Skip navigation

BAB I

PENDAHULUAN

Individu dalam kehidupannya berinteraksi dengan lingkungan dan tergantung pada lingkungan. Individu banyak mengambil manfaat dari lingkungan. Namun, lingkungan juga bisa menimbulkan stress tersendiri bagi individu. Stress yang dialami individu yang disebabkan oleh lingkungan disebut stress lingkungan. Salah satu pendekatan untuk mempelajari psikologi lingkungan adalah stress lingkungan.

Paul A. Bell menjelaskan bahwa setelah individu mempersepsikan rangsangan dari lingkungannya, akan terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, rangsangan itu dipersepsikan berada dalam batas ambang toleransi individu yang bersangkutan yang menyebabkan individu berada dalam keadaan homeostasis. Kemungkinan kedua, rangsangan itu dipersepsikan di luar ambang toleransi yang menimbulkan stress pada individu.

Stress adalah beban mental yang oleh individu yang bersangkutan akan dikurangi atau dihilangkan. Untuk mengurangi atau menghilangkan stress, individu melakukan tingkah laku penyesuaian (coping behavior). Jika berhasil, individu akan kembali pada keadaan homeostasis, tetapi jika tidak berhasil, maka individu akan kembali pada keadaan stress lagi, bahkan kemungkinan stress itu akan bertambah besar. Jika individu merasa tidak berdaya atau tidak tahu lagi harus berbuat apa dalam menghadapi stress, akan timbul reaksi panik berkepanjangan yang bisa menjurus pada timbulnya gejala psikoneurosis (gangguan jiwa). Ada empat contoh penting dari stress lingkungan yaitu bencana alam, bencana teknologi, bising, dan commuting to work (pulang pergi untuk kerja).

Stress merupakan konsep umum pada saat sekarang. Stress digunakan untuk menjelaskan suasana hati yang buruk atau tingkah laku yang luar biasa, dan perkembangan dari teknik manajemen stress seperti meditasi, relaksasi dan sistem biofeedback. Teori-teori mengenai stress memperkenankan kita untuk menggambarkan hubungan diantara sejumlah situasi-situasi yang berbeda. Menurut sejarah, studi dalam psikologi lingkungan berorientasi pada masalah. Selama tahun 1970an, studi dimulai untuk mendemonstrasikan beberapa efek yang sama dari bencana alam dan teknologi, kebisingan, dan commuting. Akan tetapi, fenomena tersebut tidak berarti memiliki kesamaan dalam segala hal.

Stress lingkungan penting untuk dipelajari agar individu tahu dan bisa mengatasinya jika stress lingkungan timbul dalam kehidupannya sehingga individu tersebut bisa memberikan respon atau tingkah laku penyesuaian agar bisa kembali ke keadaan homeostasis. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai stress lingkungan, sumber stress, aspek dari stress dan bagaimana dampaknya, serta penanggulangannya.

BAB II

STRESS LINGKUNGAN DAN PENANGGULANGANNYA

Stress Lingkungan

    1. Definisi

Stress didefinisikan sebagai proses dengan kejadian lingkungan yang mengancam atau hilangnya kesejahteraan organisme yang menimbulkan beberapa respon dari organisme tersebut. Respons ini bisa dalam bentuk coping behavior (tingkah laku penyesuaian) terhadap ancaman. Kejadian-kejadian lingkungan yang menyebabkan proses ini disebut sebagai sumber stress (stressor) yang antara lain berupa bencana alam dan teknologi, bising, dan commuting, sedangkan reaksi yang timbul karena adanya stressor disebut respons dari stress (stress response).

Respons terhadap stress dicirikan dengan perubahan emosional, tingkah laku langsung terhadap pengurangan stress, dan perubahan psikologis seperti meningkatnya arousal. Proses ini meliputi seluruh bagian dari situasi, yaitu ancaman itu sendiri, persepsi terhadap ancaman, coping (penyesuaian) dengan ancaman, dan pada akhirnya beradaptasi dengan hal tersebut.

    1. Bagian dari Stress

Ada tiga bagian dari stress, yaitu:

      • karakteristik dari sumber-sumber stress (characteristics of stressors)

      • penilaian terhadap sumber-sumber stress (appraisal of stressors) à stress yang terjadi pada seseorang dapat meningkat tergantung pada bagaimana mereka menginterpretasikannya.

      • respons terhadap stress yang terjadi (stress response) à termasuk kecemasan, depresi, sakit, penarikan diri, dan agresi.

  1. Karakteristik dari Stressor (characteristics of stressors)

Beberapa kejadian lingkungan dapat mengancam sebagian besar orang, dan yang lainnya mengancam golongan yang lebih kecil atau bahkan hanya dialami oleh seseorang. Kemungkinan suatu kejadian menjadi penuh sterss (stressful) ditentukan oleh sejumlah faktor, termasuk karakteristik dari kejadian yang spesifik dan cara individu menilai kejadian tersebut.

Lazarus dan Cohen (1977) membuat tiga kategori sumber stress lingkungan, yaitu:

        1. Cataclysmic Events

Cataclysmic events merupakan stressor yang besar sekali dan mempunyai beberapa karakteristik. Biasanya terjadi secara tiba-tiba dan memeberikan sedikit atau bahkan tidak ada peringatan ketika kejadian itu akan datang. Stressor ini mempunyai pengaruh yang kuat bagi sejumlah besar orang dan biasanya memerlukan banyak sekali usaha untuk penyesuaian yang efektif. Stressor ini dapat berupa bencana alam, perang atau bencana nuklir, yang ke semuanya tidak dapat diprediksi dan ancaman-ancaman yang sangat kuat yang secara umum mempengaruhi segala sesuatu yang ada di sekitar bencana tersebut.

Cataclysmic events biasanya terjadi secara tiba-tiba sehingga onset yang sangat kuat dari kejadian-kejadian seperti itu pada awalnya dapat menimbulkan respons ketakutan dan kebingungan dari korban (Miller, 1982; Moore, 1958). Dalam keadaan ini, sulit untuk melakukan coping dan boleh jadi tidak ada pertolongan dengan segera. Bagaimanapun, periode berat yang mengancam seperti itu (tetapi tisak selalu) berakhir secara cepat dan membutuhkan pemulihan.

Beberapa keistimewaan cataclysmic events adalah dalam manfaatnya untuk proses coping yang berpengaruh pada sejumlah besar individu. Afiliasi dengan yang lain dan berbagi rasa serta pendapat dengan orang lain diidentifikasi sebagai gaya coping yang penting terhadap ancaman-ancaman tersebut (McGrath, 1970; Schachter, 1959). Dukungan sosial seperti ini cukup berpengaruh dalam kondisi stressful (Cobb, 1976). Dengan kata lain, keberadaan orang lain di sekitar kita untuk memberikan dukungan, berbagi rasa serta pendapat dan bentuk bantuan lain dapat mengurangi pengaruh negatif dari stressor. Karena individu dapat berbagi distress mereka dengan yang lain yang mengalami kesulitan yang sama. Beberapa studi menunjukkan bahwa ada kohesi diantara individu-individu tersebut (Quarantelli, 1978). Tentu saja, ini tidak selalu terjadi dan penduduk tidak dapat bersama-sama melawan stressor dalam waktu yang terbatas. Ketika stressor berlangsung dan tidak menemukan cara pemecahannya, maka jenis masalah yang berbeda akan timbul.

