ini adalah 127.690.000 atau 19% (Japan Statistic Bureau) dari jumlah total penduduk Jepang, sebagai tambahan jumlah total anak usia dibawah 14 tahun adalah 13%. Kondisi ini terbalik dengan Indonesia dimana jumlah anak-anak berada jauh diatas jumlah populasi Lansia. Usia harapan hidup yang dicapai Lansia di Jepang untuk pria adalah 78,32 tahun dan 85,23 tahun untuk wanita (Yoshida, 2003).

Jepang adalah negara yang masih menghormati lansia sebagai orang yang harus dihargai dan dijunjung tinggi. Penghormatan ini terlihat dari bagaimana Jepang berusaha memberikan fasilitas-fasilitas dan pelayanan kesehatan yang sangat baik bagi para lansia.

Dapat kita temukan lansia dengan mudahnya hampir disetiap fasilitas umum di Jepang, mulai dari pusat perbelanjaan, di pameran lukisan, tempat wisata bahkan perpustakaan umum. Jepang memang menyediakan fasilitas khusus untuk para Lansia dan orang cacat untuk memudahkan mereka menggunakan fasilitas tersebut, sebagai contoh adalah pada sarana transportasi umum seperti bus dan kereta, dapat kita lihat adanya tempat duduk yang diprioritaskan untuk lansia dan orang cacat yang digunakan sebagaimana mestinya. lansia di Jepang dapat beraktifitas layaknya semua orang, mereka tetap bersosialisasi satu sama lain dan terlihat enerjik.

Di Indonesia fasilitas-fasilitas untuk lansia masih kurang memadai. Aktifitas Lansia di Indonesia lebih banyak berfokus pada kegiatan spiritual keagamaan, mereka mengharapkan ketenangan suasana di hari tua mereka. Tentu saja hal ini sangatlah positif dan perlu untuk dilanjutkan. Namun, jangan sampai Lansia tidak dapat beraktifitas keluar rumah karena memang tidak disiapkan fasilitas yang dapat membantu mereka.

Terdapat perbedaan latar belakang, budaya, perkembangan sosial ekonomi dan paradigma tentang “age and aging” dari dua negara ini. Jepang adalah negara berkembang yang sudah mengatur dengan baik pelayanan kesehatan untuk lansia. Indonesia masih jauh tertinggal karena memang saat ini prioritas pelayanan kesehatan Indonesia masih berfokus pada pelayanan kesehatan Ibu dan anak juga penyakit infeksi

System Perawatan Lansia

Long-Term Care Insurance System yang diluncurkan dari Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang pada tahun 2000 adalah jawaban untuk mengatasi masalah peningkatan jumlah lansia. Memberikan support bagi penduduk dalam menghadapai hari tua adalah salah satu dari tujuan system ini (Ministry of Health, Labour and Welfare). Walaupun panjang umur adalah sesuatu yang seharusnya patut untuk di syukuri, namun hal tersebut diikuti oleh masalah sosial seperti peningkatan jumlah pensiun dan biaya kesehatan. Hal ini tentunya akan meningkatkan beban ekonomi yang harus di tanggung pemerintah.

Rumah Jompo (Nursing Home), Layanan harian untuk Lansia (Day Service), pusat rehabilitasi dan Rumah sakit khusus lansia adalah pelayanan lansia yang banyak ditemui di Jepang. Rumah Jompo adalah pelayanan untuk lansia dengan tingkat ketergantungan perawatan yang tinggi (fisik lemah), mereka tinggal difasilitas tersebut sampai waktu yang tidak ditentukan, pada umumnya mereka berada di Panti Jompo sampai akhir hidupnya. Layanan harian lansia adalah jenis pelayanan untuk lansia yang masih aktif dan tinggal di masyarakat, lansia datang ke pelayanan ini pada pagi hari dan pulang kembali pada sore hari. Layanan harian yang disediakan adalah perawatan dasar (pengukuran tanda-tanda vital, perawatan diri, eliminasi) dan juga sosialisasi berupa olah raga, permainan, keterampilan dan hiburan. Rumah sakit dan rehabilitasi lansia adalah jenis pelayanan perawatan akut dengan tingkat ketergantungan medis yang tinggi.

Masyarakat Indonesia

Deskripsi etnografi suku bangsa di Indonesia memberi gambaran tentang kedudukan orang tua dalam sistem kekerabatan dan masyarakatnya. Orang lansia merupakan kelompok sosial yang dihormati dan dihargai. Sikap dan perlakuan terhadap orang-orang tua dinyatakan secara simbolik dalam upacara perkawinan (Swasono, 1989).

Pada masyarakat tradisional yang umumnya terdiri dari keluarga luas, memasuki usia lanjut tidak perlu dirisaukan. Mereka memiliki jaminan sosial yang paling baik yaitu anak dan saudara-saudara lainnya. Anak masih merasa berkewajiban dan mempunyai loyalitas menyantuni orang tua mereka yang sudah tidak dapat megurus dirinya sendiri. Nilai yang masih berlaku dalam masyarakat bahwa anak wajib memberikan kasih sayang kepada orangtuanya sebagaimana pernah mereka dapatkan sewaktu mereka masih kecil.

Masyarakat Nias

Pada suku bangsa Nias, masa tua dalam keluarga dianggap saatnya menjadi penasehat, dihormati oleh segenap anggota keluarga dan komunitas dan menjadi seorang yang dalam legenda suku bangsa Nias disebut Todo Hia. Nasehatnya selalu dipatuhi karena dianggap sebagai orang yang patut dipercayai dan bijaksana. Seseorang yang telah berumur tua memiliki banyak pengalaman dan menjadi sumber cerita, legenda dan mitos (Laiya 1983:54).

Masa tua diistilahkan di Nias bawa lewato yang berarti pintu gerbang kuburan. Menurut mereka, kematian telah dekat bagi mereka. Karena itu anak-anak dan keturunannya selalu memelihara mereka dengan baik dan hati-hati. Anak-anak akan menyuguhkan makanan yang baik dan pakaian yang baik dan pantas dan mematuhi perintah mereka serta melayani mereka dengan hormat (Laiya 1983: 55).

Masyarakat Jawa

Pada suku bangsa Jawa orang-orang tua dipandang berhak atas penghormatan yang tinggi dan banyak yang hidup menghabiskan umurnya semata-mata dengan menerima penghormatan, karena kelebihan pengetahuan mereka akan masalah kebatinan dan masalah praktis. Tetapi bagi mereka yang jompo dan pikun penghormatan bisa menjadi berkurang (Geertz 1985:149). Hubungan penghormatan dapat dilihat dalam penggunaan bahasa yang tinggi (krami) ketika berbicara kepada orang tua, dan dalam keluarga priyayi tradisional orang malahan menyembah dahulu sebelum berbicara (Koentjaraningrat 1994 :273). Kehidupan orang tua pada umumnya tenang. Mereka sangat berguna untuk mengasuh anak-anak di dalam keluarga, dan biasanya terdapat hubungan yang hangat dan tidak canggung antara mereka yang lebih tua dan yang lebih muda di rumah.

Suku Minangkabau

Pada suku bangsa Minangkabau, orang tua dalam keluarga luas matrilineal dipandang sebagai orang yang patut dihormati. Orang tua laki-laki memperoleh gelar kehormatan dan menjadi pemimpin bagi keluarga luasnya atau kampungnya. Laki-laki tua (mamak) memberikan nasehat untuk semua masalah terutama masalah adat (Navis 1984). Sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan kok pai tampek batanyo, kok pulang tampek babarito (jika pergi tempat bertanya, jika pulang tempat mengadu.

Kedudukan dan Peranan orang lansia dalam keluarga dan masyarakat dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan dihargai apalagi dianggap memiliki prestise yang tinggi dalam masyarakat menjadikan lansia secara psikologis lebih sehat secara mental. Perasaan diterima oleh orang lain akan mempengaruhi tanggapan mereka dalam memasuki hari tua, dan berpengaruh pula kepada derajat kesehatan lansia. Berbeda halnya jika lansia dianggap peranan yang tidak diinginkan dalam masyarakat.

Penelitian Edi Indrizal (2005) mengenai orang lansia di Minangkabau, menunjukkan bahwa dalam tatanan ideal masyarakat matrilineal Minangkabau, hubungan struktur keluarga, ikatan solidaritas sosial, dan tradisi merantau kesemuanya fungsional sebagai jaminan sosial bagi orang lansia sehingga orang lansia tidak boleh hidup tersia-sia di hari tuanya, maka hal itu dapat menjadi aib malu anak-kemenakan, keluarga, kerabat atau bahkan orang sekampung. Namun, dalam kondisi yang berubah dalam masyarakat Minangkabau kotemporer, diantaranya perubahan struktur keluarga luas ke keluarga inti, pola menetap neolokal, membawa konsekuensi perubahan fungsi struktur keluarga dan hubungan sosial dalam masyarakat Minangkabau. Perubahan-perubahan fungsi struktur keluarga membawa implikasi terhadap kehidupan orang lansia. Orang lansia tanpa anak memperoleh masalah tersendiri di dalam masyarakat Minangkabau, tampaknya lebih dominan masalah sosial dibandingkan masalah menurunnya kondisi fisik akibat usia yang bertambah tua.

PANDANGAN YANG TIDAK MENGHORMATI LANSIA

Seiring berkembangnya jaman, pandangan terhadap lansia dan kedudukan lansia dalam masyarakat pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di sebagian besar negara khususnya negara maju, lansia tidak lagi dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan dihargai. Lansia cenderung dianggap menjadi beban hidup bagi mereka yang menanggungnya. Lansia menjadi beban hidup karena kemampuan mereka yang sudah menurun dan tidak produktif lagi. Ditambah karena penurunan fisik yang menyebabkan mereka sakit-sakitan menyebabkan lansia dianggap sebagai pemboros uang dan menambah beban ekonomi keluarga yang menanggungnya. Walaupun masih banyak negara-negara yang masih menjunjung tinggi rasa hormat pada lansia, tetapi ada juga beberapa negara yang memiliki pandangan berlawanan dengan pandangan negara yang menghormati lansia khususnya negara yang menganut kebudayaan timur.

