Skip navigation

ketika semuanya tidak memungkinkan
ketika semuanya tidak berpihak
bahkan waktu juga tidak mau sejenak mengerti
melangkah dengan kesombongannya
mengalahkan segala yang ada dan tersisa

harapan…
hanya seperti angin berhembus
hanya seperti anak kecil dihadapan waktu
dan hanya bisa menunggu
sampai akhirnya semua tercecer diantara
tawa dan air mata

keajaiban…
tak pernah dapat diduga
kadang muncul seperti hujan
yang membanjiri bumiku di kala panas
atau kadang berderet bagaikan
semut serah mencari makan

ah… dan yang bersisa
hanya hati dengan secuil rasa
masih mencoba mengais
apa yang tercecer di bawah tekanan…

dimana batas antara logika dan perasaan
ketika semua hanya menyakitkan
ketika semua tak ada yang bisa memuaskan ego
dan pada akhirnya diam juga tak lagi menenangkan

yang diharapkan dan yang tidak diharapkan
tidak lagi muncul sebagai perbedaan
hanya kabur tak tahu arah dituju
kecewa…
tapi dalam hati masih mencoba

aku belum terbiasa dengan keadaan
semuanya menjadi sekarat
tak mampu lagi berpijak di satu pihak
hingga tak mengerti dunia itu apa

yang tersisa hanya sepotong kisah…
dan keyakinan bahwa CAHAYA itu akan selalu ada…

tak lagi mampu
jiwa ini penjarakan rasa
yang entah mendapat kekuatan dari mana
mulai berontak… berteriak dan memaksa…
kaki ini masih tak bergeming
logika ini mati-matian berjuang agar tak padam
hanya kalut dan bingung di dera

jika pertahanan ini akhirnya runtuh
kegilaan apa yang menggantikannya?
takut membayangi ketika mulai kubayangkan…

tersudut di tengah cercaan
bising kudengar suara pikiran mencari rasionalisasi
ataukah sekedar mengais keyakinan
hanya untuk tenangkan jiwa…

masih seimbang… tapi hampir kalah…
hanya bersisa takut dan frustasi
ingin marah juga ingin menangis
atau mungkin sebaiknya bersembunyi..
entah…

melenggang..
mencoba meringankan langkah yang terseok
diantara kerkil dan pasir
untuk bisa tetap tersenym melawan mentari
walau bayang terbenam
walau perih tak dapat terhindarkan…

bimbang yang sempat menahanku
coba ku lepas bersama hembus angin
hingga dapat kurentangkan tangan
menangkap pesan yang dirangkai alam
untukku terjemahkan…

disini…
ku berpijak… dengan segala harga yang harus dibayar
di sini…
ku berlari… membawa segala rasa yang tak dimengerti
di sini…
ku menanti… ujung dari sebuah cerita
dan di sini…
ku terdiam…

… dan hanya jika memaksa membuat terluka
biarkan saja apa adanya
dan ketika berlari dan melupa tak ada gunanya
diam sejenak dan nikmatilah
meski perih tak henti menghujam dada
meski mata pisau tepat di depan mata

semuanya sama saja menyisa rasa
yang memang enggan terbang bersama angin
meski ku samarkan dibalik tawa

diam dan nikmatilah
derita mungkin akan melahirkan indah
dan mendung akan menjadi hujan, kemudian cerah
walau harus tergores asa tak bernyawa

bertahan…
dan nikmatilah…
bersama waktu, sang sahabat lama….

5 November 2009; 11.56 p.m.

4 Agustus 2009; 15.55

rasa yang tak pernah kubayangkan

rasa yang kutakutkan hadirnya

tapi juga rasa yang kurindukan

mulai menyapaku kembali…

aku pernah berpikir bahwa ia tlah menghilang jauh

meninggalkanku dengan duniaku sendirian

meninggalkanku karena sudah cukup untukku

tak akan pernah akan kembali demi hidupku

dan…. ternyata…

semua tak seperti yang kulukiskan…

entah angin… entah hujan… entah juga hatiku sendiri

yang memanggilnya…

tapi… aku masih takut… takut..

menggapainya dengan tangan terbuka atau melepas…

membiarkan ia kembali pergi bersama udara yang kuhembus

ah….

aku benci harus memilih…

ketika konflik yang terjadi mulai menyergapku

sempatkah aku berlari…

ataukah aku sendiri yang memilih untuk terperangkap??

entah…

kembali ku hanya bisa berdiam diri…

14 Juli 2009 one night shared..

hari yang menjemukan… ga berasa… seperti mati… semuanya mengambang.. entah apa yang ada dalam pikiranku…

aku bertanya dalam diri… sedihkah aku??? atau bahagia??? entahlah… pokoknya terasa sangat menjemukan…

pengen go out… have fun…

and then… mbak echa ma beta ngajakin makan di luar,,, makan enak (buatku cukup mewah)

hmmm…. bukan makannya yang membuatku senang.. bukan lagunya yang membuatku bersenandung…

bukan tempatnya yang asyik yang membuatku nyaman..

tetapi… lebih dalam dari itu… seperti mendapat insight… aku tertawa.. bahagia… senang…

di sinilah aku bersama sahabat2ku… dan aku tau… persahabatan itu lebih dalam dari sekedar hubungan cinta..

persahabatan tanpa tuntutan… bisa menjadi diri sendiri secara bebas.. melenggang..