        1. Personal Stressors

Personal stressors sejenis dengan cataclysmic events, tetapi dampaknya hanya mengenai satu orang tertentu atau beberapa orang dalam jumlah terbatas dan boleh jadi tidak diharapkan. Misalnya sakit, kematian orang yang dicintai, atau kehilangan pekerjaan. Kejadian ini cukup kuat untuk menantang kemampuan adaptasi yang sama pada cataclysmic events. Seringkali besarnya, durasi dan letak dari pengaruh yang kuat pada cataclysmic events dan personal stressors adalah sama seperti kematian dan kehilangan pekerjaan.

        1. Daily Hassles

Daily hassles merupakan stressor dalam bentuk problem yang terjadi setiap hari dan berulang-ulang, serta tidak terlalu memerlukan daya penyesuaian diri yang terlalu besar. Stressor ini sifatnya stabil dan intensitas masalah yang dihadapi rendah karena sebagai bagian dari suatu rutinitas. Daily hassles mencakup antara lain ketidakpuasan dalam pekerjaan, kesulitan keuangan, pertengkaran dengan tetangga, dan masalah transportasi dalam kota. Daily hassles memang relatif ringan dibandingkan dengan jenis stressor yang lain. Efeknya bertahap, tetapi karena sifatnya kronis dapat juga membawa akibat jangka panjang yang fatal.

Satu atau lebih latar belakang stressor mungkin tidak cukup menyebabkan kesulitan penyesuaian yang besar. Namun, ketika sejumlah hal terjadi secara bersama-sama dapat menentukan dengan tepat kerugian yang lebih besar dan mungkin seserius pada cataclysmic events atau stressor personal. Pemaparan yang biasa, tetapi dalam jangka waktu yang panjang membutuhkan respons penyesuaian yang lebih.

  1. Penilaian Terhadap Stressor (appraisal of stressors)

Tingkat pandangan orang mengenai kejadian yang penuh dengan stress ditentukan melalui penaksiran/penilaian. Selama proses penaksiran, semua informasi dianggap penting, dan keputusan diambil jika kira-kira berbahaya, mengancam, dan sejenisnya. Beberapa tipe penaksiran yang berbeda mungkin terjadi. Penaksiran dilakukan terpusat pada kerusakan yang terjadi.

Ada beberapa faktor yang diidentifikasikan sebagai pengaruh penaksiran kita terhadap stressor lingkungan, diantaranya kondisi situasional, individual differences, dan variabel lingkungan, sosial, dan psikologis. Penaksiran terhadap stressor didasarkan pada sifat-sifat situasi, sikap terhadap stressor atau sumbernya, individual differences dan lain-lain.

Gaya penanggulangan (coping) atau pola kepribadian juga mempengaruhi seseorang dalam melihat permasalahan dan menentukan tipe penanggulangan yang akan dipakai. Jenis gaya penanggulangan (coping) yang dapat digunakan antara lain, represi-sensitivitas (tingkatan dimana orang berpikir tentang stressor), screening (kemampuan seseorang untuk menolak stimuli atau memprioritaskan kebutuhan), dan penolakan (tingkat seseorang untuk menolak atau menyadari suatu masalah).

Studi oleh Baum (1982) mengatakan bahwa individu yang menanggulangi secara berlebihan dengan mengamati dan memprioritaskan kebutuhan akan lebih bisa mengurangi efek kepenatan daripada orang yang tidak melakukan cara ini. Glass (1977) telah mendeskripsikan relevansi coping stress. Individu yang menerapkan pola kepribadian tipe A adalah mereka yang merespons stress dengan cara pengontrolan stress dan mempunyai treatment tersendiri.

Stress dapat mempengaruhi kesehatan antara lain tekanan darah. Apabila individu sering stress, maka individu tersebut berpeluang besar untuk mengalami penyakit jantung. Kontrol perasaan adalah mediator stress yang penting, yang dapat menyebabkan seseorang dapat mengontrol stress dan memprediksikan apa yang akan terjadi.

Mengumpulkan informasi tentang penyebab stress, dapat membantu memprediksikan langkah yang harus ditempuh. Misalnya, stress yang berhubungan dengan operasi. Pasien akan khawatir dirinya akan sembuh atau justru makin parah. Stress pasien dapat dikurangi dengan memberi harapan bagus. Studi yang lain mengungkapkan bahwa pemberian harapan yang kuat terhadap penderita stress dipercaya dapat mengurangi stress.

  1. Karakteristik Respons Stress

Ketika penaksiran sebuah penyebab stress sudah dibuat oleh individu maka respons dapat ditentukan dengan baik. Misalnya, apabila ada sebuah peristiwa yang dianggap berbahaya/mengancam, akan menimbulkan respons stress berupa ketegangan. Dengan kata lain, menafsirkan sesuatu yang negatif/bahaya, dapat menghasilkan respons yang kita siapkan lebih hati-hati. Dalam hal ini, respons stress juga melibatkan proses fisiologis.

Kadar epinefrin yang banyak pada tubuh kita dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap adaptasi dan dapat memberikan keuntungan secara biologis. Efek psikologis yang berperan antara lain, merefleksikan konsekuensi adaptasi. Calhoun (1967,1970) mengungkapkan bahwa ada sebuah periode keras kepala (refractory periode) dimana suatu individu berada pada keadaan yang sembuh dari stress. Namun apabila refactory periode dicampur dengan periode lain, justru akan menambah stress. Misalnya apabila kita sakit kepala dan kita minum obat, maka stress kita juga bertambah.

    1. Teori Stress Lingkungan (Environment Stress Theory)

Teori stress lingkungan pada dasarnya merupakan aplikasi teori stress dalam lingkungan. Berdasarkan model input proses output, maka ada 3 pendekatan dalam stress, yaitu : stress bagi stressor, stress sebagai respon atau reaksi, dan stress sebagai proses. Oleh karenanya, stress terdiri atas 3 komponen, yaitu stressor, proses, dan respon. Stressor merupakan sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya suara bising, panas atau kepadatan tinggi. Respon stress adalah reaksi yang melibatkan komponen emosional, pikiran, fisiologis dan perilaku. Proses merupakan proses transaksi antara stressor dengan kapasitas dengan kapasitas diri. Oleh karenanya, istilah stress tidak hanya merujuk pada sumber stress, respon terhadap sumber stress saja, tetapi keterikatan antara ketiganya. Artinya, ada transaksi antara sumber stress dengan kapasitas diri untuk menentukan reaksi stress. Jika sumber stress lebih besar daripada kapasitas diri maka stress negatif akan muncul, sebaiknya sumber tekanan sama dengan atau kurang sedikit dari kapasitas diri maka stress positif akan muncul. Dalam kaitannnya dengan stress lingkungan, ada transaksi antara karakteristik lingkungan dengan karakteristik individu yang menentukan apakah situasi yang menekan tersebut menimbulkan stress atau tidak. Udara panas bagi sebagian orang menurunkan kinerja, tetapi bagi orang lain yang terbiasa tinggal di daerah gurun, udara panas tidak menghambat kinerja.