Di Korea misalnya, orang percaya bahwa manusia diberi Tuhan jangka hidup selama 60 tahun. Orang yang hidup lebih lama berarti mengambil umur orang lain. Lansia yang hidup hingga usia 60 tahun ke atas akan dianggap sebagai orang yang mengambil jatah umur orang lain dan mereka akan cenderung diabaikan dan tidak lagi dihormati.

Di Amerika Serikat, usia tua adalah peranan yang tidak banyak diinginkan, dan kemungkinan kehormatan dan penghargaan lebih sering diimbangi oleh kurangnya perhatian kepentingan dan perhatian dari keluarga dan masyarakat. Laki-laki dan perempuan tua seringkali hidup dan meninggal “dalam keputusasaan’, merasa kekosongan semata-mata, mereka bukan apa-apa dan matipun bukan apa-apa (Foster & Anderson 1986). Sebagian besar lansia di Amerika tinggal di panti-panti jompo dan jarang sekali mereka yang ikut pada anaknya. Hal ini disebabkan budaya Amerika sendiri yang mengharuskan anak yang usianya sudah menginjak 18 tahun untuk hidup mandiri dan bebas dari orangtua. Sehingga pada akhirnya anak tersebut merasa tidak bertanggung jawab terhadap orangtua mereka lagi.

PENUTUP

Perubahan sistem dan struktur dalam masyarakat, membawa implikasi terhadap peran dan kedudukan lansia dalam keluarga dan masyarakat. Misalnya perubahan dari bentuk keluarga luas pada masyarakat tradisional ke keluarga inti (nuclear family) berimplikasi bahwa orang lansia akan mengalami hidup sendiri. Kondisi hidup sendiri jauh dari perhatian keluarga akan membawa masalah terhadap orang lansia, terutama orang lansia yang tidak memiliki ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang lansia yang hidup miskin, akan menganggu kondisi kesehatannya yang telah mengalami kemunduran fisik, sehingga memunculkan berbagai penyakit.

REFERENSI

Fitriani, Erda. 2005. Pola Kebiasaan makan Penderita Hipertensi lanjut Usia pada Orang Minangkabau di Jakarta. Tesis tidak diterbitkan. Depok: Universitas Indonesia.

___________. 2009. Lansia dalam Keluarga dan Masyarakat. [Online]. Diambil tanggal 3 April 2009. Diambil dari http://erdafitriani.wordpress.com/author/erdafitriani/

Foster, George M dan Barbara Gallatin Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Terjemahan, Priyanti Pakan Suryadarma dan Meutia F. Hatta Swasono. Jakarta. Universitas Indonesia Press.

Geertz, Hilded. 1985. Keluarga Jawa. Jakarta: Grafiti pers.

Indrizal, Edi. 2005. Problema Orang Lansia Tanpa Anak di Dalam Masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Jurnal Antropologi Indfonesia. Vol. 29, No 1 Januari 2005. Hal 69-92.

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Laiya, Bambowo.1983. Solidaritas Kekeluargaan dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias-Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Navis, A.A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers.

Oswari, E. 1997. Menyongsong Usia Lanjut dengan Bugar dan Sehat. Jakarta: Sinar Harapan.

Rahwie. 2007. Perawatan Lansia di Jepang: Catatan Pengalaman, Pengamatan dan Pembelajaran. [Online]. Di ambil tanggal 3 April 2009. Diambil dari http://rahwie.multiply.com/journal/item/13/Perawatan_Lansia_di_Jepang

Swasono, Meutia Farida Hatta. 1989. Proses Menua di Barat dan Timur: Suatu Tinjauan Antropologis. Makalah diajukan pada Seminar Sehari Tentang Usia Lanjut oleh Pusat Pengembangan Psikiatri dan Kesehatan Jiwa. Jakarta 14 Januari 1989.

Wirakusumah, Emma S. 2000. Tetap Bugar di Usia Lanjut. Jakarta: Trubus Agriwidya.

_______. _____. Info Untuk Lansia — Bab 1. Masa Lanjut Usia. [Online]. Diambil tanggal 3 April 2009. Diambil dari http://www.sabda.org/forum/c3i_online_book

_______. _____. Memahami Mitos & Realita Tentang Lansia. [Online]. Diambil tanggal 3 April 2009. Diambil dari http://www.cafepojok.com/forum/forumdisplay.php?s=4178f5d15acda1f9eb22e67b4db56b66&f=105

  1. Pendekatan-Pendekatan Dalam Psikoterapi

Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara klien dengan terapis yang menyertakan prinsip-prinsip psikologis untuk melakukan perubahan pada perilaku, pikiran, dan perasaan klien dengan tujuan untuk membantu klien mengatasi perilaku abnormal, memecahkan masalah dalam kehidupan, atau berkembang sebagai individu.

Ciri-ciri psikoterapi antara lain :

Interaksi yang sistematis

Proses psikoterapi melibatkan interaksi sistematis antara klien dan terapis. Sistematis artinya adalah terapis mengarahkan interaksi ini dengan rencana dan tujuan yang merefleksikan sudut pandang teoretis mereka.

Prinsip psikologis

Dalam terapinya, psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip, penelitian dan teori psikologis.

Perilaku, pemikiran dan perasaan

Psikoterapi dapat diarahkan pada domain perilaku, kognitif dan emosional untuk membantu klien mengatasi masalah psikologis dan mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan.

Perilaku abnormal, pemecahan masalah, dan pertumbuhan pribadi

Setidaknya terdapat tiga kelompok orang yang dibantu dalam psikoterapi. Pertama adalah orang-orang dengan masalah perilaku abnormal seperti gangguan mood, kecemasan dan skizofrenia. Kedua adalah orang-orang yang mencari bantuan untuk masalah pribadi yang tidak dianggap sebagai abnormal, seperti rasa malu sosial atau kebingungan dalam memilih karir. Ketiga adalah orang-orang yang mencari pertumbuhan pribadi.

Psikoterapi juga memiliki ciri-ciri lain yaitu psikoterapi melibatkan interaksi verbal. Psikoterapi adalah bentuk pertukaran antara klien dan terapis yang melibatkan pembicaraan atau percakapan. Terapis yang berpengalaman juga sensitif terhadap isyarat nonverbal klien seperti gerak isyarat yang mungkin mengindikasikan perasan dan konflik yang mendasarinya. Terapis juga mencoba menunjukkan empati melalui kata-kata dan juga isyarat nonverbal, seperti mengadakan kontak mata dan posisi badan condong ke depan untuk memperlihatkan minat pada apa yang dikatakan klien.

Ciri umum lainnya dari psikoterapi adalah menanamkan pada klien harapan akan kemajuan. Pada umumnya klien memasuki terapi dengan harapan untuk menerima bantuan dalam mengatasi masalah. Harapan positif dapat menjadi semacam self-fulfilling prophecy dengan mengarahkan klien untuk memobilisasi usaha mereka ke arah penanganan masalah.

Terapi Psikodinamika

Sigmund Freud merupakan perumus teori pertama yang mengembangkan model psikologis dari perilaku abnormal. Beliau juga yang pertama kali mengembangkan model psikoterapi yang disebutnya psikoanalisis untuk membantu orang-orang yang menderita akibat gangguan psikologis. Psikoanalisis merupakan terapi psikodinamika yang pertama. Terapi psikodinamika membantu individu untuk memperoleh insight mengenai dan mengatasi konflik bawah sadar yang dipercaya merupakan akar dari perilaku abnormal. Tujuannya lebih pada menggantikan perilaku defensif dengan perilaku yang lebih adaptif. Dengan demikian, klien dapat menemukan kepuasan tanpa memperoleh hukuman sosial atau menghukum diri sendiri. Dengan mengkonfrontasi impuls-impuls tersembunyi dan konflik-konflik yang dihasilkannya, klien belajar untuk mentortir perasaan dan menemukan cara-cara yang lebih konstruktif dan dapat diterima secara sosial dalam menangani impuls dan harapan.

Metode utama yang digunakan Freud untuk mencapai tujuan ini adalah:

Asosiasi bebas

Asosiasi bebas merupakan peroses pengungkapan tanpa sensor dari pikiran-pikiran segera setelah pikiran masuk di benak kita. Asosiasi bebas dipercaya secara bertahap akan menghancurkan pertahanan yang menghambat kesadaran tentang proses bawah sadar. Klien diminta untuk tidak menyensor atau menyaring pikiran, tetapi membiarkan pikiran mereka mengembara secara bebas dari satu pikiran ke pikiran lain.

Analisis mimpi

Bagi Freud mimpi-mimpi merupakan jalan utama menuju ketidaksadaran. Selama tidur, pertahanan ego melemah dan impuls yang tidak dapat diterima menemukan ekspresinya dalam mimpi. Karena pertahan tidak sepenuhnya dihapuskan, impuls mengambil bentuk yang disamakan atau disimbiolisasikan. Dalam teori psikoanalitik, mimpi memiliki dua tingkatan muatan:

muatan manifes à materi mimpi yang dialami dan dilaporkan.

muatan laten à materi bawah sadar yang disimbolisasikan atau diwakili oleh mimpi.

Transference

Transferensi adalah pengungkapan isi-isi ketidaksadaran yang tersimpan sejak anak-anak dengan memakai terapis sebagai medianya. Freud menemukan bahwa klien berespons kepadanya tidak hanya sebagai individu, tetapi juga dengan cara-cara yang merefleksikan perasaan dan sikap mereka terhadap orang-orang penting dalam kehidupan mereka. Klien dapat bereaksi kepada analisis dengan perasaan marah, cinta, cemburu yang sama dengan yang mereka rasakan tentang orangtua mereka.

Freudian slip

Meliputi salah ucap, salah membaca, salah dengar, salah meletakkan objek, dan tiba-tiba lupa. Semuanya itu menurut Freud bukan kejadian kebetulan, tetapi kejadian yang dipengaruhi oleh insting ketidaksadaran.

Working through

Terus-menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien, mengulang resistensi dan transferensi pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan.