ga peduli apapun itu sahabat akan selalu mendukung dan mengingatkan…

sampai pada titik aku berpikir… mungkin aku bisa hidup tanpa cinta.. tanpa kekasihku… tapi aku sulit hidup tanpa sahabatku…

entahlah… tapi kadang aku merasa cinta begitu berat dan penuh tuntutan… kalau ga mau disebut tuntutan mungkin lebih tepatnya

penyesuaian yang sulit… apa akui bisa menjadi diri sendiri??? atau haruskah aku berubah…

tapi aku paling bahagia saat bareng sahabatku.. tertawa..

menangis… bercanda… jalan2… nglakuin banyak hal gila…

tanpa peduli bahwa banyak orang disekitar yang mungkin mengawasi.. tapi kita tidak peduli…

yach… aku pasti akan sangat merindukan hari2 bareng sahabat2ku…

ketika aku mulai menyadari bahwa bentar lagi mungkin akan sangat sulit bertemu mereka…

ach… sedih rasanya… tapi semua kenangan ga akan pernah tercipta dengan sama bukan???

aku patiu merindukan kalian… pasti…

Syair Renungan Bagi Para Istri
Pernikahan atau perkawinan
membuka tabir rahasia

Suami yang menikahi kamu,
tidaklah semulia Muhammad S.A.W.,
tidaklah setaqwa Ibrahim,
tidaklah setabah Ayyub,
ataupun segagah Musa,
apalagi setampan Yusuf.
Justru suamimu hanyalah pria akhir jaman,
yang punya cita-cita
membangun keturunan yang soleh dan sholehah.

Pernikahan atau perkawinan
mengajar kita kewajiban bersama

Suami menjadi pelindung,
kamu penghuninya
Suami adalah nakhoda kapal,
kamu navigatornya
Suami bagaikan balita yang nakal,
kamu adalah penuntun kenakalannya
Ketika suami menjadi bisa,
kamulah penawar obatnya
Seandainya suami masinis yang melenceng,
sabarlah memperingatkannya.

Pernikahan atau perkawinan
mengajar kita perlunya iman dan taqwa
untuk belajar meniti sabar
dan ridho Allah S.W.T.

Karena memiliki suami yang tak segala mana,
justru kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Khadijah,
yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir jaman,
yang berusaha menjadi sholehah.
Amin.

Foto074 ini foto baru kemarin waktu aku ma temen2 kost ku keluar mo cari makan…

berhubung stress karena ujian susah makanya sebelum makan mampir dulu buat nyenengin ati…

so, dipihlah sebuah tempat yang menyajikan milkshake coklat…

hehehe

24012009_003

kalo yang ini ma kakak and ade’ku…

kalo ga salah 24 januari 2009

critanya sich lagi makan2…

hmm… yummi…

Foto076ini teman2 dekatku…. kami ketemu waktu kuliah..

ga tao awalnya gmana tapi rasanya tiba2 ja kami deket..

love U all my lovely friends.DSC02567..

kalo yang ini waktu magang di RSJ Magelang..

duh jadi inget waktu itu…

Depresi
a.    Definisi Depresi
Webster Dictionary (dalam Maurus, 2009, h. 23) mengartikan depresi sebagai suatu kondisi emosional yang bersifat normal atau patologis, yang ciri khasnya ialah rasa kecil hati, rasa tidak mampu, dan sebagainya.
Tidak jauh beda dengan pengertian tersebut adalah pengertian dalam bidang klinis (dalam Maurus, 2009, h. 24) yang menyatakan bahwa depresi adalah rasa sedih yang dalam dan menyakitkan, biasanya disertai dengan rasa bersalah dan mengasihani diri sendiri.
Sedangkan menurut APA (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 230), diagnosis dari gangguan depressive mayor (major depressive disorder) (juga disebut depresi mayor) didasarkan pada munculnya satu atau lebih episode mayor tanpa adanya riwayat episode manik (manic) atau hipomanik (hypomanic). Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa atau terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah kondisi atau keadaan emosional berupa episode mood depresif yang ditandai dengan perasaan sedih, terpuruk, putus asa, rasa bersalah, mengasihani diri sendiri, dan kehilangan minat dalam berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit dua minggu.