Fisher (1984) melakukan sintesa pendekatan stress fisiologis dari Hans Selye dan pendekatan psikologi dari Lazarus, yang terlihat dalam bagan berikut ini :

Ada tiga tahap stress dari Hans Selye, yaitu tahap reaksi tanda bahaya, resistensi, dan tahap kelelahan. Tahap reaksi tanda bahaya adalah tahap dimana tubuh secara otomatis menerima tanda bahaya yang disampaikan oleh indera. Tubuh siap menerima ancaman atau menghindar terlihat dari otot menegang, keringat keluar, sekresi adrenalin meningkat, jantung berdebar karena darah dipompa lebih kuat sehingga tekanan darah meningkat. Tahap resistensi atau proses stress. Proses stress tidak hanya bersifat otomatis hubungan antara stimulus respon, tetapi dalam proses disini telah muncul peran-peran kognisi. Model psikologis menekankan peran interpretasi dari stressor yaitu penilaian kognitif apakah stimulus tersebut mengancam atau membahayakan. Proses penilaian terdiri atas 2 yaitu : penilaian primer dan penilaian sekunder. Penilaian primer merupakan evaluasi situasi apakah sebagai situasi yang mengancam, membahayakan, ataukah menantang. Penilaian sekunder merupakan evaluasi terhadap sumber daya yang dimiliki, baik dalam arti fisik, psikis, sosial, maupun materi. Proses penilaian primer dan sekunder akan menentukan strategi coping (Fisher 1984) dapat diklasifikasikan dalam direct action (pencarian informasi, menarik diri, atau mencoba menghentikan stressor) atau bersifat palliatif yaitu menggunakan pendekatan psikologis (meditasi, menilai ulang situasi dsb). Jika respon coping ini tidak adekuat mengatasi stressor, padahal semua energi telah dikerahkan maka orang akan masuk pada fase ketiga yaitu tahap kelelahan. Tetapi, jika orang sukses, maka orang dikatakan mampu melakukan adaptasi. Dalam psroses adaptasi tersebut memang mengeluarkan biaya dan sekaligus memetik manfaat.

    1. Macam-Macam Sumber Stress Lingkungan

            1. Bencana Alam

Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba, merusak, berhenti, secara tiba-tiba dan membutuhkan usaha yang besar untuk menanggulanginya. Bencana alam meliputi hamper semua kejadian yang terjadi di alam semesta. Tidak semuanya diakibatkan oleh perilaku manusia, namun akibatnya dapat bertambah ataupun dikurangi dengan beberapa perilaku.

Definisi tentang bencana alam termasuk seluruh keadaan cuaca yang ekstrim (panas, dingin, badai, tornado, dll). Gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, longsoran salju, juga termasuk bencana alam, tetapi dapat juga diakibatkan oleh pengolahan bumi oleh manusia.

Apabila komunitas rusak, kita menjadi tidak leluasa untuk betingkah laku dan dapat menimbulkan reaksi yang negative. Semakin banyaknya masalah yang dihadapi oleh individu, dapat mengakibatkan pikiran kita menjadi pendek. Apabila individu makin tertekan, maka semakin kehilangan kebebasan dan selalu menyendiri. Apabila bencana ini berlarut-larut, maka individu tersebut akan minder yang mengakibatkan stress. Bencana masal dapat membuat korban kehilangan semuanya, sehingga koban cenderung berperilaku apatis, susah diatur dan emosional.

            1. Bencana Teknologi

Untuk memperluas pengetahuan kita terhadap lingkungan dan adaptasi kita terhadap bahayanya telah dicapai melalui kemajuan teknologi. Peningkatan kualitas hidup, perpanjangan hidup, penguasaan terhadap penyakit, dan sejenisnya itu berdasarkan pada jaringan teknologi yang telah kita ciptakan. Mesin-mesin, struktur dan hasil karya manusia yang lain yang kita terapkan ke lingkungan tidak secara parallel dijamin bisa membantu. Umumnya mesin menyelesaikan pekerjaan atas control manusia. Bagaimanapun juga, jaringan ini bisa saja gagal, dan bisa saja aa yang salah sebab itu, kita mengalami gangguan sebuah kota. Misalnya kebocoran bahan kimia beracun dan pembuangan sampah, kebocoran bendungan dan jembatan roboh.

          • Karakteristik Bencana Tekonolgi

Pada hal-hal tertentu, bencana teknologi menunjukkan ciri yang sama dengan kerusakan alam. Bisa akut dan sangat tiba-tiba, seperti pada sebuah kebocoran bendungan dan penggelapan. Kecelakaan teknologi ini biasanya singkat dan efek buruknya pun terlalu cepat berlalu. Akan tetapi, bencana teknologi yang lain itu kronis.

Bagi seseorang yang terkena efeknya, dampak terburuk tidak langsung tampak dan tidak teridentifikasi dengan mudah, sebuah keputusan tentang hal yang tidak jelas bisa menimbulkan banyak persoalan.

Menariknya, bencana teknologi ini mungkin lebih mengancam perasaan kita tentang control daripada hanya sebuah bencana alam. Hal ini merupakan sebuah paradoks dimana bencana alam itu tidak bisa dikontrol dan kita tidak pernah berpikir untuk mengendalikannya. Bencana-bencana teknologi yang terjadi biasanya karena kurangnya control pada sesuatu yang biasanya berjalan baik.

Hal ini mungkin saja terjadi jika kita teledor, hal ini juga untuk menguji kemampuan kita mengontrol suatu kejadian di masa yang akan dating. Kejadian ini sebenarnya tidak harus terjadi , karena mesin-mesin yang diciptakan tidak didesain untuk melakukan kesalahan dan ada tanda-tanda ketika terjadi sebuah kerusakan. Jadi, kecelakaan pada pembangkit tenaga nuklir juga tidak harus terjadi, limbah beracun juga tidak seharusnya bocor. Tapi hal ini ternyata terjadi , dan hal ini dapat menimpa siapa saja. Mungkin kita juga sring berpikir dimana ledakan selanjutnya akan terjadi?, pesawat mana yang akan bertabrakan?, Limbah mana yang akan menyebar?, dan lainnya. Ketika pemikiran itu bersifat spekulatif, ini menimbulkan tafsiran yang macam-macam mengenai bencana teknologi. Kejadian ini dapat mengurangi keyakinan umum dan menimbulkan stress (Davidson, Baum dan Collins, 1982).

  1. Kebisingan

a. Definisi, Pengukuran dan Merasakan Suara

Definisi yang paling sederhana dari kebisingan adalah suara-suara yang tidak diinginkan “unwanted sound”. Komponen penting dari konsep kebisingan terdiri dari komponen psikologis dan fisik.

Pengukuran kebisingan melibatkan komponen fisik yang utama meskipun pemaknaannya penting terhadap struktur dari skala pengukurannya. Secara fisik, kebisingan muncul karena adanya perubahan tekanan udara yang sangat cepat di gendang telinga. Karena molekul tersebut ditekan secara bersamaan, tekanan positif muncul secara relative sampai pada tekanan negative ketika molekul udara berpisah. Tekanan alternative ini dapat digambarkan dalam grafik gelombang. Puncak gelombang menunjukkan tekanan negative. Tekanan alternative inilah yang mampu menggetarkan gendang telinga. Getaran tersebut dikirim ke telinga bagian tengah dan telinga bagian dalam. Kemudian dilanjutkan sampai ke otak, disana terjadilah proses persepsi dan interpretasi pada stimulus suara karena pitch dan volumenya yang tinggi dan rendah. Manusia normal dapat mendengar antara frekuensi 20 dan 20.000 Hz. Namun kebanyakan suara yang kita dengar tidak hanya satu frekuensi saja, melainkan frekuensinya bermacam-macam. Untuk ukuran tekanan biasanya digunakan decibels (dB).