Interpretasi

Mengenalkan kepada klien makna yang tidak disadarinya dari pikiran, perasaan dan keinginannya.

Analisis resistansi

Resitansi adalah mekanisme pertahanan klien, dan analisis akan mengungkapkan unsur yang penting dari masalah yang ingin disembunyikan klien.

Countertransferensi

Transfer dari perasaan atau sikap yang dimiliki analis terhadap orang lain kepada klien.

Terapi Behavioral

Terapi perilaku merupakan aplikasi sistematis dari prinsip-prinsip belajar untuk menangani gangguan psikologis dan fokusnya pada perubahan perilaku, bukan perubahan kepribadian atau menggali masa lalu secara mendalam. Terapi behavioral relatif singkat, berlangsung umumnya dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Terapi perilaku pertama kali memperoleh perhatian yang besar sebagai cara untuk membantu mengatasi ketakutan dan fobia.

Metode-metode dari terapi behavioral adalah :

  1. Desensitisasi sistematis

Melibatkan suatu program terapeutik yang memperlihatkan (dalam imajinasi atau dengan menggunakan gambar atau slide) stimuli yang secara bertahap semakin menakutkan sementara individu merasa sangat santai.

  1. Pemaparan bertahap (gradual exposure)

Orang yang memiliki masalah fobia secara sengaja dipaparkan pada stimuli nyata yang menimbulkan ketakutan. Seperti pada desensitisasi sistematis, individu maju melalui hierarki dari stimuli yang secara bertahap mekin menimbulkan kecemasan, sesuai dengan kemampuannya.

  1. Modelling

Individu mempelajari perilaku yang diharapkan dengan mengamati orang lain melakukannya. Setelah mengamati model, klien diarahkan atau dibimbing oleh terapis atau model untuk melakuka perilaku yang menjadi target.

  1. Pembanjiran (flooding)

Membanjiri klien dengan situasi atau penyebab yang menimbulkan kecemasan atau tingkah laku yang tidak dikehendaki, bertahan di sana sampai klien menyadari bahwa malapetaka yang dicemaskannya tidak terjadi.

  1. Terapi aversif

Pada terapi aversif pengaturan kondisi aversif diciptakan oleh terapis yaitu dengan memasangkan suatu stimulus dengan stimulus yang tidak menyenangkan/negatif.

  1. Selective reward/punishment

Terapis meneliti klien dalam setting aktual, bekerjasama dengan orangtua dan guru untuk memberi hadiah ketika anak melakukan tingkah laku yang dikehendaki dan menghukum kalau muncul tingkah laku yang tidak dikehendaki.

  1. Latihan ketrampilan sosial

Untuk penderita depresi. Teori depresi yang populer memandang depresi sebagai akibat dari perasaan tidak mendapatkan hadia/perhatian dari lingkungan.

  1. Token ekonomy

Hadia dalam bentuk kartu berharga diberikan kepada klien setiap klien memunculkan perilaku yang dikehendaki. Sesudah kartu di tangan klien mencapai jumlah tertentu, dapat ditukar dengan hadiah yang disukai.

Terapi Kognitif

Terapis kognitif berfokus untuk membantu klien mengidentifikasi dan memperbaiki keyakinan-keyakinan maladaptif, jenis berpikir otomatis dan sikap self-defeating yang mengahsilkan atau menambah masalah emosional. Mereka percaya bahwa emosi-emosi negatif seperti kecemasan dan depresi disebabkan oleh interpretasi kita terhadap peristiwa yang menggangu, bukan pada peristiwa itu sendiri. Kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil adalah sebuah contoh dari suatu kesalahan dalam berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif.

Dua terapis kognitif yang menonjol adalah:

  1. Terapi Rasional-Emotif dari Albert Ellis

Ellis percaya bahwa adopsi dari keyakinan irasional dan self-defeating akan meningkatkan masalah psikologis dan perasaan negatif. Kesulitan emosional seperti kecemasan dan depresi tidak disebabkan langsung oleh peristiwa negatif, tetapi lebih oleh bagaimana kita mendistorsi, artinya dengan memandang peristiwa tersebut melalui kacamata gelap keyakinan self-defeating. Pada terapi perilaku rasional-emotif (Rational Emotive behavior Teraphy/REBT), terapis secara aktif mendebat keyakinan irasional klien dan premis-premis yang mendasarinya dan membantu klien untuk mengembangkan keyakinan alternatif dan adaptif.

  1. Terapi Kognitif dari Aaron Beck

Terapi kognitif mendorong klien untuk mengenali dan mengubah kesalahan dalam berpikir, disebut sebagai distorsi kognitif, yang mempengaruhi mood dan menyebabkan hendaya perilaku, seperti kecenderungan untuk membesar-besarkan kejadian negatif dan mengecilkan pencapaian pribadi. Terapis kognitif meminta klien untuk merekam pikiran-pikiran yang muncul akibat kejadian mengecewakan yang mereka alami dan memperhatikan hubungan antara pikiran dengan respons emosional mereka. Hal ini kemudian akan membantu mereka membantah pikiran yang terdistorsi dan menggantikannya dengan alternatif yang rasional.

Terapi Humanistik

Terapis humanistik berfokus pada pengalaman klien yang subjektif dan disadari. Seperti terapis perilaku, terapis humanistik juga lebih berfokus pada apa yang dialami klien saat ini. Akan tetapi, ada juga persamaan antara terapis psikodinamika dan humanistik, keduanya mengasumsikan bahwa masa lalu mempengaruhi perilaku dan perasaan pada masa kini dan keduanya mencoba untuk memperluas self-insight klien. Bentuk utama dari terapi humanistik adalah :

Terapi berpusat individu (client-centered teraphy). Rogers percaya bahwa orang-orang memilki kecenderungan motivasional alami ke arah pertumbuhan, pemenuhan, dan kesehatan. Dalam pandangan Rogers, gangguan psikologis berkembang sebagian besar akibat hambatan yang ditempatkan oleh orang lain dalam perjalanan ke arah self-actualization. Terapi berpusat individu menciptakan kondisi hangat dan penerimaand alam hubungan terapeutik yang membantu klien untuk menjadi lebih sadar dan menerima diri mereka sendiri.

Terapi berpusat individu bersifat tidak mengarahkan. Klien, bukan terapis, yang memimpin dan mengarahkan jalannya terapi. Terapis menggunakan refleksi yaitu pengulangan atau perumusan kembali dari perasaan-perasaan yang diekspresikan klien tanpa menginterpretasi atau memberi penilaian. Terapis yang efektif seharusnya memiliki 4 kualitas atau atribut dasar : penerimaan positif tanpa syarat, empati, ketulusan, dan kongruen.

Pertama, terapis harus dapat mengekspresikan penerimaaan positif tanpa syarat (unconditional positive regrad) kepada klien. Terapis harus bisa menerima klien sebagai pribadi tanpa syarat, walaupun kadang-kadang terapis tidak menyetujui pilihan atau perilaku klien. Terapis yang menunjukkan empati (empathy) dapat merefleksikan atau mencerminkan secara akurat pengalaman dan perasaan klien mereka. Terapis mencoba melihat dunia melalui mata atau kerangka berpikir klien mereka. Ketulusan (genuiness) adalah kemampuan untuk terbuka mengenai perasaan seseorang. Kongruen (congruence) mengacupada kecocokan antara pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Orang yang kongruen adalah yang perilaku, pikiran, dan perasaannya terintegrasi dan konsisten. Terapis yang kongrauen bertindak sebagai model dari integrasi psikologis bagi klien mereka.

Terapi Kognitif-Behavioral (CBT)

Terapi kognitif-bahavioral (Cognitive-Behavioral Teraphy/CBT) berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata, tetapi juga dalam pemikiran, kayakinan dan sikap yang mendasarinya. Terapi kognitif behavioral memiliki asumsi bahwa pola berpikir dan keyakinan mempengaruhi perilaku, dan perubahan pada kognisi ini dapat menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan.

Terapi perilaku-kognitif merupakan teknik yang sedang berkembang pesat sejak dekade yang lalu. Meichenbaum (dalam Ivey, 1993) menggabungkan antara modifikasi perilaku dan terapi kognitif. Terapi perilaku-kognitif didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara resiprok dipengaruhi oleh pemikiran, perasaan, proses fisiologis, serta konsekuensinya pada perilaku. Jadi bila ingin mengubah perilaku yang maladaptif dari manusia, maka tidak hanya sekedar mengubah perilakunya saja, tetapi juga menyangkut aspek kognitifnya.

Terapi perilaku-kognitif terdiri dari berbagai prosedur pelatihan yang berbeda-beda, termasuk di dalamnya antara lain relaksasi, terapi kognitif, dan pemantauan diri. Modifikasi perilaku-kognitif merupakan gabungan terapi perilaku dan terapi kognitif. Dalam pelaksanaannya, terapi perilaku-kognitif menekankan pada pemahaman terhadap aspek pengalaman kognisi yang berbeda-beda misalnya kepercayaan, harapan, imaji, pemecahan masalah.

Terkait dengan perlunya pemahaman tentang prinsip-prinsip terapi perilaku-kognitif, Meichenbaum (dalam Ivey, 1993) mengemukakan 10 hal yang harus diperhatikan seorang terapis dalam penggunaan terapi perilaku-kognitif, yaitu :

1. Terapis perlu memahami bahwa perilaku klien ditentukan oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis, dan akibat yang dialaminya. Terapis dapat memasuki sistem interaksi dengan memfokuskan pada pikiran, perasaan, proses fisiologis, dan perilaku yang dihasilkan klien.

2. Proses kognitif sebenarnya tidak menyebabkan kesulitan emosional, tetapi yang menyebabkan kesulitan emosional adalah karena proses kognitif itu sendiri merupakan proses interaksi yang kompleks. Bagian penting dari proses kognisi adalah meta-kognisi yaitu klien berusaha untuk memberi komentar secara internal pada pola pemikiran dan perilakunya saat itu. Struktur kognisi yang dibuat individu untuk mengorganisasi pengalaman adalah personal schema. Terapis perlu memahami personal schema yang digunakan oleh klien untuk lebih mamahami masalah yang dialami klien. Perubahan personal schema yang tidak efektif adalah bagian yang penting dari terapi.