b.    Jenis-Jenis Depresi
Para psikolog dan psikiater (dalam Maurus, 2009, h. 24) membedakan dua jenis depresi. Jenis pertama, depresi reaktif, adalah depresi yang ditimbulkan oleh faktor eksternal yang bisa saja hanya terjadi sekali dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Depresi semacam ini dapat diatasi secara mudah melalui saran yang membangkitkan semangat, teman yang menyenangkan, simpati dari orang yang tercinta, penghiburan, kepedulian dari keluarga, dll.
Jenis kedua, depresi endogenous, adalah depresi yang muncul dari dalam pikiran. Depresi ini berhubungan dengan beberapa faktor bikimia tubuh. Depresi endogenous dapat dipandang sebagai gejala neurosis atau psikosis.
Dari dua jenis depresi di atas, yaitu yang berasal dari dalam dan dari luar, terdapat beberapa ahli yang membagi depresi endogenous menjadi dua sehingga menjadi tiga jenis. Kartono (2002, h. 161) menyatakan bahwa pada umumnya orang membedakan tiga jenis depresi, yaitu:
Depresi reaktif
Adalah depresi sebagai reaksi dari suatu bencana dalam hidup yang merupakan trauma psikis, dan langsung muncul sesudah trauma tadi berlangsung; biasanya disebabkan oleh karena pasien ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya.
Supratiknya (1995, h. 68) memasukkan depresi reaktif ke dalam gangguan afektif ringan. Salah satu jenis gangguan penting yang termasuk dalam kategori ini adalah depresi normal, yakni dukacita (grief) atau kepedihan. Gangguan ini merupakan proses psikologis mengikuti pengalaman ”kehilangan” (loss) sesuatu yang berharga, seperti kematian seorang kekasih, putus cinta, perceraian, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya.
Seseorang yang dilanda depresi normal semacam ini biasanya menunjukkan beberapa ciri atau tanda sebagai berikut: tidak bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa lain yang secara normal akan membangkitkan respons yang kuat, tenggelam dalam fantasi tentang situasi yang menimbulkan kepuasan, tetapi sudah berlalu, dan akhirnya kembali mampu memberikan respons terhadap dunia luar, kesedihan berkurang, gairah bangkit kembali, dan kembali melibatkan diri dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan kata lain, depresi reaktif melibatkan tiga variabel psikologis pokok, yaitu (a) ketergantungan, dimana penderita merasa butuh bantuan atau dukungan dari orang lain, (b) kritik diri, dimana penderita membesar-besarkan kesalahan atau kekurangan yang ada pada dirinya, dan (c) inefficacy, yaitu perasaan tidak berdaya.
Depresi neurotis
Adalah depresi yang timbul disebabkan oleh mekanisme pertahanan diri dan mekanisme pelarian diri yang keliru, dan muncul kemudian banyak konflik-konflik intrapsikis.
Depresi neurotis bisa timbul oleh sebab-sebab yang sepele/remeh danm peristiwa biasa, yang pada orang normal dan sehat tidak mungkin  bisa memunculkan depresi. Pada orang-orang neurotis dengan struktur kepribadian yang rapuh dan labil, depresi mudah muncul.
Supratiknya (1995, h. 68) menggolongkan depresi neurotik ke dalam gangguan afektif neurotik. Dalam kasus ini penderita bereaksi terhadap situasi yang menekan kesedihan dan kepatahan hati yang luar biasa dan (sering) tidak dapat dipulihkan sesudah sekian lama. Secara lebih rinci, penderita gangguan ini akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: putus asa, sedih, tak bersemangat, tingkat kecemasan tinggi, aktivitas diri berkurang, selera dan gairah menghilang, prakarsa menghilang, mengeluh sulit berkonsentrasi, susah tidur serta suka terjaga di tengah malam dan tidka dapat tertidur kembali, merasakan keluhan-keluhan somatik tertentu, merasa tegang, gelisah, dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap lingkungan sosial, tidak mampu mengerjakan tugas-tugas dan senang memandang dengan tatapan kosong.
Depresi psikogen
Adalah depresi yang disebabkan salah masak/olah yang patologis sifatnya dari peirstiwa dan pengalaman-pengalaman sendiri, oleh pribadi yang bersangkutan.
Menurut Supratiknya (1995. h. 68), depresi psikogen masuk ke dalam golongan gangguan psikosis afektif. Gangguan ini berbeda dengan depresi neurotik hanya dalam dua hal. Pertama, gangguan ini mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderita. Kedua, penderita kehilangan kontak dengan realitas.
Ada beberapa jenis yang termasuk ke dalam kategori psikosis afektif (Supratiknya, 1995, h. 86), yaitu:
(a)    Gangguan depresi mayor subakut
Ciri-ciri: semangat hidup menghilang, aktivitas mental maupun fisik menjadi lamban, dibutuhkan uasaha keras untuk melaksanakan pekerjaan, diliputi perasaan tidak berharga, gagal, berdosa, dan bersalah, kehilangan selera makan, sehingga berat badan menurun dan terserang gangguan pencernaan, berbicara dengan suara monoton dan sangat hemat kata-kata, senang duduk sendiri mengenang masa lalu, kurang memiliki harapan di masa depan, tidak menunjukkan kesan mengalami disorientasi, mengungkapkan keluhan-keluhan somatik berupa pusing, lelah, sembelit, dan susah tidur.
(b)    Gangguan depresi mayor akut
Ciri-ciri: berangsur-angsur menjadi tidak aktif, cenderung mengisolasi diri, tidak mau berbicara, dan sangat lamban memberikan respons, merasa bersalah dan tidak berharga, serta serba menuduh atau mempersalahkan diri, gelisah, senang mondar-mandir dan meremas-remas tangan, merasa bertanggung jawab atas aneka bencana atau musibah yang terjadi dalam masyarakat, merasa telah berbuat dosa yang membuat celaka orang lain, merasa otak atau bagian-bagian lain tubuhnya lenyap, putus asa, kadang-kadang disertai halusinasi.
(c)    Stupor depresif atau mutisme
Yakni keadaan diam mematung, dengan ciri-ciri: sama sekali tidak responsif dan tidak aktif, tidak bisa turun dari tempat tidur dan sama sekali acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang berlangsung di sekitarnya, menolak makan dan berbicara, serta harus ditolong jika ingin buang air, mengalami disorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang, mengalami halusinasi adn delusi.