Kebisingan merupakan fenomena gangguan pada lingkungan karena pengertiannya yang “tidak diinginkan”. Keyter (1970) dan Glass dan Singer (1972) berpendapat bahwa beberapa jenis kebisinagn dapat mengganggu yang lain. Ada tiga dimensi karakteristik kebisingan, yaitu volume, prediksi, dan control perceived.

Suara yang tidak terkontrol juga lebih mengganggu daripada suara yang terkontrol dengan mudah. Dari diskusi perspektif teoritis yang terdahulu, suara yang tidak terkontrol lebih stressful, mengalihkan perhatian, dan lebih sulit diadaptasi dibandingkan suara yang dapat dikontrol. Berdasarkan pendekatan behavior, suara yang kekurangan control dapat menyebabkan reaktansi psikologis dan adanya usaha untuk memperoleh kembali kebebasan bertindak dengan mencoba menegaskan pengontrolan.

Suara yang bising, tidak dapat diprediksi, dan tidak dapat dikontrol mengakibatkan rusaknya perilaku. Meskipun ketiga factor tesebut mungkin menjadi penyebab utama pengaruh kebisingan terhadap perilaku, namun sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada factor lain yang mempengaruhi sejauhmana kebisingan tersebut mengganggu. Gangguan meningkat bila:

  • Seseorang merasa suara tersebut tidak penting

  • Seseorang yang menghasilkan suara tersebut tidak peduli terhadap keselamatan orang lain yang mendengarkan.

  • Orang yang mendengar merasa bahwa suara tersebut berbahaya terhadap kesehatan.

  • Orang yang mendengarkan menganggap bahwa suara tersebut menakutkan.

  • Orang yang mendengarkan suara tersebut merasa tidak puas terhadap aspek lain di lingkungannya.

b. Sumber Kebisingan

1). Kebisingan transportasi

Kebisingan bersumber dari truk, kereta api, pesawat, dan jenis alat transportasi lainnya. Kebisingan transportasi merupakan permasalahan yang paling utama. Karakteristik kebisingan transportasi antara lain : menyebar luas da sangat keras. Ini sangat jelas terlihat dari level intensitas suaranya, seperti perkiraan intensitas suara di kawasan bandara yaitu sekitar 75-85 dB.

2). Kebisingan di tempat kerja

Kebisingan yang terjadi ditempat kerja merupakan permasalahan kedua setelah kebisingan transportasi.

c. Efek Psikologis dari Kebisingan

1). Kerusakan pendengaran

Meskipun suara yang sangat keras (150 dB) dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga ataupun merusak telinga bagian lain, bahaya untuk pendengaran dari suara yang berlebihan biasanya juga terjadi pada level intensitas suara yang lebih rendah (90-120dB) karena kerusakan sementara dan kerusakan sementara dan kerusakan sementara dan kerusakan permanen pada sel rambut halus di koklea (rumah siput) telinga bagian dalam. Kerusakan pendengaran secara umum dibagi kedalam dua jenis (Kyter, 1970) yaitu:

  1. Temporary threshold shifts (TTS)

Dimana ambang normal akan kembali dalam 16 jam setelah mendengar suara yang berbahaya bagi telinga.

  1. Noise-induced permanent threshold shifts (NIPTS)

Dimana ambang normal akan kembali dalam satu bulan atau lebih setelah penghentian suara yang berbahaya bagi telinga.

2). Kesehatan fisik

Kita meyakini bahwa suara dengan level intensitas yang tinggi mengakibatkan peningatan stress dan ketegangan. Kita memperkirakan bahwa penyakit yang berkaitan dengan stress (hipertensi dan sebagainya) dapat meningkat karena adanya kebisingan.

Banyak ahli yang melakukan penelitian tentang hubungan antara kebisingan dengan stress, namun hasilnya berbeda-beda. Karena pada dasarnya sulit untuk menghubungkan kebisingan secara langsung memberikan efek negative terhadap kesehatan fisik. Efek negative kebisingan terhadap kesehatan terjadi bersama dengan stressor lain (misalnya polusi industry, ketegangan karena pekerjaan, tekanan ekonomi, dan sebagainya) atau hanya terbatas pada mereka yang rentan terhadap gangguan psikologis (Cohen, 1977).

3). Kebisingan dan kesehatan mental

Kita meyakini bahwa suara dengan level intensitas yang tinggi mengakibatkan peningkatan akitivitas psikologis. Saat stress menjadi penyebab penyakit mental, kita dapat memperkirakan bahwa kebisingan dapat dikaitkan dengan gangguan mental (Cohen, 1977; Kryter, 1970). Banyak penelitian yang mengkaitkan antara kebisingan dengan kesehatan mental. Sama seperti kesehatan fisik, kita harus sementara menyimpulkan bahwa suara dengan intensitas tinggi berkontribusi pada penyakit mental, itu dikaitkan dengan factor lain yang mempercepat gangguan mental.

Cohen (1977) mengatakan bahwa penduduk diskitar area kebisingan menyerah dan tidak protes karena merasa tidak akan didengar oleh pemerintah.

d. Pengaruh Kebisingan Terhadap Performa

Penelitian laboratorium tentang pengaruh kebisingan terhadap performa menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Secara singkat apakah kebisingan mempengaruhi performa, menguntungkan ataupun tidak , tergantung pada jenis (dapat diprediksi atau tidak), dan intensitas suara, batas toleransi stress, dan karakteristik kepribadian individu. Secara umum data penelitian laboratorium menunjukkan bahwa dalam keadaan itu, suara 90-110 dB tidak memberikan pengaruh buruk terhadap performa mental. Untuk menjelaskan apakah kebisingan mempengaruhi performa, maka kita menggunakan pendekatan diskusi teoritis. Misalnya:

  • Teori level adaptasi

Memprediksi variasi pada performa untuk tingkat kemampuan, pengalaman dan stimilasi berbeda setiap individu.

  • The Yerkes-Dodson Law dan Arousal Approach

Mengatakan bahwa suara atau kebisingan yang meningkat akan memfasilitasi performa pada tugas yang sederhana.

  • The Environmental Load Approach

Suara yang tidak dapat diprediksi dapat mengalihkan perhatian dan mengganggu performa.

e. Kebisingan dan Perilaku Sosial

Dalam beberapa tahun terakhir ini, para peneliti mulai menyelidiki dampak kebisingan terhadap perilaku sosial (Cohen & Weinstein, 1981). Kebisingan akan mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu atraksi, altruism dan agresi.

1). Kebisingan dan Atraksi

Jarak interpersonal merupakan salah satu indikasi dari kebisingan dapat menurunkan atraksi. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa kabisingan memperbesar jarak interpersonal.

  1. Kebisingan dan Agresi Manusia

Pada penelitian suatu perilaku sosial, diperlihatkan bahwa orang lebih tidak suka menolong dalam situasi kebisingan dibandingkan dalam situasi tenang. Juga terdapat beberapa bukti bahwa kebisingan dapat meningkatkan agresivitas (Geen & O’ Neal, 1969).