3. Tugas penting dari seorang terapis adalah menolong klien untuk memahami cara klien membentuk dan menafsirkan realitas.

4. Terapi perilaku-kognitif memahami persoalan dengan pendekatan psikoterapi yang diambil dari sisi rasional atau objektif.

5. Terapi perilaku-kognitif ditekankan pada penjabaran serta penemuan proses pemahaman pengalaman klien.

6. Dimensi yang cukup penting adalah untuk mencegah kekambuhan kembali.

7. Terapi perilaku-kognitif melihat bahwa hubungan baik yang dibangun antara klien dan terapis merupakan sesuatu yang penting dalam proses perubahan klien.

8. Emosi memainkan peran yang penting dalam terapi, untuk itu klien perlu dibawa ke dalam suasana terapi yang mengungkap pengalaman emosi.

9. Terapis perlu menjalin kerjasama dengan pihak keluarga ataupun pasangan klien.

10. Terapi perilaku-kognitif dapat diperluas sebagai proses pencegahan timbulnya perilaku maladaptif.

Terapi perilaku-kognitif terdiri dari bermacam-macam teknik, antara lain :

1. Teknik relaksasi

Teknik ini dilakukan berdasar pada asumsi bahwa individu dapat secara sadar untuk belajar merilekskan otot-ototnya sesuai dengan keinginannya melalui suatu cara yang sistematis (Jacobson dalam walker dkk.,1981). Ada bermacam-macam teknik relaksasi, salah satunya yaitu teknik relaxation via letting go agar subjek mampu melepaskan ketegangan dan akhirnya mencapai keadaan tanpa ketegangan. Diharapkan subjek belajar menyadari ketegangannya dengan menegangkan otot-ototnya dan berusaha untuk sedapat mungkin mengurangi dan menghilangkan ketegangan otot tersebut. Selain itu dilatihkan pula teknik differential relaxation yang mengajarkan kepada subjek ketrampilan untuk merilekskan otot-otot yang tidak mendukung aktivitas yang dilakukan, karena dalam keadaan cemas seluruh otot cenderung tegang, walau otot tersebut kurang berperan dalam aktivitas tertentu.

2. Teknik pemantauan diri

Teknik ini berfungsi sebagai alat pengumpul data sekaligus berfungsi terapeutik. Dasar pemikiran teknik ini adalah pemantauan diri terkait dengan evaluasi diri dan pengukuhan diri (Kanfer, dikutip Andajani, 1990). Subjek memantau dan mencatat perilakunya sendiri, sehingga lebih menyadari perilakunya setiap saat.

Beberapa langkah dalam teknik pemantauan diri adalah sebagai berikut :

(a) Mendiskusikan dengan subjek tentang pentingnya subjek memantau dan mencatat perilakunya secara teliti.

(b) Subjek dan terapis secara bersama-sama menentukan jenis perilaku yang hendak dipantau.

(c) Mendiskusikan saat-saat pemantauan dilaksanakan.

(d) Terapis menunjukkan pada subjek cara mencatat data.

(e) Role play. Pemantauan diri hendaknya dilakukan untuk satu jenis perilaku dan relatif merupakan respon yang sederhana (Kanfer, 1975).

  1. Teknik kognitif

Dasar pikiran teknik kognitif adalah bahwa proses kognitif sangat berpengaruh terhadap perilaku yang ditampakan oleh individu. Burns (1988) mengungkapkan bahwa perasaan individu sering dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan individu mengenai dirinya sendiri. Pikiran individu tersebut belum tentu merupakan suatu pemikiran yang objektif mengenai keadaan yang dialami sebenarnya. Penyimpangan proses kognitif oleh Burns (1988) juga disebut dengan distorsi kognitif. Pemikiran Burns merupakan pengembangan dari pendapat Goldfried dan Davison (1976) yang menyatakan bahwa reaksi emosional tidak menyenangkan yang dialami individu dapat digunakan sebagai tanda bahwa apa yang dipikirkan mengenai dirinya sendiri mungkin tidak rasional, untuk selanjutnya individu belajar membangun pikiran yang objektif dan rasional terhadap peristiwa yang dialami.

  1. Kasus Baby Blues

Kasus 1 : beberapa kasus ibu dengan baby blues

Aruni, anak pertama Melati (29), sudah berusia satu tahun. Namun Melati masih sering merasa bayi itu tiba-tiba terlepas dari pelukannya saat Melati berdiri di ketinggian. Padahal dia tidak sedang menggendongnya. Namun Melati merasa bayangan itu adalah kenyataan. Kalau perasaan itu datang, keringat dinginnya mengalir. Tak mudah bagi Melati menghilangkan bayangan mengerikan itu meski hal mengerikan lainnya sudah ia lewati. “Waktu Aruni masih lebih kecil, saya sering membayangkan ada pisau menancap di perutnya,” ujar Melati. Bayangan tentang pisau yang menancap di perut sebenarnya sudah mulai mengganggu ketika usia kandungannya semakin tua. Perasaan tidak menentu menyertai Melati seusai kelahiran Aruni. Yang dominan, rasa ingin marah terus. “Saya kasihan pada suami karena ia sudah berusaha keras untuk membantu, termasuk bangun malam. Tapi sedikit saja kekeliruan bisa membuat saya meledak,” kenang Melati. Tak jarang Melati merasakan banyak kekhawatiran; khawatir tak bisa menjadi ibu yang baik dan lain-lain. Juga rasa sedih yang tak tentu sebab. Kadang ia merasa berada di padang luas tanpa batas. Sendirian. Sunyi. Perasaan kosong yang teramat dalam, yang tak pernah bisa ia bagi kepada siapa pun.


Meski tidak separah Melati, Sally Dwi Anda (35) merasakan sebagian hal yang sama. Seminggu setelah melahirkan, Sally mengalami rasa sedih berlebihan. Padahal orang-orang terdekatnya, seperti orangtua dan suami, sangat mendukungnya. Setiap malam, Guirino, sang suami, ikut mengganti popok anaknya yang basah. “Gue bangun tinggal kasih susu ke Sheila saja,” ujarnya.


Banyak perempuan mengalami perasaan berubah-ubah secara ekstrem (mood swings) pascamelahirkan. Semua perempuan berpotensi mengalaminya, termasuk aktivis yang tercerahkan dengan suami yang sungguh-sungguh sangat mendukung.

“Waktu melahirkan Bram, sampai usia enam-tujuh bulan, saya punya perasaan aneh. Pada suami saya, saya sering bilang, ’Benda apa sih ini yang bisanya nangis, kencing, dan pup.’ Padahal suami saya yang mengurus bayi itu, bahkan suami yang menyodorkan bayi itu untuk saya susui,” kenang Ranti (43) saat melahirkan anak pertamanya, Bram, kini 19 tahun dan sudah kuliah.

Ririe (32) mengalami hal sama. Setelah melahirkan, ia merasa semua beban keluarga ditimpakan kepadanya. Kesedihan yang luar biasa sering ia rasakan, terutama kala menatap anaknya yang sedang tidur. Muncul perasaan ia tidak mampu memberikan yang terbaik untuk Rheesa (enam bulan). Beban psikologis itu terasa semakin berat ketika Paskalis, suami Ririe, tidak banyak membantu setelah Ririe melahirkan. Berbeda dengan suami Melati, Sally, dan Ranti, suami Ririe tertidur pulas ketika Ririe bangun tengah malam untuk mengganti popok anaknya. Padahal sebelumnya ia berharap sang suami bisa membantu karena jam kantornya siang. Pagi hari, suaminya juga tidak mau membawa anaknya jalan-jalan atau berjemur mendapatkan sinar matahari. “Setelah ngomel, suami saya baru mau,” lanjut Ririe. Kalau perasaan negatif itu datang, Ririe mengaku sering menangis tersedu-sedu di depan anaknya yang tertidur pulas. Dengan menangis, Ririe memeluk anaknya sambil minta maaf. Selama lebih tiga bulan Ririe mengalami gejolak emosi yang sangat tidak stabil. Terkadang ia merasa bahagia dianugerahi seorang anak, lalu muncul kesedihan yang luar biasa. Ia juga merasa kebebasan dan privasinya sangat berkurang karena waktunya habis untuk mengurus anak. Padahal, selama masa kehamilan, Ririe sudah mempersiapkan secara matang perawatan anak pertamanya yang akan lahir. Ia membaca semua buku menjelang kelahiran anak pertamanya itu. Ririe yang tinggal jauh dari mertua dan orangtua merasa sudah siap mental untuk mengasuh dan merawat bayi. Namun perkiraannya meleset. Setelah melahirkan, secara teknis Ririe memang tidak canggung lagi merawat dan mengasuh anaknya. Akan tetapi tidak secara psikologis. Petunjuk “ilmu” yang ia pelajari dari buku ternyata tidak mendapat dukungan dari lingkungan terdekatnya. Pengasuh bayi yang ikut merawat Rheesa tidak mau mendengarkan saran-saran Ririe.

Kasus 2: Curahan hati ibu yang menderita baby blues

Perceraian Nita dan Surya terjadi, saat putera mereka belum genap berusia satu tahun, artinya usia pernikahan itu sendiri belum dua tahun. Nita banyak menyalahkan dirinya sendiri. Pasca melahirkan Nita mengalami depresi. Dimana Nita menjadi orang yang tidak percaya diri, merasa jelek, merasa tidak berarti apa-apa dan menjadi paranoid. Takut di tinggal suami, takut suaminya pergi tak kembali, hinggal menyesalkan kehadiran bayinya. Nita merasa bayinyalah yang menjadi penyebab ia tidak bisa bekerja. Cerita Nita amat mengejutkanku.

Tapi ketika masa cutimu habis, kamu berkerja kembali, aku tidak melihat ada yang salah?” Ujarku bingung.

Mendekati berakhirnya masa cuti, aku sudah bisa mengendalikan diri”. Jawabnya sambil tersenyum.