c.    Aspek-Aspek Depresi
Depresi terdiri dari beberapa aspek (Nevid, dkk., 2005, h. 230), yaitu:
Emosional
Perubahan pada mood (periode terus-menerus dari perasaan terpuruk, depresi, sedih, atau muram)
Penuh airmata atau menangis
Meningkatnya iritabilitas (mudah tersinggung), kegelisahan, atau kehilangan kesabaran.
Motivasi
·    perasaan tidak termotivasi, atau memiliki kesulitan untuk memulai (kegiatan) di pagi hari atau bahkan sulit bangun dari tempat tidur
·    Menurunnya tingkat partisipasi sosial atau minat pada aktivitas sosial Kehilangan kenikmatan atau minat dalam aktivitas menyenangkan
·    Menurunnya minat pada seks
·    Gagal untuk berespons pada pujian atau reward
Perilaku motorik
·    Bergerak atau berbicara dengan lebih perlahan dari biasanya
·    Perubahan dalam kebiasaan tidur (tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya dan merasa kesulitan untuk kembali tidur di pagi buta –disebut mudah terbangun di pagi buta)
·    Perubahan dalam selera makan (makan terlalu banyak atau terlalu sedikit)
·    Perubahan dalam berat badan (bertambah atau kehilangan berat badan)
·    Berfungsi secara kurang efektif daripada biasanya di tempat kerja atau di sekolah
Kognitif
·    Kesulitan berkonsentrasi atau berpikir jernih
·    Berfikir negatif mengenai diri sendiri dan masa depan
·    Perasaan bersalah atau menyesal mengenai kesalahan di masa lalu
·    Kurangnya self-esteem atau merasa tidak adekuat
·    Berfikir akan kematian atau bunuh diri

d.    Faktor Penyebab Depresi
Azhim (2008, h. 3-5) menyebutkan faktor penyebab depresi bisa bersifat internal maupun eksternal. Adapaun faktor-faktor penyebab depresi tersebut adalah:
Sebab-sebab eksternal (yang datang dari luar diri manusia)
(a)    Sebab lingkungan
Penyebabnya adalah kejadian-kejadian yang terjadi di dunia. Misalnya, kehilangan sesuatu yang terjadi di dunia. Misalnya, kehilangan sesuatu yang amat berharga, baik orang tercinta, harta benda, maupun kedudukan sosial.
Orang yang kehilangan sesuatu yang amat dicintainya akan melewati tahap-tahap tertentu dalam merespons rasa kehilangan tersebut.
Tahap pertama, pengingkaran atau rasa tidak percaya atas kehilangan tersebut. Tahap kedua, ketidakpercayaan itu semakin bertambah, sehingga tidak lagi merasakannya. Tahap ketiga, tahap menangis dan kegundahan hati serta hilangnya selera untuk makan, berhubungan seks, atau lainnya. Di samping juga bentuk-bentuk gejala depresi atau kesedihan yang ringan dan sejenisnya.
(b)    Obat-obatan
Beberapa penelitian membuktikan bahwa sebagian obat-obatan dapat mengakibatkan perubahan kimiawi di dalam otak, yang bisa mengakibatkan efek samping berupa depresi. Di antara contoh obat-obatan tersebut adalah obat-obatan untuk  tekanan darah tinggi, liver, dan rematik.
(c)    Narkoba
Berhenti dari mengonsumsi obat-obatan psikotropika, sebagaimana minuman beralkohol, dapat menyebabkan timbulnya depresi. Bahkan, itu terkadang sampai berkaitan juga dengan upaya bunuh diri. Begitu juga halnya dengan obat-obatan yang mempunyai fungsi agar tubuh bisa selalu terjaga dari rasa kantuk yang biasa digunakan oleh para remaja atau sopir-sopir mobil angkutan untuk membuat mereka selalu terjaga di sepanjang jalan.
Obat-obatan ini memiliki bahan amfetamin. Jika orang berhenti mengonsumsi amfetamin, bisa timbul depresi, sehingga ia akan dan mengonsumsinya lagi untuk menghilangkan rasa depresi tersebut. Begitu seterusnya, hingga orang yang kecanduan ini akan selamanya tidak dapat keluar dari ketergantungannya terhadap obat-obatan.
Sebab-sebab Internal (yang berkaitan dengan faktor keturunan atau susunan sel otak, atau juga penyakit-penyakit organik):
(d)    Faktor Keturunan
Studi medis menetapkan bahwa sebagian manusia berpotensi menderita depresi. Sebagian orang yang sakit memiliki keluarga atau kerabat yang terjangkit depresi. Hal ini bukan berarti bahwa setiap orang yang terkena penyakit depresi akan menularkannya kepada kerabat dekat atau anak-anaknya.
(e)    Penyakit-penyakit Organik
Misalnya, kekurangan hormon kelenjar gondok. Hal ini akan mengakibatkan timbulnya penyakit depresi. Begitu juga kekurangan beberapa vitamin, seperti vitamin B 12.
(f)    Sebab-sebab yang Tidak Diketahui
Terkadang manusia menderita kesedihan tanpa diketahui penyebabnya yang jelas. Kebanyakan penyakit ini tidak hanya timbul lantaran pengarug dari satu sebab saja, tetapi juga lantran reaksi dari beberapa sebab keseluruhan, yaitu yang bersifat eksternal dan internal yang satu sama lainnya dapat menyebabkan timbulnya depresi.