Penelitian ini dan penelitian-penelitian lainnya menunjukkan bahwa kebisingan kadang-kadang dapat meningkatkan perilakunagresif, tetapi hal ini hanya terjadi bila orang merasa tidak mampu mengendalikan kebisingan tersebut dan bila mereka mempunyai alasan tersendiri untuk marah. Dengan kata lain, kebisingan bukan sebab langsung dari timbulnya agresi, tetapi dapat memperkuat kecenderungan untuk agresif yang telah ada.

  1. Kebisingan dan Perilaku Altruisme

Salah satu kesimpulannya adalah bahwa kebisingan dapat mengurangi perhatian terhadap isyarat-isyarat sosial. Demikian juga dalam suatu penilitian lapangan (Korte & Grant, 1980), pejalan kaki di jalan yang ramai mempunyai kemungkinan yang lebih kecil untuk memperhatikan objek yang tidak biasa di trotoar dibandingkan pejalan kaki di jalan yang sepi. Dengan kata lain, kebisingan dapat menyebabkan orang mempersempit fokus perhatiannya sehingga tidak menangkap isyarat sosial di lingkungan.

Penelitian yang dilakukan oleh Page menghasilkan bahwa orang yang mengalami suara yang simpel mungkin tidak memberitahukan bahwa seseorang membutuhkan bantuan. Bagaimanapun, suara menurunkan kemungkinan bahwa orang akan merespon permintaan.

Alasan untuk menekan pengaruh dari suara gaduh dalam tingkah laku membantu dalam diketahui dengan pasti, tapi kebanyakan penjelasan masih Nampak pada perhatian yang sempit, dugaan dan penjelasan berdasarkan mood.

Penelitian yang dilakukan oleh Sherrod dan Downs (1974) menyatakan bahwa pengaruh kegaduhan dalam tingkah laku altruism tergantung pada beberapa faktor, diantaranya merasakan control dari suara, volume suara, dan karakteristik stimulus adari kebutuhan seseorang akan bantuan.

  1. Pulang Pergi Kerja (Commuting to Work)

Stokols dan Novaco (1981) mencatat besarnya biaya pulang pergi kerja, dengan penekanan pada pulang pergi kerja dengan mobil. Diantara masalah yang menyebabkan ketergantungan kita pada transportasi pribadi untuk pulang pergi kerja adalah pemakaian energi yang berlebihan dan kenyamanan yang diberikan. Masalah yang lain muncul menjadi pemicu dari pulang pergi kerja dan pengaruhnya pada kesehatan fisik dan mental.

Stress pulang pergi kerja mempunyai beberapa sumber. Penelitian telah menemukan bahwa kemacetan diasosiasikan sebagai pembangkit. Kepadatan jalan yang tinggi dihubungkan dengan peningkatan laporan dari penyakit dada dan pengukuran kecepatan jantung, tekanan darah, ketidakteraturan denyut jantung, dan kulit. (Aronow et al, 1972; Michaels, 1962;Stokols et al, 1978; Taggart, Gibbons & Somerville, 1969).

Penelitian menyatakan bahwa rute pulang pergi kerja yang ruwet dapat menyebabkan tekanan darah yang tinggi dan detak jantung yang cepat (Littler, Honour, & Sleight, 1973). Stress pulang pergi kerja juga dipengaruhi suhu, suara, kelembaban, dan polusi udara (Stokols & Novaco, 1981).

Tingginya gangguan pulang pergi kerja lebih sulit dan maka dari itu mungkin lebih menyebabkan stress. Bukti-bukti menyebutkan bahwa pulang pergi kerja dapat menyebabkan stress, tapi luasnya pengalaman stress tergantung pada sejumlah faktor. Stressor yang lain dan karakteristik sumber juga penting. Design jalan, jumlah kepadatan, kompleksnya jalan, dan kondisi semua aspek dari lingkungan pulang pergi kerja yang mempengaruhi stress. Dalam hal ini, faktor individu seperti gaya coping sangat penting, dan respon yang berbeda-beda terhadap kondisi pulang pergi kerja.

Penanggulangan

Menurut psikolog Dharmayati Utoyo Lubis PhD, ada 3 upaya pencegahan yaitu primary prevention, secondary prevention, dan tertiary prevention.

  • Primary prevention adalah tindakan yang dilakukan untuk menghindari dampak buruk dari lingkungan, sebelum dampak tersebut menimpa manusia. Tindakan primer ini bahkan sudah dapat dimulai sebelum manusia itu lahir. Contohnya, mencegah kriminalitas terhadap individu yang pulang kerja malam, perusahaan mengusahakan bus khusus yang mengantar pulang.

  • Secondary prevention, tindakan yang diambil adalah untuk mengidentifikasi dan menanggulangi dampak lingkungan di awal perkembangan. Tujuannya, menghentikan atau merubah dampak buruk menjadi lebih baik. Sebagai contoh, ketika suatu daerah sudah terjangkit demam berdarah maka upaya yang dilakukan agar jumlah korban tidak bertambah banyak yiatu dengan cara pengasapan (fogging).

  • Tertiary prevention merupakan tindakan pencegahan sehingga kerusakan akibat dampak lingkungan tidak meluas. Termasuk di dalamnya adalah tindakan untuk mencegah kecacatan, dan merehabilitasi mereka yang sudah terkena dampak lingkungan. Contoh kasusnya, pemakai narkoba yang baru mengalami detoksifikasi dianjurkan menjalani program after-care, sehingga mereka memperoleh ketahanan psikis untuk tidak memakai lagi.

Sebenarnya, tindakan penanggulangan dampak lingkungan tak lepas dari dukungan sosial, sense of personal control atau perasaan bahwa individu dapat mengambil keputusan dengan melakukan action yang efektif, keyakinan diri, kepribadian yang ulet, serta pola kepribadian A atau B (laki-laki lebih reaktif terhadap stress lingkungan daripada perempuan).

Berbagai strategi coping untuk menanggulangi stress termasuk stress akibat dampak lingkungan adalah pemecahan masalah secara terencana, coping konfrontatif, mencari dukungan sosial, mengambil jarak, lari atau menghindar, kontrol diri, menerima tanggungjawab, penilaian kembali yang positif.

Najlah Naqiyah, juga memberikan beberapa solusi mengenai cara penanggulangan stress untuk korban pasca banjir di Jakarta, antara lain :

  • Mencari tahu sebab yang menimbulkan stress bagi pengungsi. Jika menilik penyebab stress pengungsi karena rasa lapar, maka perlu memberikan makan dan minum. Jika stress pengungsi karena sakit, maka perlu menyediakan obat-obatan. Jika stress mereka karena kurangnya air bersih untuk kebutuhan mandi, masak, buang air, serta mencuci maka perlu menyediakan sarana air bersih yang cukup. Pemerintah berkewajuban menyediakan sarana yang dibutuhkan oleh pengungsi. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas bagi pengungsi untuk memperoleh penghidupan yang layak. Tugas pemerintah menyiapkan sarana air bersih, makan dan minum serta obat-obatan bagi pengungsi. Masyarakat miskin yang mengungsi perlu menggunakan fasilitas tersebut untuk keselamatan hidup mereka. Jika pemerintah abai menyediakan sarana kesehatan dan sanitasi air bersih, maka pengungsi akan menderita dan terancam penyakit akibat banjir. Pemerintah selayaknya berusaha keras menyediakan kebutuhan para pengungsi dengan cepat, untuk meringankan beban hidup mereka yang kesusahan.