Lalu, apa permasalahannya sampai kamu bercerai?” tanyaku semakin penasaran.
“Entahlah aku pun sampai saat ini tak paham, mengapa akhirnya bercerai. Mungkin sakit hati. Aku merasa di tolak. Kamu masih ingat Mba, waktu Bang Surya datang ke studio saat akan study ke Australia?” tanya Nita sambil memandangku.
“Yap, aku masih hamil waktu itu. Tunggu, waktu itu kamu sudah bercerai?” tanyaku?.
“ Sudah! Saat itu Bang Surya memberitahukan aku jadwal keberangkatannya di tunda karena Bang Surya akan menikah.” Ujar Nita santai.

Aku tidak mengerti!” Ujarku sambil menatapnya.

Ketika aku mengalami depresi sesudah melahirkan, ibu Bang Surya menganggapku tidak normal. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Keluarga besar Bang Surya mendesak Bang surya untuk menceraikan ku.

Sebentar Nit. Stop dulu cerita Bang Surya dengan istri barunya. Aku ingin tahu habis kamu melahirkan, kamu tinggal dimana?”

Tinggal di rumah Bang Surya dengan orang tua dan satu adik perempuannya. Adik laki-laki Bang Surya bekerja di Yogja!. Mengapa?”

Apakah keluarga kamu tahu, kalau kamu mengalami depresi pasca melahirkan?” tanyaku lagi.

Ya, enggaklah Mba. Dan memangnya aku tahu, kalau waktu itu namanya depresi?” Nita balik bertanya.

Maksudmu?”
”Istilah depresikan baru aku pahami beberapa waktu lalu. Ternyata kasus yang kualami, banyak juga dialami perempuan lain. Cuma bedanya perempuan lain di bantu suami dan keluarganya untuk mengupayakan penyembuhan, sedangkan aku di vonis tidak normal. Sehingga di ceraikan dianggap jalan keluar satu-satunya!” Ujar Nita.

Bang Surya memenuhi keinginan orang tuanya untuk menceraikanmu?”
”Orang tua Bang Suryapun tidak beringinan memelihara Faiz yang tak lain cucunya sendiri. Mereka beranggapan bisa jadi anakku juga tidak normal”.

Kali ini Nita mengatakan dengan wajah menerawang jauh.

Tapi Bang Surya sendiri bagaimana? Apakah dia sudah tidak mencintaimu lagi? Juga anaknya?” tanyaku?

Mungkin waktu itu Bang Surya juga kehabisan rasa sabarnya dalam menghadapiku. Setiap Bang Surya akan berangkat kerja, aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut Bang Surya tidak pulang dan kembali padaku. Walaupun kenyataannya tiap sore juga pulang. Aku punya perasaan takut, ngeri, jijik terhadap bayiku sendiri. Aku tidak mau menggendongnya karena aku takut kalau kesadaranku hilang, aku akan menjatuhkan bayiku”. Ujar Nita sambil menarik nafas. Lalu ia melanjutkan.

Aku menjadi orang yang menakutkan. Aku tidak mempercayai siapapun. Aku merasa semua orang tidak menginginkan ku. Jika ada keluarga yang berkunjung mereka hanya melihat bayiku. Puncaknya, Bang Surya mengupah perawat untuk mengurusku dan bayi kami. Saat itulah aku semakin yakin aku akan di buang. Bayiku di pisahkan dari aku. Aku masih tidur seranjang dengan bang Surya tapi lama-kelamaan Bang Surya lebih sering tidur di kamar bayi. Dan hubungan kami menjadi tawar. Mungkin Bang Surya merasa, aku mengecewakannya dan dalam kekecewaannya, ia menemukan perempuan lain yang bisa mengobati rasa kecewanya.


  1. Pendekatan Kognitif-Behavioral Untuk Penanganan Baby Blues

Baby blues atau depresi pasca melahirkan adalah depresi yang dialami ibu setelah melahirkan yang berkaitan dengan perubahan mood yang parah dan persisten selama beberapa bulan atau bahkan setahun atau lebih.

Gejala depresi yang paling umum pasca-melahirkan adalah perasaan kosong yang luar biasa (emptiness), diikuti dengan perasaan lainnya seperti kehilangan nafsu makan, hilangnya kesenangan dalam hidup, energi dan motivasi, perasaan tidak berguna, tidak berharga, banyak menangis, tanpa harapan dan rasa bersalah yang keterlaluan, dan ketakutan yang luar biasa bayinya akan tersakiti atau disakiti orang lain.

Munculnya depresi pasca-melahirkan bisa dipicu oleh adanya depresi prenatal. Nancy K. Grote, Ph.D, MSW, Direktur Promoting Healthy Family Program School of Social Work dari Universitas Pittsburgh, menyebut beberapa tanda depresi prenatal. Misalnya, perasaan sedih, susah tidur, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, mudah marah dan tersinggung, merasa begitu lemah, merasa tidak berharga dan merasa bersalah, sulit berkonsentrasi dan berpikir jernih.  Lebih parah lagi, depresi ketika hamil juga sering membuat penderitanya berpikir soal kematian dan tidak lagi bergairah untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti bersenda gurau, bekerja, makan, dan melakukan hubungan seks dengan suami.  Tapi masalahnya, seringkali wanita hamil yang merasakan hal-hal di atas tidak menyadari bahwa dirinya sedang depresi.

Menurut Nancy, berbagai hasil penelitian membuktikan kalau depresi prenatal ini mendorong timbulnya depresi pasca-persalinan (postnatal) yang sering disebut dengan baby blues. Rangkaian depresi itu berakibat fatal, karena depresi postnatal bisa mengurangi kemampuan si ibu untuk membina kedekatan dengan bayinya.  Akibatnya bayi pun tidak merasa aman berada di dekat ibunya sendiri.

Kondisi ini tentu sungguh memprihatinkan.  Di Amerika, tercatat 10%-26% wanita mengalami depresi saat hamil.  Jadi, tak ada tawar menawar lagi bagi wanita hamil yang menderita depresi. Mereka harus  segera mencari bantuan agar ia terbebas dari depresi sebelum bayinya lahir.  Jika tidak, ia tidak hanya mempertaruhkan dirinya, tapi juga masa depan anak-anaknya.

Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya depresi pasca-melahirkan. Di antaranya, depresi sebelum melahirkan, depresi yang tidak terkait dengan kehamilan, sindroma premenstruasi yang berat, perkawinan yang sulit, tak banyak anggota keluarga yang bisa diajak bicara, dan kehidupan penuh tekanan selama masa kehamilan dan melahirkan. Faktor endokrin diduga berperan dalam etiologi depresi pasca-melahirkan. Dalam kurun 1 sampai 42 hari setelah melahirkan, terjadi perubahan hormon estrogen dan progesteron yang sangat berarti.

Terapi Kognitif-Behavioral (cognitive-Behavioral Teraphy/CBT) untuk penderita baby blues

Sebelum proses terapi dimulai, terapis perlu terlebih dahulu menjelaskan susunan terapi kepada subjek, yang meliputi penjelasan tentang sudut pandang teori terapi perilaku dan teori terapi kognitif terhadap perilaku yang tidak adaptif, prinsip yang melandasi prosedur terapi perilaku-kognitif, dan tentang langkah-langkah di dalam terapi. Penjelasan ini penting perannya untuk meningkatkan motivasi individu dan menjalin kerjasama yang baik. Perlu pula dijelaskan bahwa fungsi terapis hanyalah sebagai fasilitator timbulnya perilaku yang dikehendaki, dan individu yang berperan aktif dalam proses terapi (Ivey, 1993). Oleh karena itu individu harus benar-benar terampil menggunakan prinsip-prinsip terapi kognitif dan terapi perilaku dengan masalah yang dialaminya, dan peran terapis penting dalam mengajak individu memahami perasaannya dan teknik terapi yang efektif untuk terjadinya perubahan perilaku yang dikehendaki.

Pertama-tama untuk klien penderita baby blues, terapis berusaha mengubah pola pikir klien yang terdistorsi dengan pikiran yang lebih adaptif. Kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil (merasa gagal menjadi ibu yang baik) adalah suatu contoh dari suatu kesalahan dalam berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif. Psikiater David burns (1980) menyusun sejumlah distorsi kognitif yang diasosiasikan dengan depresi, yaitu :

  1. Cara berpikir semua atau tidak sama sekali (all or nothing thinking)

Seorang penderita baby blues mungkin berpikir semua tentang suaminya baik dan semua tentang dirinya sendiri jelek.

  1. Generalisasi yang berlebihan

Bagi ibu yang menderita baby blues, bayi yang sering menangis digeneralisasikan bahwa dirinya tidak bisa merawat bayi untuk selamanya.

  1. Filter mental atau abstraksi selektif

Fokus pada unsur-unsur negatif saja dan menolak unsur-unsur positif. Ibu penderita baby blues hanya melihat hal negatif dari dirinya seperti gagal merawat bayi, mengecewakan suami.

  1. Mendiskualifikasikan hal-hal positif

Menolak ucapan-ucapan positif dan mengingkari pencapaian-pencapaian yang telah dilalui. Biasanya ibu penderita baby blues mengingkari hal positif seperti dirinya telah mengandung selama 9 bulan, berjuang saat melahirkan dan susah payah merawat bayi. Yang dilihat hanya ketidakmampuannya merawat bayi sehingga bayi menangis terus dan mengecewakan suami.

  1. Tergesa-gesa membuat kesimpulan

Ibu penderita baby blues menyimpulkan bahwa bayi yang terus menangis adalah karena dirinya gagal menjadi ibu yang baik dan menyimpulkan sifat suami yang acuh sebagai kesalahannya tidak bisa menjadi istri yang baik. Padahal belum tentu kesimpulannya benar.

  1. Membesar-besarkan dan mengecilkan

Membesar-besarkan kesalahan bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab mengapa bayi menangis terus. Suami yang kurang perhatian dianggap sudah tidak cinta lagi atau membencinya.