e.    Perspektif Teoretis Tentang Depresi
Depresi melibatkan sebuah interaksi yang kompleks antara pengaruh biologis dengan psikososial (Cui & Vaillant, 1997). Pemahaman penuh mengenai penyebab gangguan depresi masih di luar jangkauan. Nevid, Rathus, dan Greene (2005, h. 240-254) mengidentifikasi berbagai kontributor penting dari gangguan mood, terutama depresi, yaitu:
Stres dan Depresi
Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan romantis, lamanya hidup menganggur, sakit fisik, masalah dalam pernikahan dan hubungan, kesulitan ekonomi, tekanan di pekerjaan atau rasisme dan diskriminasi meningkatkan risiko berkembangnya gangguan mood atau kambuhnya sebuah gangguan mood, terutama depresi mayor (Greenberger dkk., 2000; Kendler, Thornton, & Gardner, 2000; Monroe dkk., 2001). Pada suatu sampel penelitian, peneliti menemukan bahwa dalam sekitar empat dari lima kasus depresi mayor diawali oleh peristiwa kehidupan yang penuh tekanan (Mazure, 1998). Orang juga cenderung menjadi depresi ketika mereka menanggung sendiri tanggung jawab dari peristiwa yang tidak diinginkan (Hammen & De Mayo, 1982).
Namun, hubungan antara stres dan depresi tidaklah jelas. Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dapat berkontribusi pada depresi, dan simptom depresi dalam diri mereka sendiri dapat bersifat menekan atau menyebabkan munculnya sumber-sumber tambahan pada stres, seperti perceraian atau kehilangan pekerjaan (Cui & Vaillant, 1997; Daley dkk., 1997).
Meski stres berimplikasi pada depresi, tidak semua orang yang mengalami stres menjadi depresi. Faktor-faktor seperti ketrampilan coping, bawaan genetis, dan ketersediaan dukungan sosial memberikan kontribusi pada kecenderungan depresi saat mengahdapi kejadian yang penuh tekanan (USDHHS, 1999a).
Teori Psikodinamik
Teori psikodinamika klasik mengenai depresi dari Freud (1917/1957) dan pengikutnya meyakini bahwa depresi mewakili kemarahan yang diarahkan ke dalam diri sendiri dan bukan terhadap orang-orang yang dikasihi. Rasa marah dapat diarahkan kepda self setelah mengalami kehilangan yang sebenarnya atau ancaman kehilangan dari orang-orang yang dianggap penting ini.
Freud mempercayai bahwa berduka (mourning), atau rasa berkabung yang normal adalah proses yang sehat karena dengan berduka seseorang akhirnya dapat melepaskan dirinya sendiri secara psikologis dari seseorang yang hilang karena kematian, perpisahan, perceraian, atau alasan lain. Namun, rasa duka yang patologis tidak mendukung perpisahan yang sehat. Malahan hal ini akan memupuk depresi yang tak berkesudahan. Rasa duka yang patologis cenderung terjadi pada orang yang memiliki perasaan ambivalen (ambivalent) yang kuat –suatu kombinasi dari perasaan positif (cinta) dan negatif (marah, permusuhan)- terhadap orang yang telah pergi atau ditakutkan kepergiannya.
Teori Humanistik
Menurut kerangka kerja humanistik, orang menjadi depresi saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna dan tidak dapat membuat pilihan-pilihan autentik yang menghasilkan self-fulfillment. Kemudian dunia dianggap sebagai tempat yang menjemukan. Pencarian orang akan makna memberikan warna dan arti bagi kehidupan mereka. Perasaan bersalah dapat timbul saat orang percaya bahwa mereka tidak membangkitkan potensi-potensi mereka.
Seperti teoretikus psikodinamika, teoretikus humanistik juga berfokus pada hilangnya self-esteem yang dapat muncul saat orang kehilangan teman atau anggota keluarga, ataupun mengalami kemunduran atau kehilangan dalam pekerjaan. Orang cenderung menghubungkan identitas personal dan rasa self-worth dengan peran-peran sosial sebagai orangtua, pasangan, pelajar, atau pekerja. Bila identitas peran ini hilang, melalui kematian seorang pasangan, perginya anak-anak untuk kuliah, atau hilangnya suatu pekerjaan, sense of purpose dan self-worth dapat terguncang. Depresi adalah konsekuensi yang sering terjadi dari kehilangan yang seperti itu. Terutama jika orang mendasarkan self-esteem pada peran pekerjaan atau kesuksesan.
Teori Belajar
Teoretikus belajar lebih memfokuskan faktor-faktor situasional, seperti kehilangan reinforcement positif. Seseorang memiliki kinerja terbaik saat tingkat reinforcement sepadan dengan usaha yang dilakukan. Perubahan pada frekuensi atau efektivitas reinforcement dapat mengubah keseimbangan sehingga kehidupan menjadi tidak berharga.
Reinforcement dan depresi. Teoretikus belajar Peter Lewinsohn (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 243) menyatakan bahwa depresi dihasilkan dari ketidakseimbangan antara output perilaku dan input reinforcement yang berasal dari lingkungan. Kurangnya reinforcement untuk usaha seseorang dapat menurunkan motivasi dan menyebabkan perasaan depresi. Ketidakaktifan dan penarikan diri dari lingkungan sosial menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan reinforcement, dan reinforcement yang berkurang akan memperburuk penarikan diri. Hal ini menjadi semacam lingkaran setan.
Teori transaksi. Interaksi antara orang yang depresi dengan orang lain dapat membantu menjelaskan pengurangan yang dialami kelompok pertama dalam hal reinforcement positif. Teori interaksional dikembangkan oleh psikolog James Coyne (dalam Nevid dkk., 2005, h. 244) yang menyatakan bahwa penyesuaian pada kehidupan bersama dengan orang yang depresi dapat sangat menekan hingga semakin lama reinforcement yang diberikan pasangan atau anggota keluarga kepada orang yang depresi tersebut menjadi semakin berkurang.
Teori Kognitif
Teoretikus kognitif menghubungkan antara asal mula dan bertahannya depresi dengan cara-cara bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Teori kognitif Aaron Beck. Seorang teoretikus kognitif paling berpengaruh, psikiater Aaron Beck (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 245), menghubungkan pengembangan depresi dengan adopsi dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif di awal kehidupan. Beck mengembangkan teori tentang segita kognitif dari depresi (cognitive triad of depression). Segitiga kognitif mencakup keyakinan-keyakinan negatif mengenai diri sendiri (contoh: saya tidak berguna), keyakinan negatif mengenai lingkungan atau dunia secara umum (contoh: sekolah ini menyebalkan), dan keyakinan negatif mengenai masa depan (contoh: tidak akan pernah ada yang berakhir sukses untuk saya). Teori kognitif meyakini bahwa orang yang mengadopsi cara berpikir yang negatif ini memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi depresi bila dihadapkan pada pengalaman hidup yang menekan atau mengecewakan.