  • Jika pengungsi ketakutan dan khawatir kehilangan harta yang ditinggalkan di rumah mereka, maka perlu menyediakan jaminan keamanan bagi rumah mereka. Pemerintah perlu menjamin adanya rasa aman atas tempat tinggal para pengungsi yang terendam banjir. Bagaimanapun, para pengungsi khawatir dan takut meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Ketakutan yang berlebihan menimbulkan rasa stress takut kehilangan barang-barang milik mereka. Untuk itu, pemerintah perlu bersikap tegas mengerahkan aparat keamanan menjaga rumah-rumah yang ditinggal mengungsi. Koordinasi pemerintah dengan pihak kepolisian dan TNI perlu intensif. Jaminan rasa aman, akan mengurangi rasa was-was para pengungsi. Pengungsi lebih tenang apabila harta benda mereka mendapatkan kepastian rasa aman dari penjarahan.

  • Solidaritas para tokoh agama, tokoh masyarakat, para artis membantu korban banjir perlu ditingkatkan. Tokoh agama sebagai pusat pengaduan masyarakat miskin. Secara sosial, tokoh agama lebih dekat dengan keseharian ummat. Peran masjid, gereja, sekolah keagamaan, pesantresn menjadi alternative masyarakat sebagai tempat mengungsi yang aman. Dengan bahu membahu dan tolong menolong secara lintas agama, akan lebih mudah dan cepat menyalurkan bantuan bagi para pengungsi.

Memberikan yang terbaik bagi para pengungsi dengan segenap kemampuan yang kita miliki akan mengobati stress pengungsi. Mendampingi pengungsi saat kritis dan membutuhkan bantuan akan membantu mengurangi beban mereka. Cara yang ditempuh melalui kerjasama aparatur pemerintah, para tokoh agama, artis dan pengusaha, membantu kebutuhan pengungsi. Semoga pengungsi tertangani dengan baik.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa stress merupakan suatu proses dengan kejadian lingkungan yang mengancam atau hilangnya kesejahteraan organisme yang menimbulkan beberapa respons dari organisme tersebut. Kejadian-kejadian lingkungan yang menyebabkan proses ini disebut sebagai sumber stresss (stressor), sedangkan reaksi yang timbul karena adanya stressor disebut respons dari stress (stress response).

Ada tiga bagian dari stress, pertama, karakteristik dari sumber-sumber stress (characteristics of stressors). Kedua, penilaian terhadap sumber-sumber stress (appraisal of stressors). Ketiga, respons terhadap stress yang terjadi (stress response). Macam-macam sumber stress antara lain bencana alam, bencana teknologi, kebisingan dan commuting to work.

Menurut psikolog Dharmayati Utoyo Lubis PhD, ada 3 upaya pencegahan yaitu primary prevention, secondary prevention, dan tertiary prevention. Primary prevention adalah tindakan yang dilakukan untuk menghindari dampak buruk dari lingkungan, sebelum dampak tersebut menimpa manusia. Secondary prevention, tindakan yang diambil adalah untuk mengidentifikasi dan menanggulangi dampak lingkungan di awal perkembangan. Tertiary prevention merupakan tindakan pencegahan sehingga kerusakan akibat dampak lingkungan tidak meluas. Termasuk di dalamnya adalah tindakan untuk mencegah kecacatan, dan merehabilitasi mereka yang sudah terkena dampak lingkungan.

  1. SARAN

Lingkungan sangat mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir manusia. Dalam kehidupannya, manusia selalu berinteraksi dan tergantung dengan lingkungan. Keadaan lingkungan yang kondusif akan membuat manusia nyaman dan selalu dalam keadaan homeostasis. Namun, lingkungan terkadang memberikan efek negatif pada manusia yang dapat menyebabkan stress. Stress tidak dapat dihindarkan. Namun demikian, dengan memahami stressor dan stress itu sendiri, kita dapat meminimalkan stress yang tidak diperlukan, dan membuat diri kita lebih sehat , baik secara fisik , maupun mental. Untuk itulah kita perlu belajar untuk hidup bersama dengan stress. Beberapa upaya yang dapat dilakukan manusia untuk meminimalisasikan munculnya stress antara lain dengan beristirahat cukup, berolahraga teratur, rekreasi, menjaga menu dan pola makan. Namun, apabila telah terjadi stress, maka dapat ditanggulangi dengan cara coping yaitu dengan coping masalah dan coping emosi.

KASUS

Berebut Air di Sendang Senjoyo

Sadi Martono (54), petani Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, masih belum pulih benar dari kekagetannya. Meski beberapa kali kesulitan air saat kemarau, baru tahun ini dia sampai menyaksikan serombongan petani dari desa lain nekat membawa godam dan palu, berniat membobol pintu air. Aliran air dari Sendang Senjoyo sudah dianggap tidak lagi terbagi adil.

Percekcokan berlangsung sengit antarpetani dari Tingkir Lor dan Kalibening (Salatiga) dengan Tingkir Tengah (Salatiga), serta sejumlah desa di Kecamatan Suruh (Kabupaten Semarang). Pasalnya, awal Agustus lalu, petani dari Kalibening berniat menjebol pintu air Aji Awur di Desa Tegalwaton.

Pintu air itu berfungsi mengatur aliran air dari Bendung Senjoyo ke arah timur, yaitu ke Tingkir Tengah dan sejumlah kelurahan di Kecamatan Suruh, serta arah utara menuju Tingkir Lor dan Kalibening.

Kondisi ketika itu sempat memanas. Kedua kubu saling menuding pihak lain mencurangi pembagian air karena merasa aliran air yang menuju lahan mereka terlalu sedikit. Beruntung, konflik berhasil diredam. Mereka berembuk bersama kepala desa setempat dan sepakat pembagian air dilakukan setiap tiga hari.

Sekarang sudah lebih baik. Setiap petani sudah bergantian mendatangi pintu air setiap pukul 15.00. Tahun-tahun terakhir air memang semakin sulit,” kata Sadi Martono, Senin (8/9).

Aliran air Sendang Senjoyo yang berada di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, mengalir melalui tiga bendungan: Isep-isep, Watukodok, dan Senjoyo. Mata air ini juga dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Salatiga, PDAM Kabupaten Semarang, PT Damatex, dan Yonif 411 Salatiga.

Jauh sebelumnya, air Sendang Senjoyo begitu melimpah. Kebutuhan air bagi petani untuk mengairi sawah dan keperluan sehari-hari penduduk sekitar sangat mencukupi.

Namun, persoalan timbul ketika debit airnya terus turun hingga semakin parah 2-3 tahun terakhir. Hal ini memicu konflik horizontal antarpetani karena kebutuhan air mereka tetap, tetapi alirannya semakin sedikit. Terlebih lagi mereka harus berbagi dengan perusahaan-perusahaan yang memasang pipa ke mata air.