  1. Penalaran emosional

Segala sesuatu ditanggapi dengan emosi bukan dengan pikiran. Ibu penderita baby blues menginterpretasikan perasaan dan peristiwa berdasarkan emosi dan bukan pada pertimbangan-pertimbangan yang adil terhadap bukti.

  1. Pernyataan-pernyataan keharusan

Menciptakan perintah personal seperti sebagai seorang ibu harus bisa merawat anaknya, memberikan ASI dan juga membahagiakan suami. Ibu harus menjadi supermom yang bisa menghandel segalanya. Padahal tidak harus seperti itu.

  1. Memberi label dan salah melabel

Memberi label pada dirinya sendiri bahwa ia bukan ibu yang baik dan tidak pantas menjadi ibu.

  1. Melakukan personalisasi

Menganggap semua yang terjadi adalah kesalahannya. Dia yang bertanggung jawab atas masalah dan perilaku orang lain, seperti perilaku suami yang kurang perhatian dianggap sebagai kesalahan dia yang tidak bisa membahagiakan suami.

Pikiran-pikiran yang terdistorsi tadi terlebih dulu harus diubah sebelum melakukan tindakan lebih lanjut dan tugas terapis membantu klien mengubah pola pikir tadi menjadi pola pikir yang lebih adaptif dan rasional. Terapis menunjukkan pada klien bahwa dia mengalami depresi pasca-melahirkan yang biasanya dipengaruhi hormon, stres dan perubahan dalam tubuh sehingga klien memahami bahwa apa yang dialaminya adalah normal. Meyakinkan klien bahwa depresi tersebut bisa disembuhkan.

Teknik-teknik yang digunakan adalah relaksasi, pemantauan diri dan terapi kognitif. Sebelum klien mengungkapkan pikiran-pikirannya, klien diminta melakukan relaksasi dulu untuk menenangkan pikiran dibantu oleh terapis. Lalu setelah klien lebih relaks, terapis memulai terapi kognitif yaitu dengan mendorong klien mengungkapkan pikiran-pikiran yang muncul akibat kejadian yang mengecewakan, misalnya apa yang ada dalam pikiran klien saat bayi selalu menangis, suami yang tidak peduli, ASI yang tidak keluar, tidak ada dukungan sosial, frustasi karena bayi tidak mau tidur, kelelahan pasca melahirkan dan peristiwa-peristiwa lain yang mengecewakan.

Setelah klien mengungkapkan pikiran-pikiran negatif itu, terapis berusaha melihat hubungan antara pikiran dengan respons emosional klien. Dengan begitu terapis bisa membantah pikiran yang terdistorsi dari klien. Biasanya saat menghadapi peristiwa-peristiwa itu, klien selalu menyalahkan diri, bahwa semua yang terjadi adalah akibat kesalahannya (personalisasi), merasa tidak bisa jadi ibu yang baik sehingga mengalami ketakutan.

Setelah klien mengutarakan pikiran-pikirannya tersebut, terapis membantah dengan rasionalisasi, misalnya saat klien merasa tidak bisa jadi ibu yang baik, terapis bisa membantah dengan mengatakan “kenapa ibu merasa tidak bisa jadi ibu yang baik? padahal selama ini ibu merawat bayi ibu, menyayanginya, menyusuinya, rela terjaga tengah malam jika bayi menangis. Ibu juga berjuang dengan mengandung selama 9 bulan dan berjuang saat melahirkan dengan segala kemampuan yang ibu miliki bahkan nyawa sebagai taruhannya, benarkan? Ibu tidak harus melakukan semuanya sendirian, ibu juga tidak harus menjadi supermom.”

Terapis terus membantu klien mengubah pola pikir yang salah dari klien bahwa perasaan-perasaan depresi yang dialaminya berasal dari pikiran-pikiran negatifnya sendiri. Terapis membantu klien dalam menghubungkan pola-pola pikiran pada mood yang negatif dengan cara meminta mereka melakukan pemantauan diri, yaitu dengan memonitor pikiran-pikiran negatif otomatis yang mereka alami sepanjang hari menggunakan buku harian atau catatan harian. Terapis menyuruh klien menulis buku harian. Jadi ketika klien menghadapi peristiwa yang menyebabkan sedih atau takut, klien diminta menuliskan pikiran-pikiran yang muncul saat peristiwa itu terjadi.

Mengubah pola pikir saja tidak cukup, tetapi harus diikuti adanya perubahan perilaku (terapi perilaku). Ibu yang menderita depresi pasca-melahirkan biasanya takut menyentuh bayinya, tidak mau menyusuinya, atau menolak kehadiran bayi. Untuk itu, perlu adanya perubahan perilaku bagaimana agar ibu tersebut bisa mendekati bayinya tanpa takut, bisa menyusuinya, dsb.

Di sini terapi behavioral diperlukan untuk mengubah perilaku ibu. Setelah tadi klien diminta menulis buku harian, terapis memberikan reward jika klien bisa melakukan aktivitas tersebut. Klien diminta mulai melakukan aktivitas sehari-hari yang disukainya. Sedikit demi sedikit mulai mendekati bayi, jika merasa tegang atau takut, klien diminta melakukan relaksasi dulu.

Terus seperti itu sampai akhirnya klien berani mendekati bayinya. Perubahan pada pola pikir pasti akan menimbulkan perubahan perilaku. Saat klien sudah tidak menyalahkan diri sendiri lagi, sudah tidak membesar-besarkan atau sudah mengembangkan pikiran yang lebih adaptif dan rasional, maka perilaku klien dalam menghadapi bayi dan tugas barunya sebagai ibu akan berubah juga karena klien sudah bisa menerima keadaan. Berbagi pekerjaan dalam perawatan anak dengan suami, dan mencari kelompok pendukung adalah hal lain yang bisa dilakukan.

Dalam menangani depresi pasca-melahirkan, dukungan dari suami dan keluarga dekat sangat dibutuhkan guna mempercepat proses penyembuhan. Jangan sampai ibu yang menderita baby blues ditinggalkan dan merasa sendirian. Baik pihak penderita, suami, orangtua dan mertua harus tahu apa yang terjadi pada ibu agar bisa memberikan penanganan yang tepat.

Referensi

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Nevid, Jeffrey S. dkk. 2005. Psikologi Abnormal jilid 1. Jakarta: Erlangga

Subandi, M.A. 2002. Psikoterapi pendekatan konvensional dan kontemporer. Yogyakarta: unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM

Wulandari, Lita Hadiati. ____. Efektivitas Modifikasi Perilaku – Kognitif Untuk Mengurangi Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi. [online] Diambil tanggal 18 April 2008. Diambil dari http://209.85.175.104/search?q=cache:y9JlTbhxxMJ:library.usu.ac.id/download/fk/psiko-lita.pdf+terapi+kognitif&hl=en&ct=clnk&cd=6&gl=id

_______. 2001. Masa Kegelapan Pasca-melahirkan. [online] Diambil tanggal 18 April 2008. Diambil dari http://www.kompas.co.id

_______. ____. Baby Blues (stress setelah melahirkan). [online] Diambil tanggal 18 April 2008. Diambil dari http://www.dunia-ibu.org/html/baby_blues.html

_______. ____. Depresi Pasca Melahirkan Kisah Seorang Teman. [online] Diambil tanggal 18 April 2008. Diambil dari http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/depresi-pasca-melahirkan.html

_______. ____. Mengatasi Depresi Saat Hamil. [online] Diambil tanggal 18 April 2008. Diambil dari http://naya.web.id/2007/06/06/mengatasi-depresi-saat-hamil/

Otak kanan

Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Orang Mesir kuno dipercaya telah menemukan bahwa sisi kiri otak ternyata mengatur bagian kanan tubuh kita, sedangkan sisi kanan otak bertugas untuk mengatur bagian yang sebaliknya, yaitu bagian kiri tubuh kita.

Pada tahun 1962 seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Belahan otak kiri lebih bersifat harfiah yakni berhubungan dengan logika, analisa, bahasa, rangkaian (sequence) dan matematika. Jadi belahan otak kiri berespons terhadap masukan-masukan di mana dibutuhkan kemampuan mengupas/meninjau (critiquing), menyatakan (declaring), menganalisa, menjelaskan, berdiskusi dan memutuskan (judging). Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika.

Belahan otak kanan bersifat metaforis yaitu berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Jadi belahan otak kanan berfungsi kalau manusia menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan aktivitas motorik lainnya. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam hampir semua proses pemikiran.

Dalam belajar, anak otak kanan perlu merekam dahulu sebelum melakukan eksekusi persoalan, dan proses perekaman itu pada tahap awal memerlukan waktu sekitar 10 detik dan jika sudah terbiasa waktunya hanya 1 atau 2 detik saja, sementara otak kiri langsung mengeksekusi baru kemudian merekam.

Otak kanan mempunyai fungsi dan cara belajar yang khusus yaitu:

  1. Lebih suka dengan hal-hal yang bersifat acak

  2. Belajar maksimal dari hal–hal yang bersifat global dulu, baru kemudian ke hal-hal yang bersifat detail

  3. Lebih menyukai sistem membaca yang bersifat menyeluruh (whole language)

  4. Menyukai gambar dan grafik

  5. Lebih suka melihat dulu atau mengalami sesuatu

  6. Ingin mengumpulkan informasi mengenai hubungan antara berbagai hal

  7. Lebih menyukai lingkungan belajar yang bersifat spontan dan alamiah

  8. Mengalami lebih banyak fokus eksternal

  9. Ingin pendekatan yang bersifat terbuka, baru, dan memberikan kejutan-kejutan yang menantang

Cara berpikir otak kanan sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui hal-hal yang bersifat non-verbal seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkaitan dengan perasaan, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, kreativitas, musik, seni, serta kepekaan warna. Selama ini pengajaran di sekolah-sekolah lebih menekankan pada pengembangan otak kiri. Namun, peran otak kanan kini mulai diperhitungkan karena kalau kita dapat memberdayakan otak kanan yang sarat akan hal-hal yang bersifat eksperimental, divergen, bukan penilaian, metaforikal, intuitif, difusi, holistik, reseptif, subjektif dan non-verbal ini, maka ada kecenderungan bahwa kita akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.