Segi Tiga Kognitif dari Depresi (Aaron Beck)
Pandangan negatif tentang diri sendiri    Memandang diri sendiri sebagai tidak berharga, penuh kekurangan, tidak adekuat, tidak dapat dicintai, dan sebagai kurang memiliki ketrampilan yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan
Pandangan negatif tentang lingkungan    Memandang lingkungan sebagai memaksakan tuntutan yang berlebihan dan atau memberikan hambatan yang tidak mungkin diatasi, yang terus menerus menyebabkan kegagalan dan kehilangan
Pandangan negatif tentang masa depan    Memandang masa depan sebagai tidak ada harapan dan meyakini bahwa dirinya tidak punya kekuatan untuk mengubah hal-hal menjadi lebih baik. Harapan orang ini terhadap masa depan hanyalah kegagalan dan kesedihan yang berlanjutr serta kesulitan yang tidak pernah usai

Beck memandang konsep-konsep negatif mengenai self dan dunia ini sebagai cetakan mental atau skema-skema kognitif yang diadopsi saat masa kanak-kanak atas dasar pengalaman-pengalaman belajar di masa awal.
Kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil adalah sebuah contoh dari suatu kesalahan dalam berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif. Ia percaya bahwa distorsi kognitif membentuk tahapan-tahapan untuk depresi di saat menghadapi kehilangan personal atau peristiwa hidup yang negatif.
Psikiater David Burns (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 245-247) menyusun sejumlah distorsi kognitif yang diasosiasikan dengan depresi, yaitu:
Cara berpikir semua atau tidak sama sekali (all or nothing thinking)
Memandang kejadian-kejadian sebagai hitam dan putih, sebagai “semua tentangnya baik” atau “semua tentangnya buruk”. perfeksionisme adalah sebuah contoh dari cara berpikir semua atau tidak sama sekali. Orang yang perfeksionis menilai semua hasil yang berada di luar kesuksesan yang sempurna sebagai kegagalan sepenuhnya.
Generalisasi yang berlebihan
Mempercayai bahwa bila suatu peristiwa negatif terjadi, maka hal itu cenderung akan terjadi lagi pada situasi yang serupa di masa depan. Seseorang dapat menginterpretasikan suatu kejadian negatif tunggal sebagai sesuatu yang membayangi rangkaian peristiwa-peristiwa negatif yang tidak berakhir.
Filter mental
Berfokus hanya pada detail-detail negatif dari suatu peristiwa, dan dengan sendirinya menolak unsurunsur positif dari semua yang pernah dialami. Beck menyebut distorsi kognitif ini sebagai abstraksi selektif (selective abstraction), yang berarti individu secara selektif mengambil detail-detail negatif dari berbagai peristiwa dan mengabaikan unsur-unsur positifnya. Kemudian individu tersebut akan mendasarkan self-esteemnya pada kelemahan dan kegagalan yang dipersepsikan dan bukan pada unsur-unsur positifnya.
Mendiskualifikasikan hal-hal positif
Ini mengacu pada kecenderungan untuk memilih kalah dari kemenangan yang hampir terjadi dengan menetralisasi atau tidak mengakui pencapaian-pencapaian diri sendiri.
Tergesa-gesa membuat kesimpulan
Membentuk interpretasi negatif mengenai suatu peristiwa, meskipun kekurangan bukti. Dua contoh dari gaya berpikir ini adalah “membaca pikiran” dan “kesalahan tukang ramal”. Dalam membaca pikiran, seseorang secara ceroboh tergesa-gesa membuat kesimpulan bahwa orang lain tidak menyukai atau tidak menghargainya. Kesalahan tukang ramal melibatkan prediksi bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi pada diri sendiri. Orang tersebut meyakini bahwa prediksi dari kesialan ini berdasarkan fakta meskipun tidak ada bukti yang mendukung.
Membesar-besarkan dan mengecilkan
Membesar-besarkan atau mengkatastrofekan, mengacu pada kecenderungan untuk membuat gunung dari kerikil-kerikil –untuk membesar-besarkan pentingnya peristiwa-peristiwa negatif, kekurangan pribadi, ketakutan, atau kesalahan. Mengecilkan adalah seperti bayangan pada cermin, suatu tipe dari distorsi kognitif dimana seseorang mengecilkan atau memandang rendah kebaikan-kebaikannya.
Penalaran emosional