Petani sering mengadu kesulitan air kepada saya. Perebutan air masih terjadi antarpetani karena itu yang paling tampak. Mereka mau marah kepada orang-orang ’atas’ ya enggak berani,” kata Kepala Desa Tegalwaton Agus Suranta.

Data di Ranting Pengairan Kecamatan Tengaran, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang, menunjukkan, pada tahun 1995 debit air Sendang Senjoyo saat kemarau masih mencapai 1.115 liter per detik. Akan tetapi, kini hanya berkisar 838 liter per detik, padahal kebutuhan air petani relatif tetap karena alih fungsi lahan di daerah ini tak terlalu pesat.

Dari debit air yang tersisa rata-rata 838 liter per detik, sebanyak 358 liter per detik harus direlakan petani untuk diambil pengguna besar. PDAM Kota Salatiga menyedot 278,5 liter per detik, PDAM Kabupaten Semarang 11,8 liter per detik, PT Damatex dan Timatex 53 liter per detik, dan Yonif 411 Salatiga 11,8 liter per detik.

Menurut Kepala Ranting Pengairan Kecamatan Tengaran Dalwandi, penurunan debit ini disebabkan oleh pengambilan air dalam skala besar secara terus-menerus oleh sejumlah pemakai besar. Kondisi ini diperparah dengan pengambilan air bawah tanah menggunakan sumur bor oleh sejumlah industri yang berada tak jauh dari Senjoyo.

Ironisnya, pengurasan sumber air itu tidak diimbangi dengan konservasi air, baik di hutan sekitar Sendang Senjoyo maupun Lereng Merbabu yang menjadi daerah tangkapan air. ”Kami pernah mengajak PDAM Salatiga yang menjadi pengguna terbesar ikut berpartisipasi, tetapi kurang mendapat tanggapan. Begitu juga saat kami meminta pengurangan pengambilan air,” kata Dalwandi.

Sekretaris Daerah Kota Salatiga yang juga Badan Pengawas PDAM Kota Salatiga Sri Sejati mengakui bahwa Senjoyo masih menjadi salah satu sumber utama pengambilan air. Namun, PDAM Salatiga juga masih mencoba mencari sumber air selain Senjoyo. ”Kalau untuk konservasi, akan kami coba bahas lebih jauh,” kata Sri Sejati.

Kasus Umbul Wadon

Persoalan serupa dihadapi masyarakat pada empat kecamatan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menggantungkan hidup dari keberadaan sumber mata air Umbul Wadon di hulu Sungai Kuning. Jika 20 tahun lampau mereka bisa dengan mudah memperoleh air yang melimpah, kini justru sebaliknya.

Sekarang ketersediaan air sangat terbatas. Air memang masih mengalir dari Umbul Wadon. Namun, sejak beberapa tahun terakhir para petani di Kecamatan Cangkringan, Ngemplak, Ngaglik, dan Pakem kian kesulitan mendapatkan air untuk ”membasahi” sawah-sawah mereka.

Kebetulan atau tidak, salah satu sumber berkurangnya pasokan air melalui Sungai Kuning tersebut akibat Umbul Wadon juga dimanfaatkan oleh tiga perusahaan air minum untuk masyarakat di Sleman dan sebagian Kota Yogyakarta. Ketiga perusahaan dimaksud adalah Tirta Dharma Sleman, Tirta Marta Kota Yogyakarta, dan Arga Jasa.

Dampaknya memang tidak dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar Umbul Wadon atau yang mengonsumsi air setiap hari, tetapi oleh petani di daerah hilir. Mereka merasakan volume air yang masuk ke sawah tidak sebanyak dulu lagi.

Tahun ini, misalnya, puluhan petak sawah kecil-kecil di Dusun Grogolan, Kecamatan Umbulmartani, yang lokasinya lebih rendah (mirip terasering) dan dekat dengan Kali Kuning pun meranggas. Bahkan, ada beberapa petak tanaman padi yang dibiarkan kering begitu saja tanpa dipanen.

Sawah-sawah itu dulunya selalu basah, termasuk saat kemarau. Bahkan, bisa dikatakan jenis tanahnya gembur, seperti lumpur,” ujar Sudiharjo (60), petani dari Dusun Grogolan.

Notowiharjo (72), petani yang lain, menuturkan bahwa mereka masih harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan air. Masyarakat menyebut uang itu bukan sebagai ”bayaran”, melainkan lebih pada istilah ”biaya mengisi administrasi”.

Uang itu diberikan kepada penjaga pintu air atau dam di daerah hulu. Penjaga air itulah yang nantinya mengalirkan air ke saluran atau parit menuju lahan milik petani. Cara seperti ini berlangsung sekali dalam sepekan dan bergantian dengan petani di daerah lain.

Di Kali Kuning terdapat banyak dam. Dari Umbul Wadon hingga Dusun Grogolan, yang berjarak lebih dari 6 kilometer, misalnya, terdapat 18 dam berukuran kecil atau biasa dikenal masyarakat sekitar dengan embung. Menurut petani, embung-embung ini sengaja dibangun untuk mengendalikan aliran air.

Uang yang harus dibayar mencapai Rp 50.000. Air akan mengalir selama 12 jam, mulai dari petang hingga pagi. Air itu akan dipakai bersama-sama oleh petani yang menempati bulak tertentu,” kata Notowiharjo.

Menyusutnya air saat kemarau jelas berpengaruh terhadap produksi. Lahan milik Sudiharjo, misalnya, saat airnya melimpah bisa menghasilkan 7 kuintal padi kering, sedangkan saat ini hanya 3 kuintal karena sebagian di antaranya terserang hama.

Data dari Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3BA) Kabupaten Sleman menunjukkan, debit air yang masuk ke PDAM Tirta Dharma saat ini mencapai 81 liter per detik, Tirta Martha 75,8 liter, dan Arga Jasa 15 liter per detik.

Kepala P3BA Sleman Widi Sutikno membenarkan debit air Umbul Wadon memang berkurang, terutama saat kemarau. Dalam pengukuran terakhir, debit air hanya 349,7 liter per detik. Adapun pengukuran satu bulan sebelumnya masih 376 liter per detik.

PDAM Tirta Dharma Sleman membantah tudingan bahwa mereka berusaha memperbesar debit air yang masuk ke wilayahnya. Kepala Pengawas Internal PDAM Tirta Dharma Sleman Dwi Nurwata mengatakan, sejak awal debit air tidak berubah, tetap 80 liter per detik.

Saat ini PDAM Tirta Dharma memperoleh air dari dua mata air, yakni Umbul Wadon dan Tuk Dandang di Pendowoharjo. Selain itu, mereka juga mengandalkan 17 sumur dangkal dan 15 sumur dalam.

Selama ini pemakaian Umbul Wadon secara bersama-sama bukan tidak menimbulkan konflik. Tahun 2004 lalu, misalnya, ratusan warga lereng Merapi berusaha meminta kembali pasokan air minum dan irigasi yang dihentikan pihak tertentu. Mereka juga meminta penghitungan ulang pemanfaatan air yang ada.

Kini, untuk melindungi sumber-sumber air itu, pemerintah daerah tengah mencoba melakukan konservasi di sekitar Merapi. Selain penghijauan, mereka juga berupaya memperbanyak dam. Namun, masyarakat tak bisa lagi menunggu terlalu lama. (Sumber: Kompas, 9 September 2008).