Hasil penelitian baru yang dipresentasikan oleh Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace Collage di Berea, Ohio, mengatakan bahwa anak-anak yang orangtuanya benar-benar membiarkan anaknya akan menjadi lebih kreatif jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya lebih banyak terlibat dalam proses kreativitas mereka.

Kreativitas

Menurut kamus Webster, kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang ditandai dengan orisinalitas dalam berekspresi yang bersifat imajinatif. Yang paling menonjol dalam kreativitas adalah orisinalitas. Artinya adalah bahwa suatu produk, proses, atau orangnya mampu menciptakan sesuatu yang belum diciptakan oleh orang lain.

Ciri-Ciri Anak Kreatif

Anak kreatif memiliki ciri-ciri tersendiri. Biasanya, anak yang kreatif memilki sifat-sifat seperti : selalu ingin tahu, memiliki minat ynag sangat luas, dan suka melakukan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja yang kreatif biasanya cukup mandiri dan percaya diri.

Berbicara masalah kreativitas, biasanya orang mengaitkan dengan inovasi. Ada kreatif, dan ada pula inovatif. Kalau kreativitas biasanya yang menonjol adalah orisinalitasnya. Sedangkan dalam inovasi, yang terjadi adalah semacam proses penyempurnaan suatu produk atau proses yang sudah ada. Jadi perbedaan utama kreativitas dan inovasi adalah bahwa inovasi harus sudah ada produk atau prosesnya, kemudian dibuat lebih praktis, murah, menarik, cantik, atau secara menyeluruh lebih menarik.

Menurut para ahli, anak yang kreatif memiliki spontanitas dan energi yang luar biasa. Mereka memiliki sifat sebagai petualang. Pribadi yang kreatif biasanya memiliki rasa humor yang tinggi, deapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut, serta memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu ide yang baru, konsep-konsep atau keinginan yang diimajinasikan yang dituangkan menjadi berbagai penemuan, karya sastra atau seni.

Mengembangkan Kreativitas Anak Sejak Dini

  1. Bangunlah minat untuk beraktivitas di alam terbuka, seperti senam di alam terbuka, memancing, sepeda santai, dan jogging.

  2. Rangsanglah otak kanan anak melalui kegiatan music and movement (gerak dan lagu) atau dengan memainkan alat musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama. Dengarkan muisk atau radio dengan memejamkan mata.

  3. Latihlah diri anak dengan berpikir divergen (menyebar), meloncat-loncat, dan mendengarkan hal-hal yang jenaka.

  4. Lakukan dengan pendekatan keagamaan, yakni dengan mengingat Yang Maha Pencipta di dalam hati. Bagi seorang yang beragama Islam, dzikir, sholat tahajjud, puasa serta melakukan amalan-amalan sunnah lainnya terbukti dapat mencerdaskan otak belahan kanan. Bagi yang menganut agama Islam, ajarilah anak untuk taat menjalankan ibadah sholat dan ibadah lainnya sejak anak usia dini.

Peran Orangtua dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Peran orangtua yang tepat dalam memupuk kreativitas anak akan menentukan tingkat kreativitas anak. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas anak ini menurut Prof. Dr. S.C. Utami Munandar Dipl. Psych. Adalah melalui pendekatan empat P yang meliputi aspek pribadi, pendorong, proses dan produk.

  • Pribadi. Sebagai orangtua atau pendidik, hendaknya menyadari bahwa setiap anak merupakan pribadi yang unik, yang tidak sama antara anak yang satu dengan anak yang lain. Menyamakan anak yang satu dengan anak yang lain berarti mengingkari anak sebagai individu yang tentunya mempunyai keunikan tersendiri. Kreativitas merupakan ungkapan dari keunikan individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

  • Pendorong. Orangtua hendaknya selalu memberikan dorongan dan dukungan kepada anak agar bakat kreatif yang dimiliki oleh setiap anaknya dapat berkembang. Ada dua macam dorongan, yaitu dorongan dan dukungan yang bersifat eksternal maupun yang bersifat internal. Dorongan yang bersifat eksternal adalah pendorong dari luar diri individu seperti pujian, lingkungan yang menghargai sedangkan motivasi yang bersifat internal merupakan hasrat dan motivasi yang kuat yang berasal dari anak itu sendiri.

  • Proses. Kreativitas itu memerlukan proses. Di dalam proses menjadi kreatif, di sini lebih ditekankan pada kegiatan menyibukkan diri secara aktif. Artinya kreativitas lebih ditinjau dari aspek kegiatan bermain dengan gagasan-gagasan dalam pikiran tanpa terlalu menekankan pada apa yang dihasilkan oleh proses tersebut. Dalam hal ini, yang penting adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif.

  • Produk. Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan dan menghasilkan produk-produk baru. Pengertian baru di sini tidak harus selalu baru sama sekali. Akan tetapi, dapat pula berupa kombinasi dari beberapa hal yang sebelumnya belum pernah ada.

Masa Peka Anak, Masa Mengoptimalkan Imajinasi dan Kreativitas Anak

Semenjak anak lahir ke dunia, di dalam otaknya sudah terdapat semua kecerdasan yang tinggi. Perawatan yang baik selama lebih dari tujuh tahun pertama kehidupan manusia dapat mengungkap kecerdasan tersebut. Beberapa hal yang harus dipenuhi agar kecerdasan tersebut dapat terawat dengan baik meliputi :

  1. Struktur syaraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energi dapat meningkat ke tingkat yang lebih tinggi.

  2. Anak harus merasa aman, tidak tertekan baik secara fisik maupun emosional.

  3. Harus ada model yang memberikan rangsangan yang wajar.

Anak yang berusia nol sampai enam atau tujuh tahun merupakan masa-masa yang sangat menentukan bagi masa depannya. Hal ini bukan berarti menganggap sepele masa-masa sesudahnya. Anak setelah melewati usia masa peka tersebut tetap perlu mendapatkan perhatian dari orangtua untuk mengembangkan kreativitas anak. pengasuhan dan pendidikan anak pada masa peka ini sangat ditekankan karena pada masa tersebut otak kanan berkembang dengan pesatnya dan mampu menyerap banyak informasi, bagai sebuah spon. Oleh karena itu, orangtua dituntut bijak dalam mengasuh dan mendidik anaknya agar kecerdasan dan kreativitasnya berkembang dengan baik.

Bermain

1. Karakteristik Bermain Anak.

Pada hakikatnya anak selalu termotivasi untuk bermain. Artinya bermain secara alamiah memberi kepuasan pada anak. Melalui bermain bersama dalam kelompok atau sendiri tanpa orang lain, anak mengalami kesenangan yang lalu memberikan kepuasan baginya.

Beberapa karakteristik bermain anak yaitu :

  1. bermain relatif bebas dari aturan-aturan, kecuali anak-anak membuat aturan mereka sendiri;

  2. bermain dilakukan seakan-akan kegiatan itu dalam kehidupan nyata (bermain drama)

  3. bermain lebih memfokuskan pada kegiatan atau perbuatan dari pada hasil akhir atau produknya

  4. bermain memerlukan interaksi dan keterlibatan anak-anak.

2. Arti bermain bagi anak

  1. Anak memperoleh kesempatan mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya.

  2. Anak menemukan dirinya, kekuatan dan kelemahannya, kemampuan serta juga minat dan kebutuhannya.

  3. Memberikan peluang bagi anak untuk berkembang seutuhnya, baik secara fisik, intelektual, bahasa, psikososial serta emosional.

  4. Anak terbiasa menggunakan seluruh aspek pancaindranya sehingga terlatih dengan baik.

  5. Secara alamiah memotivasi anak untuk mengetahui sesuatau lebih mendalam lagi.

3. Manfaat Bermain bagi Anak

  1. Bermain memicu kreativitas

Dalam lingkungan yang aman dan menyenangkan, bermain memacu anak menemukan ide-ide serta menggunakan daya khayalnya. Hasilpenelitian mendukung dugaan bahwa bermain dan kreativitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas mengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol (Spodek & Sarcho dalam Montolalu). Saat anak menggunakan daya khayalnya dalam bermain, dengan atau tanpa alat, mereka lebih kreatif.

2. Bermain bermanfaat mencerdaskan otak

Bermain merupakan sebuah media yang sangat penting bagi proses berpikir anak. Bermain membantu perkembangan kognitif anak. Bermain memberi kontribusi pada perkembangan intelektual atau kecerdasan berpikir dengan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya cara berpikir mereka.

3. Bermain bermanfaat menanggulangi konflik

Perilaku yang sering muncul saat usia TK adalah perilaku menolak, bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerjasama, egois, simpatik, marah, ngambek dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka. Dapat dimengerti bahwa periode ini dapat memunculkan konflik, namun perilaku tersebut diatas diperlukan pemunculannya untuk mengarahkan anak-anak yang asosial dan egois menjadi mahkluk-makhluk sosial.

4. Bermain bermanfaat untuk melatih empati

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadan perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati merupakan faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati anak dapat merasakan penderitaan orang lain. Dengan mengembangkan empati, anak akan pandai menempatkan dirinya dan perasaan dirinya dan perasaan oarang lain dan akan mengembangkan tenggang rasa.


5. Bermain bermanfaat mengasah pancaindra

Pancaindra merupakan alat vital yang perlu diasah sejak anak masih bayi. Tujuannya agar anak menjadi lebih tanggap dan lebih peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya.

6. Bermain sebagai media terapi (pengobatan)

Freud mengemukakan bahwa anak menggunakan bermain sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasannya. Berawal dari teori ini para ahli mengunakan bermain sebagai alat diagnosis mengobati anak bermasalah, yang dikenal dengan terapi bermain.

7. Bermain itu melakukan penemuan

Ini artinya bermain dapat menghasilkan ciptaan baru. Saat sedang bermain anak-anak sedang menciptakan sesuatu baru, sesuatu yang belum pernah ia ciptakan.

DAFTAR PUSTAKA

Purnomo,S.Y. 2007. Mengenal Rahasia Kecerdasan Otak Shuang Guan Qi Xia. Surabaya: SGQX Literature

Gunawan, Adi W. 2004. Born to Be a Genius. Jakarta: Gramedia

Pamilu, Anik. 2007. Mengembangkan Kreativitas dan Kecerdasan Anak. Yogyakarta: Citra Media

Silberg, Jackie. 2006. 300 Smart Games for Smart Brain. Jakarta: Erlangga

Montolalu dkk, 2007. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka

Masa remaja yang merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa merupakan masa yang sulit. Sering disebut masa stress and strom karena pada masa ini remaja dihadapkan pada perubahan-perubahan yang membuatnya bingung. Tidak hanya perubahan fisik yang berkembang pesat, tetapi juga perubahan lingkungan yang memaksa remaja untuk menjadi dewasa seperti yang diharapkan lingkungan padahal remaja sendiri tidak tahu harus berbuat seperti apa. Lingkungan mengharapkan remaja bisa bertanggung jawab seperti halnya orang dewasa. Perubahan-perubahan ini membuat remaja yang tidak bisa menemukan identitasnya mengalami kebingungan. Sehingga sebagian besar remaja menghadapi masalah-masalah baik itu dengan orang tua, teman,pacar maupun dengan kehidupan di sekolah.

  1. Remaja dengan orang tua

Perubahan yang dialami remaja secara fisik dan emosional membuat remaja menjadi pribadi yang sensitif. Remaja selalu merasa unik dan berbeda dengan orang lain. Hal ini yang menyebabkan remaja merasa tidak ada seorang pun yang bisa memahami dirinya termasuk orang tua. Ketidaktahuan orang tua akan perubahan pada masa remaja sering menyebabkan konflik diantara remaja dan orang tua. Konflik bisa terjadi karena :

    • Orang tua kadang masih menganggap remaja sebagai anak kecil Sedangkan remaja merasa sudah dewasa dan menginginkan otonomi.

    • Perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas yang dialami remaja itu sendiri.

    • Orang tua yang cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan kepada remaja agar menaati standar-standar orang tua.

    • Remaja membandingkan orang tuanya dengan suatu standar ideal dan kemudian mengecam kekurangan-kekurangannya.

    • Remaja suka memberontak, melawan, dan menentang orang tua karena menganggap orang tua kolot dan merasa sudah bisa mengambil keputusan sendiri.

  1. Remaja dengan teman sebaya

Pengaruh teman sebaya besar sekali terhadap remaja. Remaja beranggapan hanya teman atau sahabatlah yang paling mengerti dirinya. Remaja berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok agar bisa diterima dalam kelompok tersebut. Remaja mengikuti aturan-aturan dalam kelompok. Konformitas dan tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja dapat bersifat positif dan negatif. Namun, umumnya remaja terlibat dalam semua bentuk perilaku konformitas negatif, seperti menggunakan bahasa yang jorok, mencuri, merusak dan mengolok-olok. Diantara teman pun bisa terjadi konflik antara lain karena :

  • Remaja yang tidak bisa mengikuti aturan kelompok membuatnya dijauhi.

  • Terjadi perbedaan pendapat karena adanya keegoisan masing-masing individu.

  • Pengaruh kelompok yang negatif seperti kelompok yang suka mabuk-mabukan atau membuat kekacauan.

  • Penolakan dari kelompok dan kurangnya dukungan sosial.

  • Remaja yang merasa tidak sama dengan kelompoknya akan menjadi pendiam dan menarik diri, merasa buruk dan tidak berharga.

Konflik-konflik dengan teman sebaya membuat remaja menarik diri dari lingkungan dan merasa kalau dirinya tidak berharga dan tidak diharapkan lingkungan sosialnya. Hal ini bisa mengakibatkan remaja menjadi antisosial atau melarikan diri pada hal-hal negatif seperti obat-obat terlarang maupun kenakalan remaja.

  1. Remaja dengan pacar

Masa remaja merupakan masa meningkatnya ketertarikan terhadap lawan jenis. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya hormon dalam diri remaja. Pada masa ini remaja sudah mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis yang sering disebut pacaran atau berkencan. Bagi sebagian remaja bisa memiliki pacar merupakan prestasi tersendiri karena remaja merasa bisa diterima dan disukai orang lain. Dengan demikian remaja mengembangkan body image yang positif sehingga meningkaykan harga dirinya. Berbeda dengan remaja yang tidak memiliki pacar, mereka merasa ditolak dan tidak diinginkan. Mereka merasa buruk dan menurunkan body image-nya. Perasaan ditolak ini bisa membawa remaja lari ke hal-hal negatif. Remaja yang sudah berpacaran juga mengalami konflik-konflik antara lain :

  • Perbedaan pendapat diantara keduanya.

  • Pacar yang selingkuh.

  • Tidak percaya, curiga, cemburu.

  • Pacar yang memiliki kebiasaan buruk bisa membawa pasangannya menjadi seperti dirinya.

  • Pacaran yang tingkatnya sudah berlebihan dapat mengarah pada seks bebas dan kehamilan remaja karena pada masa remaja minat seks juga meningkat.

  • Putus dengan pacar bisa menyebabkan sedih yang berkepanjangan, depresi bahkan bisa menyebabkan bunuh diri.

  • Perasaan ditolak dan tidak diinginkan karena diputus pacar bisa membuat remaja menarik diri atau lari pada hal-hal negatif.

  1. Remaja di sekolah

Tuntutan-tuntutan orang tua agar anaknya bisa berprestasi di sekolah bisa menyebabkan remaja tertekan apabila remaja yang bersangkutan tidak mampu memenuhi harapan-harapan orang tua. Remaja yang prestasinya buruk cenderung menarik diri atau melakukan tindakan yang mengacau. Prestasi buruk membuat remaja merasa kecil dan tidak diterima di lingkungan sekolah. Disamping bisa membuat prestasinya semakin hancur, remaja juga bisa lari ke hal-hal negatif. Remaja yang bisa berprestasi akan merasa dihargai dan memiliki self-concept yang baik. Merasa diterima karena mempunyai kemampuan dan pasti akan banyak teman. Bisa diterima lingkungan sosialnya akan membuat remaja menemukan identitasnya.

  1. kenakalan remaja, obat-obat terlarang, kehamilan pada remaja dan gangguan-gangguan makan

masa remaja yang merupakan masa pencarian identitas memang masa yang sangat rawan. Perubahan fisik dan emosional membuat remaja sangat peka. Dukungan dari orang tua dan teman-teman sebaya sangat penting bagi remaja menemukan identitasnya. Dengan merasa diterima baik oleh keluarga maupun lingkungan sosialnya membuat remaja mengembangkan self-concept yang positif. Selanjutnya remaja akan berkembang menjadi remaja yang baik dan bisa bertahan serta menyesuaikan diri dengan harapan-harapan sosial.

Remaja yang mengalami penolakan keluarga dan lingkungan sosialnya akan mengalami kebingungan dalam pencarian identitasnya. Remaja akan merasa sendirian menghadapi segala perubahan dan tekanan-tekanan hidup yang bagi remaja sangat berat. Orang tua yang tidak memahami keadaan remaja membuat remaja seolah tidak dimengerti. Penolakan keluarga membuat remaja merasa kecil dan takut menghadapi lingkungan. Hal ini akan mempengaruhi hubungan remaja dengan teman sebayanya. Ditolak oleh kelompok merupakan pukulan yang sangat berat bagi remaja karena remaja merasa hanya sahabatlah yang paling mengerti. Hubungan dengan lawan jenis yang tidak baik atau diputus pacar dan prestasi sekolah yang buruk membuat remaja merasa tidak berharga. Semua masalah di atas memang berkaitan satu sama lain dan bisa membawa remaja yang putus asa lari ke obat-obat terlarang, kenakalan remaja, dll.

  • Obat-obat terlarang

Remaja yang mengalami penolakan sosial bisa lari pada obat-obat terlarang. Seperti alkohol dan kokain. Alkohol adalah obat-obatan yang paling banyak digunakan oleh remaja di masyarakat kita. Bagi mereka, alkohol memberi saat-saat yang nikmat, juga saat-saat sedih. Selain itu ada kokain yang efeknya memberi perasaan senang yang tinggi yang kemudian hilang, disusul dengan perasaan-perasaan depresi, lesu, susah tidur dan cepat marah. Remaja khususnya menggunakan obat-obatan sebagai suatu cara untuk mengatasi stres. Orang tua, teman sebaya, dan dukungan sosial memainkan perananpenting dalam mencegah penyalahgunaan obat-obatan di kalangan remaja.

  • Kenakalan remaja

Kenakalan remaja mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran (melarikan diri dari rumah) hingga tindakan-tindakan kriminal. Beberapa prediktor kenakalan meliputi identitas yang negatif, pengendalian diri yang rendah, harapan-harapan pendidikan yang tidak sesuai dengan kemampuan remaja, pengaruh teman sebaya, status sosio-ekonomi yang rendah dan kurangnya dukungan orang tua.

  • Kehamilan pada remaja

Pacaran yang terlalu jauh bisa berakibat kehamilan pada remaja yang sangat rentan. Angka kehamilan yang tinggi juga dibarengi dengan angka aborsi yang tinggi juga. Kemungkinan hubungan seks dilakukan suka sama suka atau takut diputus oleh pasangan sehingga rela melakukan apa saja demi pasangan. Seperti telah dijelaskan remaja takut ditolak oleh pasangan karena merasa tidak berharga sehingga remaja rela melakukan semuanya asalkan hubungannya tidak berakhir.

  • Gangguan-gangguan makan

Penolakan dari lingkungan sosialnya membuat remaja merasa buruk, harga diri rendah dan body image negatif sehingga remaja berusaha dengan keras untuk menjadi seseorang yang diinginkan yaitu berusaha menjadi seperti orang yang diidolakan atau icon. Remaja khususnya perempuan berusaha menjadi kurus karena tubuh seperti itulah yang dianggap sempurna sehingga mereka berlomba-lomba untuk menjadi kurus. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan-gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia yang justru merusak tubuh dan yang paling fatal bisa menyebabkan kematian.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.