Mendasarkan penalaran pada emosi. Seseorang menginterpretasikan perasaan dan peristiwa berdasarkan emosi dan bukan pada pertimbangan-pertimbangan yang adil terhadap bukti.
Pernyataan-pernyataan keharusan
Menciptakan perintah personal atau self-commandments “keharusan-keharusan” atau “semestinya-semestinya”. Dengan menciptakan harapan yang tidak realistis dapat menyebabkan seseorang menjadi depresi saat gagal mencapainya.
Memberi label dan salah melabel
Menjelaskan perilaku dengan melekatkan label negatif pada diri sendiri dan orang lain.
Melakukan personalisasi
Hal ini mengacu pada kecenderungan untuk mengasumsikan bahwa diri sendiri bertanggung jawab atas maslah dan perilaku orang lain dan bukan menyadari bahwa penyebab lain bisa saja terlibat.
Teori ketidakberdayaan (atribusional) yang dipelajari. Model ketidakberdayaan yang dipelajri (learned helplessness) mengajukan pandangan bahwa orang dapat menjadi depresi karena ia belajar untuk memandang dirinya sendiri sebagai tidak berdaya dalam mengontrol reinforcement-reinforcement di lingkungannya –atau untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Orang yang pertama kali menyusun konsep ketidak berdayaan yang dipelajari, Martin Seligman (dalam Nevid, dkk., 2005, h. 250-251) menyatakan bahwa orang belajar untuk memandang dirinya sebagai tidak berdaya karena pengalaman-pengalamannya.
Seligman dan kolega-koleganya mengubah teori ketidakberdayaan dalam kerangka konsep psikologi sosial atau gaya atribusional (atributional style). Saat kekecewaan atau kegagalan muncul, seseorang mungkin menjelaskannya dalam berbagai cara yang memiliki berbagai karakteristik. Seseorang dapat menyalahkan diri sendiri (suatu atribusi internal) atau dapat menyalahkan situasi yang dihadapi (suatu atribusi eksternal). Seseorang dapat melihat pengalaman buruk sebagai kejadian-kejadian yang melekat dengan karakteristik kepribadian (atribusi stabil) atau sebagai peristiwa yang terpisah (atribusi tidak stabil). Seseorang dapat melihatnya sebagai bukti masalah yang lebih luas (suatu atribusi global) atau sebagai suatu bukti dari kelemahan tertentu yang terbatas (suatu atribusi spesifik).
Berdasarkan ketiga tipe atribusi di atas, maka orang yang paling rentan terhadap depresi adalah orang-orang yang memliki keyakinan:
Faktor-faktor internal, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan ketidakmampuan pribadi, dan bukan faktor-faktor eksternal.
Faktor-faktor global, atau keyakinan bahwa kegaga;an merefleksikan seluruh kesalahan dalam kepribadian dan bukan faktor-faktor spesifik.
Faktor-faktor stabil, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan faktor kepribadian yang menetap dan bukan faktor-faktor yang tidak stabil.
Faktor-Faktor Biologis
Faktor-faktor biokimia dan abnormalitas otak dalam depresi. Penelitian awal mengenai dasar penyebab biologis dari depresi berfokus pada berkurangnya tingkat neurotransmitter dalam otak. Suatu padnangan yang dipegang secara luas saat ini adalah bahwa depresi melibatkan ketidakteraturan dalam (1) jumlah reseptor pada neuron penerima, tempat dimana neurotransmitter berkumpul (memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit); atau (2) dalam sensitivitas reseptor bagi neurotransmitter tertentu (Yatman, dkk., dalam Nevid, dkk., 2005, h. 253).
Metode lain dari penelitian berfokus pada kemungkinan abnormalitas dalam korteks prafrontal (prefrontal cortex), area dari lobus frontal yang terletak di depan area motorik. Peneliti menemukan bukti dari aktivitas metabolisme yang lebih rendah dan ukuran korteks prafrontal yang lebih kecil dari pada kelompok kontrol yang sehat (Damasio dalam Nevid, dkk., 2005, h. 253). Korteks prafrontal terlibat dalam pengaturan neurotransmitter yang dipercaya terlibat dalam gangguan mood, termasuk seretonin dan norepinephrine.

DAFTAR PUSTAKA

Anda Tidak Punya Pasangan? Hati-hati, Depresi Mengintai. (2002, 13 November). Men’s Health. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+Man&y=Cybermed|0|0|13|285

Atwater, E. 1983. Psychology of Adjustment. Singapore: Prentice-Hall, Inc.

Azhim, Said Abdul. 2008. Cara Islami Mencegah dan Mengobati Gangguan Otak, Stres dan Depresi. Jakarta: Qultum Media

Beck, Aaron T. 1985. Depression Causes and Treatment. Philadelphia: University of Pennsylvania Press

Bruno, Frank J. 1997. Mengatasi Depresi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Chaplin, James P. 2002. Kamus Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers

Cedricwarrior. 2008. Psikologi Islami dan Psikoterapi Islami. [Online]. Diambil tanggal 21 April 2009. Diambil dari http://psychologyupdate.blogspot.com/2008/04/psikologi-islami-dan-psikoterapi-islami.html

Erhamwilda. 2009. Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu

Godam. 2008. Akibat/Dampak Langsung dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba pada Kehidupan dan Kesehatan Manusia. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://organisasi.org/akibat-dampak-langsung-dan-tidak-langsung-penyalahgunaan-narkoba-pada-kehidupan-kesehatan-manusia).

Handoyo, ida Listyarini. 2004. Narkoba Perlukah Mengenalnya?. Bandung: Pakar Raya

Hawari, Dadang. 2002. Dimensi Religi dalam Praktik Psikiatri dan Psikologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Hurlock, Elizabeth B. 1998. Perkembangan Anak jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga

________. 1997. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Husin, Al Bachri. 2003. Pengembangan Metode Deteksi Dini dan Intervensi Awal (Konseling) Gangguan Perilaku pada Kasus Ketergantungan Narkotika Melalui Mantan Pecandu di Jakarta (TahapII-lanjutan). [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari  http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jkpkbppk-gdl-res-2001-al-875-narcotics

Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3; Gangguan-Gangguan Kejiwaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Kasus Narkoba di Indonesia Naik Tajam. (2006, 25 Juni). Tempo. [Online]. Diambil tanggal 14 Mei 2009. Diambil dari http://www.tempo.co.id/index,id.php

Latipun. 2006. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press

Martono, Lydia Halina & Satyo Joewono. 2006. Modul Latihan Pemulihan Pecandu Narkoba Berbasis Masyarakat untuk Pembimbing dan Pecandu Narkoba. Jakarta: Balai Pustaka

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _. 2006. Membantu Pemulihan Pecandu Narkoba dan Keluarganya. Jakarta: Balai Pustaka

Maurus, J. 2009. Mengenali dan Mengatasi Depresi. Jakarta: Rumpun

Najati, Muhammad Utsman. 2004. Psikologi dalam Perspektif Hadist (Alhadits wa ‘ulum an-nafs). Jakarta: Pustaka Al Husna Baru

Nevid, JS. Rathus, SA, Greene, B. 2005. Psikologi Abnormal jilid 1 Terjemahan. Jakarta: Erlangga

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _. 2005. Psikologi Abnormal, Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Onder, Graziano, dkk. 2003. Depression and Adverse Drug Reactions Among Hospitalized Older Adult. Arch Intern Med, 163, 301-305.

Pratiwi, Ratih Putri. 2009. Depresi. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://siar.endonesa.net/utty/category/psychology/

Rathus, SA; Nevid, JS. 2002. Psychology and The Challenges of Life Adjustment In The New Millennium. Canada: John Willey & Sons, Inc.

Sanchez, Zila Van der Meer. 2008. Religious Intervention and Recovery from Drug Addiction. Rev Saude Publica, 42, 2, 1-7.

Saefullah. (2009, 9 Januari). Narkoba Lebih dari Sekadar Khamar. Republika. [Online]. Diambil tanggal 9 Mei 2009. Diambil dari http://www.republika.co.id/email/25179

Schneiders, AA. 1964. Personal Adjustment and Mental Health. New York: Holt, Rinehart & Winston, Inc.

Simon, Dein. 2006. Religion, Spiritulity and Depression: Implications for Research and Treatment. Journal Primary Care and Community Psychiatry, 11, 2, 67-72.

Siswono. 2007. Orang Kota Rentan Depresi. [Online]. Diambil tanggal 14 maret 2009. Diambil dari http://www.gizi.net/eng/index.shtml

Suprapto, Heru. 2009. Kesetiakawanan dalam Kelompok Sosial. [Online]. Diambil tanggal 30 Mei 2009. Diambil dari Remajahttp://duniaguru.com/index.php?option=com_content&task=view&id=306&Itemid=29)

Supratiknya. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius

Sutarti, Endang. 2008. Sekelumit Tentang Narkoba. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://prov.bkkbn.go.id/banten/article_detail.php?aid=8

Taujiri, M. Yusuf. 2008. Konsep Dasar Islam Therapy. E-book.

Walujani, Atika. (2001, 11 Maret). Ancaman Dibalik Nikmatnya Narkoba. Kompas. [Online]. Diambil tanggal 14 Maret 2009. Diambil dari http://64.203.71.11/kompas-cetak/0103/11/nasional/anca28.htm

Winarko, Inna Soesanti. (2009, 7 Januari). Depresi Bisa Menimpa Siapa Saja. Psikologi Plus, III, 58-59.

________. 2008. 94% Penduduk Indonesia Depresi. [Online]. Diambil tanggal 14 Mei 2009. Diambil dari http://id.ibtimes.com/technology/

________. 2007. Mengenal Dampak Narkoba, Selamatkan Bangsa. [Online]. Diambil tanggal 9 Mei 2009. Diambil dari http://www.makassarkota.go.id/content/view/943/9/

_________. 2008. Hikmah amal-Islami untuk Terapi Klien Narkoba (bagian kedua). [Online]. Diambil tanggal 9 Mei 2009. Diambil dari http://www.sadarnarkoba.com/