PEMBAHASAN KASUS

Stres lingkungan yang ditimbulkan kasus di atas merupakan stres lingkungan karena bencana alam berupa kekeringan yang melanda beberapa daerah seperti disebutkan pada kasus di atas. Menurut teori stres lingkungan, ada dua elemen dasar yang menyebabkan manusia bertingkah laku terhadap lingkungannya. Elemen pertama adalah stressor dan elemen kedua adalah stress itu sendiri. Stressor adalah elemen lingkungan (stimuli) yang merangsang individu. Stres (ketegangan, tekanan jiwa) adalah hubungan antara stressor dengan reaksi yang ditimbulkan dalam diri individu.

Dalam kasus di atas yang menjadi stressor adalah kekeringan. Akibat dari kekeringan yang panjang, debit air di Sendang Senjoyo menurun. Hal ini menimbulkan stres bagi para petani yang mengairi sawahnya dengan air dari Sendang Senjoyo karena sawah mereka terancam kering. Kondisi stres yang berat menimbulkan reaksi dari para petani yang berupa tindakan anarkis. Mereka nekat membawa godam dan palu, berniat membobol pintu air. Bahkan sempat terjadi percekcokan antar petani. Aliran air dari Sendang Senjoyo sudah dianggap tidak lagi terbagi adil menurut mereka. Mereka menyalahkan pengelola debit yang dianggap tidak adil dalam pembagian air. Padahal kenyataannya, debit air Sendang Senjoyo memang menurun karena kemarau. Karena dipengaruhi oleh keadaan stres yang berat, para petani tidak lagi dapat membendung amarahnya dan berpikir rasional.

Menurut teori kelebihan beban (Environmental Load Theory) yang dikemukakan oleh Cohen (1977) dan Milgram (1970) bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalam mengolah stimulus dari lingkungannya. Jika stimulus lebih besar dari kapasitas pengolahan informasi maka terjadilah kelebihan beban (overload) yang mengakibatkan sejumlah stimuli harus diabaikan agar individu dapat memusatkan perhatiannya pada stimuli tertentu saja. Kalau kelebihan kapasitas ini terlalu besar sehingga individu sama sekali tidak mampu lagi menangani dalam kognisinya maka individu itu bisa mengalami berbagai gangguan kejiwaan seperti merasa tertekan, bosan, dan tidak berdaya.

Musim kemarau yang panjang menyebabkan kekeringan di berbagai daerah di Semarang. Sebagai akibatnya debit Sendang Senjoyo yang selama ini menjadi sumber irigasi bagi petani-petani di beberapa daerah seperti Semarang dan Salatiga menurun. Para petani jadi kesulitan mengairi sawahnya. Petani jadi terancam gagal panen karena hal tersebut. Pikiran-pikiran semacam itu membayangi petani dan menjadi stimulus bagi petani yang menimbulkan stres. Para petani mendapatkan stimulus semacam ini secara terus menerus beberapa tahun terakhir sejak debit mulai turun. Stimulus ini melebihi kapasitas pengolahan informasi sehingga terjadilah overload. Karena sudah diluar batas maka para petani menjadi tertekan, bingung dan amarah sudah tidak dapat lagi dibendung. Akibatnya, para petani nekat ingin membobol pintu air.

Menurut Teori Kendala Tingkah Laku (The Behavior Constraint Theory) yang dikemukakan oleh Bhrem, bahwa jika manusia mendapat hambatan terhadap kebebasannya untuk melakukan sesuatu ia akan berusaha memperoleh kebebasannya kembali. Reaksi ini disebut psychological reactance.

Seperti pada kasus di atas para petani merasa kebebasannya bertani terhambat karena kurangnya air untuk mengairi sawah. Mereka berpikir ada ketidakadilan dalam pembagian jatah air dan sebagai reaksinya (psychological reactance )mereka berusaha untuk mendapatkan keadilan, tetapi dengan cara yang salah, yaitu ingin membobol pintu air. Hal ini juga dikarenakan cara berpikir para petani yang berebut air yang linier. Mereka menganggap sawah kekurangan air karena ada ketidakadilan dalam pembagian jatah air sehingga reaksi mereka mendatangi Sendang Senjoyo untuk membobol air. Menurut teori cara berpikir yang dikemukakan oleh H.L. Leff bahwa ada dua macam cara orang berpikir dalam menanggapi rangsang dari lingkungan. Pertama adalah cara berpikir linier dan cara berpikir sistem. Perbedaan cara berpikir ini menyebabkan perbedaan dalam reaksi terhadap lingkungan. Jika para petani berpikir sistem pasti reaksinya pun akan berbeda. Jika mereka berpikir dengan cara berpikir sistem, mereka akan melihat kesulitan air karena musim kemarau, karena penggunaan oleh banyak pihak, dan bukan semata-mata karena ketidakadilan pengelola Sendang. Maka reaksi yang timbul pun bukan reaksi anrkis seperti pada kasus di atas.

Dapat disimpulkan bahwa reaksi dari para petani yang cukup anarkis dengan ingin membobol pintu air disebabkan beban stres yang berat dan melebihi batas karena kekurangan air dan kemungkinan gagal panen yang berdampak pada kerugian.

Solusi untuk kasus di atas adalah dari semua pihak yang menggunakan Sendang Senjoyo untuk keperluan masing-masing harus bertemu dan berkumpul untuk membicarakan masalah ini. Pertama dari pihak pengelola menerangkan bahwa debit ais Sendang Senjoyo memang mengalami penurunan beberapa tahun terakhir dengan menjelaskan sebab-sebabnya agar kesalahpahaman dapat terhindarkan. Kemudian dari pihak yang menggunakan air Sendang Senjoyo dalam jumlah besar harus mengusahakan memiliki alternatif sumber lain agar tidak sepenuhnya mengambil dari Sendang Senjoyo. Dari semua pihak diharapkan mau bekerjasama untuk membangun konservasi air di hutan dekat Sendang Senjoyo agar pengurasan air dalam skala besar ini tidak lagi menurunkan debit air karena diimbangi dengan adanya konservasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ciremai, anak. 2008. Makalah Pendidikan Tentang Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau dari Pendekatan Stress Lingkungan. Diakses pada : Jum’at, 10 oktober 2008. http://anakciremai.blogspot.com/2008/08/makalah-ilmu-pendidikan-tentang-c.html

Dial, 2008. Fenomena Hunian pada Masyarakat Kota. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://de-arch.blogspot.com/2008/09/fenomena-hunian-padamasyarakat-kota.html

Fadilla, Avin. 1999. Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/hidupdikota_ avin.pdf

Komunitas Semarang. 2007. Masalah kemacetan Kota Semarang. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://tarnus6.wordpress.com/2008/07/01/konsep-kotadalam-kota-di-kota-semarang/

Sarwono, Sarlito W. 1995. Psikologi Lingkungan. Yogyakarta: PT Grasindo.

Soendjojo, RahmithA.—-. Tergilas Stress in the city. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://www.tabloidnakita.com/artikel2.php3/edisi=07319&rubrik=topas

Tahrir, Hizbut. 2008. Depresi Sosial : Gejala dan Akar Penyebabnya. Diakses pada : Minggu, 12 Oktober 2008. http://hizbut-tahrir.or.id/2008/07/03/depresi-sosial-gejala-dan-akar-penyebabnya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: